Sebelum Melangkah Lebih Jauh, Berdo’alah untuk Kekuatan Cinta Kita

Dalam dakwah ini, adalah kisah tentang rangkaian do’a-do’a yang kita lantunkan.

Dari Anas, dari Nabi Nabi SAW bersabda: Tiga hal, barang siapa memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman. (yaitu) menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya, mencintai seseorang semata-mata karena Allah, dan benci kembali kepada kekufuran sebagaimana bencinya ia jika dilempar ke dalam api neraka.” (HR. Al-Bukhari) 

Hadits ini seharusnya memiliki daya gugah yang begitu kuat. Ia mempunyai makna agung yang melandasi keimanan kita, tentang makna kecintaan kepada Allah swt dan Rasulullah saw, kecintaan satu sama lain di antara kita, kaum muslimin, dan keteguhan kita yang sangat kuat untuk tetap berada diatas jalan keimanan. 

Tahap paling pertama yang harusnya ada dan tertanam kuat dalam hati seorang muslim adalah cinta kepada Allah swt. Kecintaan dalam bentuknya yang suci merupakan salah satu unsur yang menjadi tujuan keberadaan kita di atas bumi ini, yaitu menghamba kepada Allah swt. Karena sesungguhnya penghambaan atau ubudiyah kepada Allah tidak mungkin ada kecuali bila kita memiliki dua hal yang saling menyempurnakan, yakni sikap adzdzill atau sikap rendah, hina, kecil di hadapan Allah swt. Dan sikap mahabbah atau sikap cinta kepada-Nya. Itulah yang pernah dituliskan oleh Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah saat mendefinisikan ibadah dengan ungkapan, 

“Ibadah yang diperintahkan Allah swt mengandung makna dzill (kehinaan dan kerendahan) dan makna mahabbah (kecintaan). Yang dikehendaki oleh Allah swt adalah klimaks sikap dzill dan mahabbah kepada-Nya.” (Kitab Al ‘Ubudiyah, IbnuTaimiyah, hal 440

Karena itu pulalah Rasulllah saw menjelaskan dalam hadits itu, bahwa manisnya iman seorang hamba tidak mungkin dirasakan kecuali dengan mencintai Allah swt dan Rasul-Nya saw. Itulah asasnya. Itulah dasarnya. Uraian Rasulullah saw lebih lanjut dalam hadits ini semuanya kembali kepada kecintaan kepada Allah swt sebagai landasannya. Cinta kepada Rasulullah saw, adalah konsekuensi cinta pada Allah swt. Mencintai saudara seiman adalah juga berpangkal pada kecintaan pada Allah swt. Demikian juga, kekuatan kita berpegang teguh pada petunjuk Allah swt secara total, berawal dari landasan kecintaan kita kepada Allah swt. 

Kecintaan kepada seseorang karena Allah swt juga berdiri di atas prinsip kedekatan kita kepada Allah swt. Dan kedekatan Allah swt terdefinisikan pada sikap menyerah dan tunduk kepada-Nya. Artinya, semakin seseorang dekat dan tunduk kepada Allah swt, semakin memancarlah kecintaannya pada muslim yang lain. 

Simaklah apa yang dituliskan Imam Ibnu Hajar rahimahullah, mengutip apa yang dikatakan Al Baidhawi, “Ketiga hal dalam hadits itu adalah simbol dan tanda yang jelas bagi sempurnanya keimanan seseorang. Karena bila seorang Muslim merenungi bahwa Yang Maha Memberi nikmat hanyalah Allah swt, bahwa tidak ada Yang Maha Mengizinkan dan Melarang selain Al lah swt, bahwa Rasulullah saw adalah nabi yang diutus menerangkan kehendak Allah swt, maka konsekwensi itu semua adalah seorang Muslim secara total akan memiliki sikap tidak mencintai kecuali apa yang dicintai oleh Allah swt. Dan tidak mencintai sesuatu kecuali karena Allah swt. Ia juga harus yakin secara penuh bahwa apa yang di janjikan Allah swt itu adalah benar. Ia menggambarkan bahwa apa yang dijanjikan itu benar-benar terjadi. Ia menganggap bahwa majlis-majlis dzikir itu, sungguh-sungguh merupakan taman-taman surga. Ia lalu menganggap bahwa kembali kepada kekufuran adalah sama dengan menjerumuskan diri ke dalam neraka.” (Disarikan dari kitab Fath Al Bary, Syarh Shahih Bukhari, Ibnu Hajar Al Asqalani, 1/21, Al Maktabah As Salafiyah) 

