50 Sahabat Pra Pengkaderan Darul Arqam

Ilustrasi
Fase pembinaan di Darul Arqam, kami cermati tidak lebih dari dua tahun. Dan agak sulit menemukan dalam sirah secara khusus tentangnya, kecuali apa yang disebutkan terkait masuk Islamnya sebagian sahabat, dan apa yang mengiringi dakwah Islam ini dari suatu peristiwa. 

Ringkasan periode ini sebelum Darul Arqam dimulai, sebagai berikut: 

Penyaringan/Seleksi 

Dakwah belum muncul di kanal-kanal umum, di pasar-pasar bangsa Arab, bahkan hingga ke Ka’bah yang mulia, melainkan hanya sepenuhnya ada di majelis-majelis khusus di kalangan orang-orang yang memang sudah dilabeli sebagai orang baik, dan Rasul Shallallaahu alaihi wa sallam serta sahabat-sahabat terdahulu beliau menatap pribadi-pribadi mereka dalam hal kekuatan, bakat, dalam kemampuan menjaga kerahasiaan dan menutupi persoalan. 

Penyaringan yang ketat ini begitu tampak peran besarnya dalam memilih kader kader utama di tangan Abu Bakar radhiallahu anhu dan yang melekat padanya kebaikan. Di tangannya, masuk Islamlah enam orang diantara sepuluh sahabat yang dijanjikan surga. Merekalah yang kelak menjadi kader-kader untuk memikul kekhilafahan agung, sebagaimana Islamnya beberapa yang lain selain mereka. Seleksi ini adalah dampak dari tarbiyah nabawiyah yang agung, yang terlihat pada diri Abu Ba kar Ash Shidiq radhiallahu anhu, yang menyertai sejak dini di usianya, sebagaimana telah kami ceritakan sebelumnya. 

Kesertaan/Ketergabungan 

Fenomena yang tampak pada hasil seleksi, juga ada pada kesertaan dan ketergabungan. Orang yang mendengar Islam, atau yang mencari jejak Nabi yang ditunggu, atau yang sekadar mendengar berita, semua menuju Makkah untuk masuk Islam. Dan siapa yang fitrahnya lari dari menyembah berhala dan patung, atau yang realitas ritual penyembahan berhala membuatnya terbelenggu, lalu segera ingin menghirup udara kebebasan lewat prinsip-prinsip dasar agama baru ini, atau melihat manusia telah terinjak-injak kemanusiaannya di bawah ayakan paranormal danisme-isme jahiliyah, mereka akan berusaha untuk menghancurkan realita ini. Berdasar contoh-contoh ini, ia datang hendak bergabung dengan Islam dan mengenalnya lebih dalam. Inilah contoh-contoh yang tinggi di masyarakat, seperti contoh-contoh selektifitas. 

Ada pemisah yang sangat jauh antara apa yang mereka rasakan dengan prinsip nilai jahiliyah hingga kemudian ingin menentangnya, dia mendapati di dalam Islam sesuatu yang menyelamatkannya dari kegelapan menuju cahaya. Ada juga mereka yang bergabung didalam masyarakat Islam baru atas dorongan pribadi, dan tidak lebih sedikit dari mereka yang terseleksi dengan karakter-karekater tertentu di masyarakat untuk masuk ke dalam agama ini. 

Kerahasiaan 

Namun, dua fenomena di atas; seleksi dan kesertaan, memiliki keterikatan yang sangat kuat dengan kerahasiaan. Bahasan masalah ini adalah tentang bagaimana masuk Islamnya (mereka) tanpa hiruk pikuk, kecuali di sebagian waktu saja, dan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam yang berupaya keras mendidik contoh-contoh ini di atas pemahaman ini sejak kali pertama dakwah didengungkan. Dan karena itu, ketika Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam menawarkan Islam kepada Ali ketika ia masih berusia dini, Ali berkata, “Perkara ini belum pernah kudengar sebelum hari ini, aku bukanlah pengambil keputusan sehingga aku harus bicara dulu dengan Abu Thalib.” 

Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam tidak suka rahasia ini menyebar sebelum Ali sendiri yang menyampaikan urusan (keislmannya) nya, maka beliau bersabda kepada Ali, “Hai Ali, jika kau belum masuk Islam, maka tutuplah rapat-rapat (pembicaraan) ini.” 

Ali pun menghabiskan malamnya, lalu Allah SWT menunjukinya ke jalan Islam. Maka pagi-pagi segera ia menuju Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam dan menyatakan keislamannya. Ali radhiallahu anhu pun mulai berlatih dalam kerahasiaan setelah peristiwa ini, dan itu terurai tatkala ia bertemu dengan Abu Dzar radhiallahu anhu dalam kisah keislamannya. 

