Selembar Daun Terakhir

Ilustrasi

Oleh: Ahmad Surodilogo

Bedah Buku : Prinsip dan Penyimpangan Gerakan Islam. Karya : Dr. Mustafa Masyhur. Penerbit : Robbani Press. Cetakan ke 10. Tahun : 2008

Malam ini saya gelisah, susah untuk segera tidur. Barusan selesai aktivitas ‘melingkar’ bersama ikhwah, masih dalam proses bedah buku mungil “Prinsip dan Penyimpangan Gerakan Islam’ karya Dr. Mustafa Masyhur. Malam ini masuk bab “Bentuk-bentuk Penyimpangan Dakwah”, pada poin pertama yaitu Penyimpangan Tujuan.

Buku ini sungguh sudah sangat lama ditulis oleh Dr. Mustafa Masyhur, akan tetapi ---sebagaimana komentar al akh pembahas malam ini--- seakan-akan baru saja ditulis, atau bahkan sengaja ditulis untuk saat ini. Masyaallah. 

Kalimat pertama yang Dr. Mustafa Masyhur tuliskan pada sub bab ini adalah, “Penyimpangan tujuan termasuk salah satu penyelewengan paling berbahaya yang harus dihindari” (halaman 19). Tujuan dakwah semata-mata hanya untuk Allah, jangan sampai diselewengkan untuk hal-hal lain. Maka, beliau menyatakan, “Dakwah memerlukan pelurusan niat dan dan pemantapan yang terus menerus”. Mengapa demikian? Karena, “Jiwa manusia sering dipengaruhi hawa nafsu” (halaman 20).

Yang sangat perlu digarisbawahi dalam memahami poin penyimpangan tujuan ini adalah, bahwa penyimpangan tidak harus berarti mengarahkan dakwah secara total kepada tujuan-tujuan duniawi, atau menyelewengkan secara total dari jalan Allah. Tetapi, sebagian saja atau sedikit saja, niat ditujukan kepada selain Allah, itu sudah merupakan penyimpangan (halaman 21). Sebab kondisinya bisa jadi tidaklah secara ekstrem menyimpang dengan jalan mengajak keluar dari agama dan syariat Allah. Namun ada bagian-bagian yang mulai tidak sesuai dengan prinsip syariat Allah.

Persoalan niat adanya di dalam hati, di dalam jiwa. Demikian tersembunyi, maka sangat sulit diketahui. Namun ketika dampak penyimpangan sudah mulai tampak, jama’ah mulai dirusak, minimal dengan memunculkan keburukan bagi jama’ah, maka penyimpangan mulai tampak mengemuka. Wajar jika beliau menyatakan, penyimpangan tujuan sangatlah berbahaya, “Terutama jika yang bersangkutan mempunyai posisi yang menentukan” (halaman 22).

Mungkin penyimpangan akan memiliki dampak yang kecil saja bagi jama’ah dakwah, apabila hal itu terjadi pada anggota biasa yang tidak memiliki posisi atau pengaruh. Akan tetapi jika penyimpangan terjadi pada tokoh yang mempunyai posisi penting, dampaknya akan sangat luas. Oleh karena itu, jama’ah harus bertindak tegas kepada mereka agar bisa menghindarkan penyimpangan. “Mereka harus dikeluarkan dari barisan (shaf), kecuali jika mereka bertaubat dengan membersihkan hati dan mengikhlaskan diri kepada Allah” (halaman 22).

Di antara penyakit hati yang bisa menyimpangkan tujuan adalah, bila seseorang merasa dirinya lebih berpengalaman, merasa lebih cerdas, lebih baik analisanya terhadap setiap persoalan. Ia merasa lebih mengerti tentang seluk-beluk politik dan strategi menghadapi lawan. Ia menghina dan meremehkan orang lain, meskipun orang-orang yang dihina itu sudah banyak berjasa terhadap dakwah (halaman 30).

“Orang-orang seperti itu apabila mendapatkan keberhasilan dalam dakwah akan mengatakan, bahwa keberhasilan itu adalah karena kehebatan dirinya”, tulis beliau (halaman 30).

