Recents in Beach

Liqo di Waktu Luang atau Meluangkan Waktu untuk Liqo?

Ilustrasi

Pertama kali saya mengenal liqo/usar/halaqah/mentoring saat duduk dibangku kelas 2 SMK, umur saya kala itu masih 17 tahun. Masih labil? Iya masih labil. Awalnya hanya sekedar duduk melingkar dan mengaji, lama kelamaan mulai muncul beberapa materi, tentang bagaimana kita mengenal dan mencintai Islam.

Kemudian ketika merantau ke Tangerang (dari Lampung) otomatis saya pindah halaqah. Ketika halaqah di tanah rantau ini saya belajar banyak dari teman-teman satu halaqah dari berbagai latar belakang. Ada yang pekerja pabrik, pekerja bank, mahasiswa, guru, dan beberapa lainnya. Masing-masing dari kita biasanya membawa pengalaman sendiri, ketika di halaqah pengalaman itu di-share maka wawasan kita pun makin banyak bertambah.

Tidak hanya membahas dan mendapatkan materi tentang ke-Islaman. Kami juga membahas tentang agenda-agenda dakwah diluar lingkaran. Tentang usaha keuangan mikro yang ingin kita dirikan untuk membantu pedagang-pedagang muslim, sampai tentang regenerasi, dan lain-lain.

Sampai suatu ketika saat melingkar dalam halaqah ada pembahasan yang menurut saya tidak hanya terkait isu masa kini, tapi tentang isu masa depan juga. Yaitu Urgensi halaqah dan prioritas halaqah dibanding agenda lain. Sebelum diskusi saya teringat sering sekali orang-orang tidak datang halaqah karena pergi sama temennya (yang tujuannya cuma jalan-jalan), syuro, ada agenda organisasi, dan lain-lain. 

Lalu murabbi bertanya pada kami, "ketika halaqah dan syuro itu bentrok mana yang kamu pilih?"

Ada yang jawab 'halaqah'. Ada yang jawab 'syuro'. Tak ada sepakat. Lalu murabbi kami menjawab 'halaqah'. Kenapa? Padahal syuro juga kan urgensi dakwah.

Ketika kita berdakwah, ketika kita merapatkan agenda dakwah, memang itu untuk umat dan kepentingan Islam kedepannya. Tapi, kata murabbi waktu itu, ada yang lebih penting dari itu semua, yaitu liqo/halaqah/mentoring. Jika diibaratkan halaqah ini seperti penjagaan kita dari dunia luar yang kejam, juga adalah sarana men-charge iman kita, malah bisa jadi menambah wawasan untuk menebarkan Islam pada umat. Dia adalah telaga tempat kita mengambil bekal untuk perjalanan amal-amal dakwah kita diluar sana. 

Nah, itulah kenapa halaqah menjadi penting. Ketika kita diluar berkoar-koar membela Islam, bekerja untuk memenangkan dakwah Islam, tapi tidak didukung dengan halaqah yang rutin maka tidak ada yang menjamin kalau kita bisa saja lalai dalam melakukan hal-hal wajib yang Allah perintahkan. Dan nafas kita tidak bisa panjang untuk menyelesaikan amal-amal dakwah diluar sana. 

Dakwah diluar sana penting. Karena kita adalah da'i sebelum apapun. Tapi halaqah adalah sarana kita untuk lebih baik dalam dakwah tersebut, mengais ilmu sebanyak-banyaknya dari murabbi dan saling menyemangati penuh ukhuwah bersama rekan halaqah. 

Karena itulah murabbi katakan bahwa halaqah ini juga penting untuk masa depan yang dapat menjaga semangat dakwah kita. Bagaimana halaqah ini menanam bibit-bibit para pemuda Islam yang tangguh dan mampu bertahan dalam dakwah. Halaqah ini juga memberikan ilmu-ilmu yang tidak kita dapat di-kesibukan kita diluar sana. 

Pernah saya membaca tulisan tentang halaqah dan pentingnya halaqah. Saya sedikit lupa penulisnya. Ada satu kalimat yang begitu menyemangati, "mentoring adalah tentang peradaban kita kedepannya." Yap tentang peradaban. Peradaban para mujahid-mujahid kedepannya, dimana di halaqah mereka menimba ilmu, saling menjaga satu sama lain, dan saling mengingatkan satu sama lain. Halaqah adalah pegangan kita ketika dunia luar mulai tidak bisa bersahabat. Dia telaga yang akan selalu kita bawa sebagai bekal perjalanan dan perjuangan dakwah kita. 

Maka kawan, harus mengurutkan prioritas liqo diatas prioritas yang tidak begitu urgent lainnya. Mari luangkan waktu untuk liqo, bukan liqo di waktu luang.

"Ini bukanlah sekedar lingkaran, tapi lingkaran ini dipenuhi dengan cinta yang ditaburi doa rabithah setiap hari, meminta pada Allah agar selalu menguatkan ikatan ini. Cinta yang ada bukan sekedar cinta karena persoalan dunia, tapi cinta yang ada adalah karena Allah semata"


*
Tigaraksa, ditemani gemericik hujan menanti sahabat di Markas Dakwah Kabupaten Tangerang.