Dalam riwayat Ibnu Abbas radhiallahu anhu, dari Abu Dzar radhiallahu anhu, ia berkata, “Aku menuju hingga tiba ke Makkah sedang aku tidak mengenali beliau dan aku tidak suka bertanya tentang beliau, dan aku lalu meminum air Zamzam sedang aku berada di masjid. Aku pun berbaring.” Dia berkata, “Maka melintaslah Ali, seraya berucap, “Sepertinya laki-laki ini orang asing?” Aku jawab, “Ya.”  

Abu Dzar radhiallahu anhu melanjutkan, “Dia lalu beranjak ke rumah.” Dia bekata lagi, “Aku berangkat bersamanya, tidak bertanya apapun dan aku pun tidak menceritakannya. Setelah pagi, aku bawa kembali botol minumku dan bekalku ke masjid. Aku habiskan siang itu hingga tiba waktu sore, setelah itu aku kembali ketempat pembaringanku.” 

Ali melintas lagi dan bertanya, “Sudah tibakah waktunya lelaki ini mengenalkan rumahnya?” Aku jawab, “Tidak.” Ali radhiallahu anhu berkata, “Mari berangkat bersamaku.” Aku pun pergi bersamanya tanpa bertanya kepadanya sesuatu pun, dan ia pun tidak bertanya padaku tentang sesuatu.” 

Hari ketiga, ia masih masih melakukan hal yang sama. Ali radhiallahu anhu membangunkannya, lalu pergi bersamanya. Ali radhiallahu anhu bertanya kepadanya, “Tidakkah engkau mau menceritakan padaku apa yang mendorongmu datang ke negeri ini?” 

Abu Dzar radhiallahu anhu berkata, “Aku katakan padanya, “Jika engkau mau menutupinya untukku, aku akan beritahu kamu.” Dalam riwayat lain, “Jika engkau memberiku janji dan kepercayaan agar engkau menunjuki aku, akan aku lakukan.” Ali pun melakukannya, maka aku memberi tahunya. 

Ali radhiallahu anhu berkata, “Sungguh engkau telah diberi petunjuk. Sungguh beliau adalah kebenaran, dan sungguh beliau adalah Rasul Allah. Jika esok kau sudah berada di waktu pagi, ikutilah aku. Kalau aku melihat sesuatu yang mengkhawatirkan atas (keselamatan)mu, kau berdiri seolah-olah sedang diberi air minum.” 

Dalam riwayat lain, “Kau berdiri di dekat tembok, seolah aku sedang memperbaiki sandalku, dan engkau teruslah berlalu. Jika aku berlalu maka ikutilah aku sampai aku masuk ditempat masukku. Dia berlalu dan aku pun berlalu bersamanya, hingga ia masuk, akupun masuk bersamanya. 

Para Remaja dan Pemuda 

Melihat lebih jauh kepada mereka yang berjumlah 50 orang itu, sesungguhnya faktor kepemudaan dan keremajaan adalah hal dominan pada dari mereka. Mereka adalah contoh-contoh manusia yang belum banyak terkontaminasi oleh nilai-nilai buruk jahiliyah, dan masih jauh dari pengaruh fanatisme pada nilai-nilai jahiliyah. Justru mereka memiliki pemikiran yang terbuka dan merdeka, yang tidak disetir oleh perbudakan syahwat popularitas, kekuasaan, atau pengaruh. Mereka, setelah ini semua, adalah jiwa-jiwa yang siap menerima Tarbiyah Islamiyah, bimbingan Al-Qur’an ala Nabi, tanpa ada kendala atau kunci-kunci yang menutupihati-hati mereka. 

Contoh-contoh ini juga, dalam usia mereka yang masih muda, menjadi faktor utama yang sanggup melakukan revolusi terhadap tradisi dan isme-isme yang mengendalikan masyarakat dan menguasainya. Allah menyiapkan mereka untuk menjadi pemimpin makhluk, dipandu dengan panduan yang tepat, mengoptimalkan kemampuannya mencipta, dan membimbing bakat-bakatnya yang cemerlang. 

Jika kita memandangnya secara utuh pada kelompok pemula ini, dengan mengesampingkan kaum perempuan, kita dapat berikan catatan sebagai berikut: 

15 tahun ke atas sekitar 20 orang 

21 tahun ke atas sekitar 30 orang 

Ini menunjukkan bahwa sepertiga dari mereka adalah anak-anak remaja dan pemuda, dan lebih dari setengahnya adalah pemuda, mengingat bahwa 16 orang dari mereka, tidak dicantumkan usianya dalam kitab-kitab biografi. Dan diantara 50 orang itu, sekitar 5 orang adalah wanita. 

