Recents in Beach

Tiga Usia Manusia

Ilustrasi

Oleh: Aunur Rofiq Saleh Tamhid, Lc

Lebih dari seratus tahun yang lalu seorang lelaki membaca koran pagi lalu terkejut campur takut karena membaca namanya tertulus di kolom berita orang-orang yang meninggal dunia.

Koran tersebut mengabarkan berita kematiannya karena salah. Berita ini membuatnya hampir kehilangan kesadaran.. Saya di sini atau di sana?

Setelah kesadarannya pulih sepenuhnya, ia berfikir mengenai komentar orang-orang tentang dirinya, lalu ia membaca dalam ucapan bela sungkawa: “Raja dinamit telah meninggal dunia”. Ia juga disebut sebagai “pedagang kematian”. 

Ketika membaca sebutan-sebutan tersebut, ia bertanya-tanya di dalam hati, apakah ini yang akan dikenang orang-orang tentang dirinya? Kemudian ia memutuskan untuk mengubah sebutan-sebutan tersebut. Sejak hari itu ia mulai merintis dan peduli dengan masalah perdamaian. Orang tersebut adalah Alfred Nobel yang sekarang dikenal dengan hadiah Nobel perdamaiannya.

Pesan: Minimal manusia punya tiga usia. Pertama, usia biologis yang dijalaninya di dunia ini. 

Kedua, usia historis, yaitu usia “sambungan” di dunia setelah usia biologisnya berakhir. Tetapi karena ia memiliki banyak amal kebaikan yang dirasakan banyak orang setelah kematiannya maka amal-amalnya itu terus bisa dinikmati orang. Usia kedua ini bisa lebih panjang dari usia pertama, bisa mencapai ribuan tahun tergantung amal-amal kebaikannya.

Ketiga, usia keabadian di akhirat kelak. Usia ini paling panjang karena ia akan hidup abadi selamanya. Jika bahagia maka ia akan bahagia selamanya, jika sengsara maka ia akan sengsara selamanya. 

Ketiga usia ini harus menjadi perhatian utama karena saling berkaitan erat.

Usia biologis sangat singkat, rata-rata usia umat Nabi Muhammad saw di seputaran angka 60-70 tahun. Sabda Nabi saw:

“Umur umatku antara 60 tahun hingga 70 tahun”. (Sunan Tirmidzi 2331)

Umur biologis ini sangat penting dan menentukan kelanjutan pada usia historis dan usia keabadian. Karena itu, harus dimanfaatkan secara optimal. Allah memberi kesempatan, sarana dan cara untuk mengoptimalkan usia biologis agar bisa memperpanjang usia historis, kepada semua orang melalui beberapa hal diantaranya sebagaimana disebutkan Nabi saw:

“Apabila manusia meninggal dunia maka terputus amalnya kecuali dari tiga hal: Shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang medoakannya”. (Muslim 1631)

Shadaqah jariyah bisa dilakulan oleh semua orang, baik orang kaya atau pun miskin, bukan hanya monopoli orang kaya. Dalam hal ini Allah menegakkan keadilan-Nya dengan menilai shadaqah berdasarkan nilai pengorbanannya bukan nilai nominalnya. Sabda Nabi saw:

“Satu dirham mengalahkan seratus ribu dirham”. Para sahabat bertanya, “Bagaimana bisa terjadi?”. Nabi saw menjawab: “Ada seorang lelaki punya dua dirham lalu ia bersedekah dengan separuhnya. Sementara ada orang lelaki lain punya harta banyak lalu ia bersedekah dengan seratus ribu dirham dari hartanya itu”. (Sunan an-Nasa’i 2527 dan Musnad Ahmad 8929)

Ilmu yang bermanfaat bukan hanya ilmu agama tetapi semua ilmu yang memberi manfaat bagi umat manusia. Peluang ini juga dimiliki oleh siapa saja yang mengajarkan ilmu yang bermanfaat, terutama para guru, dosen, pendidik, ilmuwan dan para ulama. 