Lalu, yang dimaksud halawatul iimaan (manisnya iman) dalam hadits ini adalah suasana kenikmatan, ketenangan, lapang, kesejukan jiwa yang muncul dalam diri seorang mukmin ketika ia melakukan hal hal yang disebutkan itu. Imam Nawawi rahimahullah mengutip pendapat sejum lah ulama dan mengatakan, “Makna halaawatul iiman adalah, merasakan kelezatan dan kenikmatan dalam melakukan ketaatan kepada perintah Allah swt, sekaligus kuat menanggung beban kesulitan dalam mencapai keridhaan Allah swt dan Rasulullah saw. Mengutamakan kondisi seperti itu daripada hamparan dunia. Juga kecintaan seorang hamba kepada Allah swt dengan melakukan amal-amal ketaatan, meninggalkan apa yang dilarang, dan mencintai Rasulullah saw.” (Syarah Shahih Muslim, An Nawawi, 2/13) 

Perhatikanlah lebih dalam, filosofi dari kata halaawatul iimaan, itu. Rasa manis, rasa enak, dan lezat itu biasanya dikecap oleh lidah dari sesuatu yang lahir atau nyata. Sedangkan dalam hadits ini disebutkan untuk menggambarkan suasana hati dan jiwa kaum beriman terhadap sesuatu yang bersifat bathin, tidak nyata. Bayangkanlah bagaimana kedalaman makna dari halaawatul iiman dalam hadits ini. 

Seseorang takkan dapat merasakan jalan kebahagiaan, kesenangan, kelapangan, kecuali bila ia memiliki hubungan yang baik dengan Allah swt. Harta, kedudukan, pangkat, jabatan, kebagusan fisik, kepandaian, keturunan, anak dan keluarga, tidak menjamin seseorang mendapatkan kebahagiaan. Seperti ungkapan Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab Madaarij As Saalikiin

“Sesungguhnya dalam hati terdapat sebuah robekan yang tidak mungkin dapat dijahit kecuali dengan mengadap penuh kepada Allah swt. Di dalamnya juga ada sebuah keterasingan yang tak mampu diobati kecuali dengan menyendiri bersama Allah. Di dalam hati juga ada sebuah kesedihan yang tidak akan mampu diseka kecuali dengan kebahagiaan yang tumbuh karena mengenal Allah dan ketulusan berinteraksi dengan-Nya. Di dalam hati juga terdapat sebuah kegelisahan yang tidak mampu ditenangkan kecuali dengan berhimpun karena Allah dan pergi meninggalkan kegelisahan itu menuju Allah. Di dalam hati, juga terdapat gejolak api yang tidak mampu dipadamkan kecuali oleh keredhaan akan perintah, larangan, dan keputusan Allah, yang diiringi dengan ketabahan dan kesabaran sampai tiba saat perjumpaan dengan-Nya.” 

Menyelami Makna Wirdul Qulub 

Dengan latar belakang makna cinta seperti itulah, do’a Rabithah yang sering kita lantunkan menyebutkan, “kami berhimpun dalam cinta kepada-Mu”. Itu karena kecintaan kita kepada Allah swt, berbanding lurus dengan perhimpunan kita dalam jalan ini, sesama saudara dalam keimanan. Selanjutnya, ungkapan “kami berpadu dalam ketaatan kepada-Mu,” berarti ketaatan ke pada Allah swt lah yang menyebabkan semakin terikat kuatnya perpaduan hati-hati kita. Atau, dengan kata lain, kemaksiatan bisa merenggangkan ikatan dan bahkan bisa melepaskan perpaduan kami. Lalu, ucapan “kami bersatu dalam dakwah atau seruan kepada-Mu.” Artinya, berdakwah menjadi syarat yang penting diperhitungkan dalam perannya mempersatukan kita selaku umat Islam. Amaliyah dakwah yang banyak akan kian mempersatukan hati dan jiwa kita. Bila sedikit amaliyah dakwah yang dilakukan, berarti peluang hambatan pertautan hati dan jiwa akan semakin besar. Kemudian, “kami saling berjanji untuk menolong syari’at-Mu”, adalah komitmen yang sangat penting untuk menjalin ke bersamaan dalam cinta, dalam ketaatan, dalam dakwah, untuk mengikatkan janji setia demi tegaknya syariat Allah swt. 

Hati adalah rahasia seorang manusia. Hati adalah hakikat penghambaan seorang manusia. Hatilah tempat kehidupan yang bersih. Dari hati muncul serunai langit yang terdengar untuk bumi. Bahkan, pengertian seorang faqih atau seorang ulama sesungguhnya adalah mereka yang tidak berbicara melalui buku yang ia tulis, tetapi berbicara degnan kekuatan ruh yang bisa menarik simpati untuk ruh-ruh manusia lain. 

Sebab hatilah, seseorang bisa selalu terlihat muda karena pancaran cahaya yang tak pudar dari wajahnya. Hati yang hidup akan menjadi dinding yang melindungi jiwa dari dunia. Semua prilaku akan melakukan perintah hati. “Iman yang tertanam kokoh dalam hati, akan membangkitkan ketenangan dan mendorong seseorang untuk selalu bersemangat dan penuh ridha. Lalu seseorang seperti memiliki akal kedua selain akalnya yang pertama. Karena bila ia ditimpa kesulitan, yang bisa mengguncangkan kesabaran dan menghilangkan akal pikiranya. Di saat itulah akal ruhaninya akan muncul dan mengendalikan tubuhnya sampai akal pertamanya sadar dan berfungsi kembali.” (Shadiq Ar Rafi’I, Wahyul Qalam) 

Aktivitas kita di dunia ini, tidak lain adalah aktifitas hati kita. Hati yang tahu bahwa Allah selalu memantaunya, dan mengetahui penghianatan kerlingan mata sekalipun serta mengetahui rahasia yang tersimpan di dalam dada. 