Peran Wanita 

Islam, sejak awal kehadirannya, di berikan untuk manusia secara keseluruhan, laki-laki dan perempuan, karena ia berasal dan Sang Pencipta manusia. Dan telah menjadi kehendak Allah bahwa yang pertama kali Allah benamkan Islam dalam hatinya adalah perempuan, dimana ia menjadi salah seorang wanita termulia di muka bumi, dan menjadi pendamping sekaligus pembenar bagi Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam

Kebanyakan dari kaum wanita adalah istri-istri yang masuk Islam bersama suami suami mereka, selain putri-putri Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam dan Asma binti Abu Bakar radhiallahu anha

Tidak ada yang lebih sulit bagi seorang laki-laki ketika ia memasuki agama baru (Islam), sedang istrinya menjadi batu sandungan baginya di jalan (baru itu). Dia akan melihat sebagian tindakan dan keputusan (suami)nya adalah hal aneh yang mengacaukan perhatiannya. Dia juga akan membeberkan rahasia (suami)nya kalau ia tetap dalam kekufuran dan agamanya yang pertama. Tidak diragukan, bahwa para wanita itu juga adalah wanita-wanita muda secara umur, seperti suami-suami mereka, dan fase itu belum merupakan fase yang matang untuk masa dua tahun pertama. Menyembunyikan dan menjaga kerahasiaan adalah gambarannya. Kita tidak mendapati sesuatu yang negatif yang disebutkan dari sisi ini dari faktor perempuan, padahal sudah makruf bahwa kelemahan dari sisi kerahasiaan ada pada wanita. 

Kami tunjukkan pula bahwa ternyata sebahagian dari mereka bukanlah wanita wanita Quraisy, melainkan berafiliasi kepada kabilah-kabilah Arab terhormat lainnya yang berdekatan (dengan Quraisy). 

Orang-orang Merdeka dan Para Budak 

Kasta-kasta menjadi hal yang lazim di masyarakat Makkah ketika itu. Kasta tertinggi didalam suku Quraisyadalah Quraisy Al Baththah (kaum Quraisy yang mendiami di lembah/dataran). Dalam Sirah Al Halabi yah disebutkan: 

“Qusaiy menurunkan kabilah-kabilah Quraisy: atau ia menjadikannya menjadi 12 kabilah, sebagaimanatelah dijelaskan buku Aspek-aspek Kota Makkah, lembah dan bukit-bukitnya, dari situ kemudian muncul sebutan bagi orang yang tinggal di lembah sebagai Quraisy Al Baththah, dan yang tinggal dibukit disebut sebagai Quraisy Azh Zhawahir. Yang pertama lebih mulia dari yang kedua, dan dari yang pertama ada Bani Hasyim, seperti ditunjukkan penulis buku Al Ashl saat menyifati Nabi Shallallaahu alaihi wa sallam dalam syairnya: 

Dari Bani Hasyim bin Abdi Manaf 

Dari Bani Hasyim itu adalah lautan rasa malu 

Dari Quraisy Al Baththah banyak manu sia yang tahu 

Mereka miliki keutamaan tanpa ingin berbangga 

AsSuhaily berkata: “Dan Adram juga: Yang dagunya besar... adalah Taym bin Ghalib juga disebut Adram, seperti kata Az Zubair. Bani Adram, mereka adalah orang-orang Arab Makkah, dan mereka dari Quraisy Azh Zhawahir, bukan dari Quraisy Al Baththah, begitu pun Banu Maharib bin Fahr dan Banu Mu’aish bin Amir. 

Quraisy Al Baththah, mereka tidaklah sama. Banu Ka’ab bin Luai’ lebih terhormat dari Bani Amir bin Luai’. Karena itu, jawaban Suhail bin Amr ketika Rasulullah Shallallaahualaihi wa sallam meminta bertetangga dengannya adalah: “Sesungguh nya Bani Amir tidak bertetangga dengan bani Ka’ab.” 

Kasta ketiga adalah kasta yang melakukan perjanjian damai dengan Quraisy. Mereka derajatnya lebih rendah dari internal Quraisy. Ini dijelaskan oleh permintaan sewa dari Akhnas bin Syuraiq, yaitu sekutu yang berdamai dengan Bani Zahrah, di mana ia bukan dari internal atau bagian inti mereka. 

Maka dijawab oleh Rasulullah Shallal laahu alaihi wa sallam, “Aku adalah sekutu dan sekutu itu tidak menyewa.” 

Kasta keempat di Makkah adalah kasta para Maula: dimana mereka adalah orang orang yang dibebaskan dari hambasahaya, atau loyalitas mereka masih dimiliki oleh tuan-tuan mereka. Mereka ini tidak punya hak-hak seperti dimiliki orang-orang yang asli Quraisy. 