Ada pula penyakit “ego sentris” dalam dakwah. Mereka yang mengidap penyakit ini lebih suka merekrut orang untuk menjadi pengikutnya sendiri, bukan untuk menjadi pengikut jama’ah dakwah. “Hanya manusia-manusia setipe sajalah yang mau mendekatinya” (halaman 31). Beliau mengingatkan agar kita tidak mengikatkan diri kepada orang yang seperti ini, walaupun ia memiliki kehebatan. “Itu adalah sikap ular, dan ular sangat sulit dikendalikan bisanya” (halaman 31).

Sayangnya, orang yang sudah terjangkit penyakit ego sentris tersebut, tidak pernah mau mengakui bahwa dirinya berpenyakit. Akibatnya, penyakit semakin parah (halaman 31). Orang-orang tersebut membenarkan sikap ambisi pribadinya dengan dalih kemaslahatan dakwah atau umat. Seakan-akan itu adalah untuk kemaslahatan dakwah, bukan untuk diri pribadinya. Bahkan mereka menuduh orang lain terlalu picik (undercapacity) dalam menilai kemaslahatan dakwah (halaman 31).

Lalu apa kewajiban kita? Menurut Dr. Mustafa Masyhur, “Kita berkewajiban menyadarkan orang lain agar tidak mengikuti orang-orang yang menyimpang tersebut” (halaman 31). Ini kewajiban terhadap orang-orang lain agar tidak mengikuti penyimpangan.

Bagaimana dengan mereka yang sudah jelas-jelas menyimpang? Beliau memberikan isyarat yang sangat jelas, “Perlu diketahui, keberadaan mereka yang menyimpamng di dalam shaf setelah tidak mau diperbaiki, lebih membahayakan ketimbang melakukan pembersihan shaf” (halaman 32).

Mentolerir keberadaan orang-orang menyimpang yang tidak mau kembali kepada kebaikan ini, hanya akan semakin menambah parah penyimpangan. Menurut beliau, sikap sebagian ikhwah yang dengan niat baik mentolerir mereka, tidaklah dapat diterima. Sikap toleran ini didasarkan kepada kekhawatiran akan terjadinya perpecahan, dan takut kehilangan potensi mereka (halaman 32). Padahal dengan keberadaan mereka di dalam shaf, membuat bukan hanya mereka yang dinilai menyimpang, tetapi shaf juga sudah menyimpang.

Pembahasan mengenai penyimpangan tujuan ini, beliau akhiri dengan menukilkan pernyataan Sayyid Quthub rahimahullah:

“Satu demi satu anggota jama’ah diserang kerontokan. Mereka akan gugur seperti daun kering yang jatuh dari pohon besar. Musuh menggenggam salah satu ranting pohon disertai anggapan, bahwa dengan tercabutnya ranting tersebut akan dapat menghancurkan seluruh bagian pohon itu. Apabila telah tiba saatnya, dan ranting pun dicabut, maka keluarlah dari genggamannya seperti kayu kering, tidak mati dan tidak pula hidup. Sedangkan pohon tersebut tetap utuh seperti semula” (halaman 32).

Demikian Dr. Mustafa Masyhur mengakhiri pembahasan sub bab Penyimpangan Tujuan. Petugas presentasi pun sudah selesai menyampaikan isi bagian ini. Tapi rupanya saya belum selesai juga, sampai pun forum melingkar usai jam 23.30 tadi, saya tetap belum selesai.

“Satu demi satu anggota jama’ah diserang kerontokan. Mereka gugur seperti daun kering yang jatuh dari pohon besar”, terngiang-ngiang nyata ungkapan Asy Syahid Sayyid Quthub ini. Saya membayangkan pohon meranggas tanpa daun, sebab daun sudah berguguran. Namun selalu tumbuh daun baru. Rontoknya daun tidak mematikan pohon, sama sekali.

Ini yang membuat saya merasa belum selesai. Takut jika ikut rontok bersama daun-daun yang rontok. Kalaupun semua daun ingin rontok, biarlah saya menjadi “selembar daun terakhir yang mencoba bertahan di ranting”.

 ***

Tolong tafsirkan aku sebagai hasrat untuk bisa lebih lama bersamamu.
Tolong ciptakan makna bagiku, apa saja aku selembar daun terakhir yang ingin
menyaksikanmu bahagia ketika sore tiba. (Sapardi Djoko Damono)