Rahasianya, Al-Itsar

Ilustrasi
Ukhuwwah. Bersaudara karena Allah. Simpulnya adalah kekuatan iman (quwwah imaaniyah) yang memunculkan rasa kasih sayang begitu dalam, melahir kan penghormatan dan pemuliaan, menanamkan rasa percaya secara timbal balik (ats-tsiqah al mutabadilah) secara menakjubkan. Ikatan yang menghimpun kita ini, kemudian kita sebut dengan ikatan aqidah (ribaathulaqiidah) yang wujud dalam ikatan persaudaraan (ribaathul ukhuwwah). 

Tak ada rahasia di balik ini semua, kecuali bahwa Allah SWT telah menghimpun hati-hati ini. Dan ini takkan bisa dirasakan kecuali mereka yang memang telah mengalaminya. 

Kekuatan iman yang mewujud dalam kekuatan persaudaraan itulah yang sesungguhnya rahasia kekuatan barisan (quwwatu shaff) dan soliditasnya. Bukan hal aneh, sebab dahulu, dengan itulah Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam membangun pilar-pilar masyarakat Islam di Madinah Munawwarah. Ketika itu, para sahabat menoreh sejarah persaudaraan terbaik dalam sejarah manusia, tentang sikap Al-Iitsaar (mengutamakan saudara ketimbang diri sendiri). Firman Allah SWT mengabadikan peristiwa itu, 

وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٞۚ 

“dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.” (QS. Al-Hashr: 9). 

Sikap itsar, dalam derifat arti yang paling sederhana adalah kita memberi manfaat kepada orang lain sebagaimana kita memberi manfaat pada diri sendiri. Mencintai saudara kita sebagaimana mencintai diri sendiri. Memberi kepada saudara kita sebagaimana atau lebih dari apa yang kita beri untuk diri sendiri. Membantu atau berkhidmat pada orang lain dalam kondisi perlu dan membutuhkan, lebih besar dari pada membantu atau berkhidmat pada diri sendiri. Ustadz Al-Banna rahimahullah mengatakan, 

“Peliharalah kebersihan hatimu terhadap saudaramu. Berusahalah dengan keras untuk menjadikan jiwamu dan orang yang membersamaimu hingga sampai pada tingkatan itsar. Sikap abai dalam rukun ini atau mengingkarinya sama dengan mengingkari rukun perjuangan. Kondisi ini bisa mengakibatkan hal yang sangat buruk. Bila personal sudah tidak bisa lagi menerapkan tingkatan ukhuwwah paling rendah, akan muncul perpecahan dan merajalela pertikaian. Ini yang mengakibatkan kekalahan.”



Sumber: Majalah Relung Tarbiyah Edisi 3