Kasta kelima di kota Makkah adalah kasta budak yang diperlakukan dengan perlakukan paling buruk. Mereka tidak punya hak sedikit pun, melainkan semua kewajiban ada pada mereka, kecuali ikut serta dalam peperangan; mereka dimaafkan un tuk hal itu. 

Tidak ketinggalan, kasta wanita dimana mereka selalu berada dalam posisi sulit, menjadi objek hukum dan penghinaan yang tidak layak dengan statusnya sebagai anak keturunan Adam, sebagaimana dikatakan oleh Umar ra: “Dulu kami tidak menganggap kaum wanita sedikitpun.” 

Kasta-kasta ini di Makkah hidup selama berabad-abad, lalu Islam datang untuk membongkarnya hingga ke akar-akarnya. 

Sekitar 50 orang itu kemudian menjadi cikal bakal masyarakat baru, yang tak ada serupanya di muka bumi. Mereka bersinergi membangun hubungan secara langsung dengan pemimpin makhluk, Muhammad Shallallaahu alaihi wa sallam, dari semua kalangan; maula, orang-orang merdeka, hambasahaya, dan kaum wanita. Mereka semua mendapati wahyu dari Rasulullah yang diturunkan Rabb semesta alam. Mereka berhubungan langsung dengan Rasul Robb semesta alam, ucapan zikir dan posisi mereka naik kepada Allah azza wajalla. Merekalah penduduk bumi paling mulia, paling terhormat di semua yang wujud. Optimisme mereka meningkat, maka mereka pun bersatu padu dari klan-klan berbeda dari Quraisy, menyatukan kemuliaan bangsa Arab dan keterhubungan dengan Allah azza wajalla, dan kita melihat bagaimana Bilal, seorang budak Eutopia yang hitam berani menghadapi pemimpin Bani Umayyah dan bangga dengan kata-katanya: “Ahad, ahad,”; “Yang Esa,Yang Esa.” 

Pembahasan ini akan lebih luas dan lengkap tentang ini setelah deklarasi terang-terangan pada periode berikutnya. 

Aqidah/Ideologi yang Baru 

Yang menghimpun 50 orang itu tidak lain adalah tauhid dan semboyan LaaIlaaha Illallaah. Membenarkan risalah Muhammad Shallallaahu alaihi wa sallam dan simbolnya sendiri adalah Muhammad Rasulullah. Aqidah ini tidak cukup hanya sekadar deklarasi tauhid. Akan tetapi, sekaligus harus dengan menyingkirkan jauh-jauh kesyirikan, patung-patung dan berhala-berhala, secara bersamaan. 

Di sinilah wilayah bahaya itu. Yang lebih sulit adalah menyembunyikan simbol-simbol agama ini. Ketika Quraisy melihat anak-anak, maula, dan budak-budak mereka tidak lagi bersama mereka menyembah berhala-berhala dan bersentuhan dengan patung-patung itu, serta tidak lagi mengagungkan Habal, Isaf dan Nailah. Dan ketika mereka mulai menghindar untuk hadir dalam berbagai momen dan perayaan, serta tidak lagi menyerahkan kurban dan melakukan ritual-ritual yang biasa mereka kerjakan. Semua ini menjadi sebab munculnya banyak kesulitan yang harus dihadapi generasi baru ini. 

Maka datanglah setiap individu ingin bertemu dengan Rasulullah, menyampaikan berbagai macam penderitaan yang diterima, lalu beliau tampil menguatkan kesabaran dan meneguhkannya. Beliau pun berupaya sekuat tenaga menyelamatkan dan menjaganya, semampu yang bisa beliau lakukan; menajamkan kekuatan fisik dan ruhiyahnya meninggi agar lepas dari jeratan bumi (materi duaniawi) dan berpadu dengan keridhaan Allah, dan turunlah wahyu dari langit dengan realitas ini. Sehingga terjadilah penetrasi iman yang merasuk ke dalam jiwa generasi baru ini, dan ia merasa selalu berhubungan secara langsung dengan Allah swt melalui Al Musthafa, kekasih Allah swt. 

Semakin jauhnya mereka dari melaku kan ritual-ritual jahiliyah dan sujud kepada berhala-berhala, adalah bahaya yang mengintai organisasi rahasia ini. Namun, pada rentang dua tahun ini – dalam riwayat yang paling kuat- belum seorang pun yang mendeklarasikan keimanannya, semua riwayat yang ada hanyalah praduga dan perkiraan semata, tak ada yang meyakinkan.

Sumber: Majalah Relung Tarbiyah Edisi 3