Para Nabi, para sahabat Nabi, dan para ulama adalah orang-orang yang memiliki usia historis sangat panjang. Setiap kali hadis dikutip maka perawi dan setiap orang yang terlibat dalam pencatatan dan periwayatannya memiliki usia historis yang panjang. Setiap kali pendapat seorang ulama dikutip maka ulama tetsebut dan orang yang terlibat dalam penyebaran ilmu tersebut bisa memiliki usia historis yang panjang.

Karena itu, para ulama ini seolah-olah masih hidup bersama kaum muslimin di sepanjang masa karena mereka memiliki usia historis yang sangat panjang.

Usia biologis Nabi saw dan para sahabatnya hanya sekitar 60 tahun tetapi usia historisnya hingga hari kiamat selama Islam masih ada di muka bumi.

Usia biologis imam Syafii hanya 54 tahun (150 H - 204 H) tetapi usia historisnya hingga sekarang dan nanti selama kajian fikih dan hadis masih ada.

Usia biologis imam Bukhari hanya 62 tahun (194 H - 256 H) tetapi usia historisnya hingga sekarang dan nanti selama hadis masih dibaca dan dikaji.

Usia biologis imam ath-Thabari hanya 86 tahun (224 H - 310 H) tetapi usia historisnya hingga sekarang dan nanti selama kajian tafsir masih dilakukan.

Anak saleh yang mendoakannya, termasuk anak cucu selama kesalehan bisa terus terwariskan. Juga bukan hanya anak biologis tetapi juga anak ideologis atau binaan yang terus menyebarkan ilmu yang didapatnya secara turun temurun dan mendoakan gurunya. Karena dalam hal ini berlaku sistem multi level pahala.

Usia historis juga bisa diwujudkan melalui prakarsa dan perintisan kebaikan. Bila seseorang bisa memprakarsai atau menginisiasi suatu kebaikan di tengah masyarakat lalu kebaikan itu terus berkembang dan diwariskan turun temurun maka sang pemrakarsa dan inisiator bisa memiliki usia historis yang panjang. Sabda Nabi saw:

“Siapa yang memprakarsai kebaikan lalu kebaikan itu dilaksanakan maka ia mendapat pahalanya dan mendapat pahala orang yang melaksanakannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Barangsiapa memprakarsai keburukan lalu keburukan itu dilaksanakan maka ia mendapat dosanya dan dosa orang yang melakukannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun”. (Sunan Ibni Majah 203)

Usia historis juga bisa didapat melalui jihad di jalan Allah lalu terbunuh sebagai syahid. Firman Allah:

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki”. (Ali Imran: 169)

Karena perjuangan dan pengorbanan mereka terus menginspirasi perjuangan dan menggelorakan semangat jihad di jalan Allah di kalangan kaum muslimin sepanjang masa.

Usia historis juga bisa dicapai melalui dakwah. Sabda Nabi saw:

“Sesungguhnya salah seorang diantara kalian berbicara dengan suatu perkataan yang diridhai Allah, ia tidak mengira sampai sejauh mana pengaruh ucapan itu, lalu dengan sebab perkataan itu Allah menulis keridhaan-Nya kepadanya hingga hari ia bertemu dengan-Nya. Dan sesungguhnya salah seorang diantara kalian berbicara dengan suatu perkataan yang dimurkai Allah, ia tidak mengira sampai sejauh mana pengaruh ucapan itu, lalu dengan sebab perkataan itu Allah menulis kemurkaan-Nya kepadanya hingga ia bertemu dengan-Nya”. (Sunan at-Tirmidzi 2319, lihat juga Shahih al-Bukhari 6478)

Usia keabadian harus mendapat perhatian utama, karena jika kita lalai darinya bisa membuat kita menyia-nyiakan usia pertama yang sangat menentukan. Karena itu, Allah mengenalkan di banyak ayat-Nya tentang kehidupan di usia keabadian ini, agar kita tidak melupakannya. Nabi saw menyebut orang yang perhatiannya selalu tertuju kepada usia keabadian dan mempersiapkan diri untuk hidup di sana, sebagai orang yang cerdas. Sabda Nabi saw:

“Orang yang cerdas adalah orang yang mempersiapkan dirinya dan beramal untuk hari setelah kematian, sedangkan orang yang bodoh adalah orang yang jiwanya mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah”. (Musnad Ahmad 17123).