Inilah yang dimaksud Imam Hasan Al Banna rahimahullah dalam susunan do’a Rabithah atau do’a pengikat hati di antara para pejuang dakwah. Dalam do’a tersebut disampaikan sifat-sifat hati kita adalah: 

Berhimpun 

Berpadu 

Bersatu 

Saling berjanji setia 

Renungkanlah sifat-sifat hati kita dalam do’a ini. Engkau tahu ya Allah bahwa hati-hati ini, dengan ragam ketulusannya, tekadnya, keinginannya, cintanya, keyakinannya, dan kebersihannya. Didik dan bekalilah hati-hati ini ya Allah. Berilah taufiq dengan Kekuasaan-MuYang Maha Mulia kepada hati-hati ini untuk terus hidup dan menjalankan fungsinya dengan baik. Sesungguhnya Engkau adalah Sebaik-baik penolong dan tempat kembali. 

Karena itulah, setelah menyampaikan sifat-sifat hati itu, dalam do’a Rabithah kita memohon kepada Allah agar hati-hati ini mendapatkan bekal dan pemeliharaan: 

(kuatkanlah, lapangkanlah, penuhilah, hidupilah dan matikanlah) 

Renungkan kembali bagaimana intisari do’a ini adalah harapan agar bersatunya hati para pejuang dakwah. Karena bila gerakan mereka di dunia ini kosong dari nilai-nilai istimewanya, maka gerakan ini akan menjadi gerakan yang tidak mempunyai ruh, tidak bisa naik ke langit, Allah tidak sudi melihatnya, tidak diberi taufiq, dan tidak akan mampu mewujudkan tujuannya. 

Mari berhimpun dalam cinta kepada Allah swt. Bertemu di atas ketaatannya. Bersatu di atas jalan dakwah-Nya dan berjanji setia menolong syariat-Nya. 

Bekalnya hati adalah seluruh cahaya di atas cahaya, pancaran iman kepada Allah, dan tawakkal. Dada menjadi lapang dengan bekal yang dikaruniai dari Allah Penguasa langit dan bumi. Hati yang tidak berlindung kepada manusia, dan tidak pula meminta pertolongan kepada selain Rabbnya manusia. Allah lah tempat berlindung dan tempat meminta pertolongan. 

Hati seperti ini, yang telah disiapkan Allah untuk melaksanakan tugasnya yang terangkum dalam dua kalimat: hidup dengan mengenal Allah atau mati syahid di atas jalan Allah. Karena hidup dan mati ada ditangan Allah, maka kitapun berdo’a dengan menggunakan dua kata kerja. Hidupkan dan matikan. 

Jika kita menghendaki kehidupan hakiki, mari mempercepat langkah menyusul penegak dakwah yang sudah memulai perjalanan lebih dahulu. Agar hati kita menyerupai hati mereka yang selalu bercahaya, selalu sadar untuk beribadah, hingga titik akhir hidupnya di dunia ini. Jangan sampai seperti dikatakan oleh sebagian orang-orang shalih, “Jika keberadaanmu di dunia ini tidak memberikan kontribusi apa-apa, maka engkau adalah sekedar tambahan saja di dunia ini. Dan jika engkau tidak mati dalam kondisi dunia lebih baik dari sebelumnya, sesungguhnya engkau telah mendapatkan dunia tapi dunia tidak mendapatkan apapun darimu.” 

Semoga Allah mengabulkan do’a kita, keinginan kita dan hajat kita untuk merealisasikan tujuan dan maksud hidup kita, mengabdikan diri hanya kepada Allah swt Rabb semesta alam. 

Semoga kita termasuk golongan yang hati-hatinya dipilih dan dibentuk Allah, di kuatkan ikatannya, dilanggeng cintanya, ditunjukan jalannya sehingga menjadi orang yang memiki hati yang jujur, hati yang terikat dengan ikatan termulia dan terkuat yang pernah ada. 

Hati yang tujuannya adalah Allah, suri tauladannya adalah Rasulullah, pedomannya adalah Al-Qur’an, jalannya adalah jihad dan cita-cita tertingginya adalah syahid di atas jalan Allah. Hati yang tidak bisa dikontrol oleh manusia dan tidak pula mampu digerakkan oleh kekuatan bumi. Apapun yang menghalanginya tidak akan mampu, karena pembelanya adalah Allah: 

وَمَا رَمَيۡتَ إِذۡ رَمَيۡتَ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ رَمَىٰ 

"dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar." (QS. Al-Anfal: 17) 



Sumber: Majalah Relung Tarbiyah Edisi 3