Mengocehlah!

Ilustrasi

Oleh : Satria Hadi Lubis

Apa yang menyebabkan kerajaan Granada, sebagai salah satu kerajaan Islam terkuat di Eropa, akhirnya runtuh? Jawaban pastinya adalah karena serangan musuh. Tapi serangan musuh tentu tidak serta merta dilakukan begitu saja. Banyak faktor yang harus diperhitungkan. Salah satunya adalah ‘timing’ yang pas. 

Untuk mengetahui kapan ‘timing’ yang pas, Raja Ferdinand dari Aragon perlu mengutus mata-mata. Yang dilakukan sang intel cukup sederhana : pantau ‘ocehan’ masyarakat Granada. 

Satu waktu ia melihat anak kecil menangis. Dihampirinya sang bocah dan bertanya tentang apa yang menyebabkannya menangis? “Aku menangis karena anak panahku tidak tepat sasaran”, jawab sang bocah. “Bukankah kamu bisa mencobanya lagi?”, kata sang intel. Jawaban sang bocah cukup mengejutkan, “Jika satu anak panah saya gagal mengenai musuh, apa mungkin musuh memberi saya kesempatan untuk memanahnya lagi?” Mendengar ‘ocehan’ bocah tsb, sang intel menyarankan Raja Ferdinand untuk tidak menyerang Granada saat ini. Anak kecilnya aja begitu, gimana orang-orang tuanya?

Beberapa tahun kemudian sang intel kembali ke Granada dan dilihatnya seorang dewasa yang sedang menangis. “Mengapa kau menangis?” tanya si mata-mata. “Kekasihku (wanita yang dia cintai) pergi meninggalkanku”, jawab si orang dewasa tersebut. Maka sang intel merekomendasikan inilah ‘timing’ yang tepat untuk melakukan penyerangan.

Tanpa butuh waktu lama, Granada sebagai benteng terakhir kaum muslimin di Eropa, dapat dikuasai dengan mudah. Puncak malapetaka bagi kaum muslimin Granada adalah dengan dibentuknya lembaga Inguisition (inkuisisi, pengadilan yang dibentuk oleh dewan gereja). Pilihannya hanya dua : menerima ajaran Katholik atau dibantai. Maka tamatlah riwayat kaum muslimin di Andalusia, dan Eropa secara keseluruhan.

Mungkinkah tragedi Granada terulang di negeri kita? Bisa iya, bisa tidak. Tergantung apa ‘ocehan’ kita. Saya teringat sebuah ceramah dari ‘Da’i Sejuta Ummat’, (alm) KH. Zainuddin MZ. Beliau berkata: “Allah memang menjamin bahwa Islam akan terus ada di muka bumi hingga akhir zaman; namun Dia tidak menjamin bahwa Islam akan terus ada di Indonesia.”

Seperti mata-mata di Granada dulu, musuh-musuh Islam saat ini juga sedang memata-matai Indonesia, seperti yang pernah dikatakan Jenderal (purn) Gatot. Untuk menghancurkan Indonesia maka yang perlu dihancurkan adalah umat Islam Indonesia. 

Mereka mungkin menunggu ‘timing’ yang pas. Bahkan kini mereka tak perlu repot-repot terjun langsung ke lapangan untuk mengetahui isi ocehan dan obrolan kita. Cukup pantau sosial media dan simak tema-tema apa yg menjadi concern kaum muslimin.

Untuk saat ini bolehlah kita bernafas lega. Namun tetap perlu bersiaga. Misalnya, beberapa tahun yang lalu disaat MU kalah telak oleh Chelsea, atau saat Indonesia Juara AFF kita masih ‘ngoceh’ soal penindasan saudara kita di Suriah dan Palestina. Tatkala Valentino Rossi terjatuh, kita masih ‘ngoceh’ tentang al Qur’an yang dinistakan. Ini tanda dan menjadi pesan bagi mereka yang benci Islam bahwa ghiroh jihad itu belum luntur dari dada kaum muslimin. Apalagi kemudian terbukti bahwa kita tidak sekedar ngoceh di sosial media, tapi juga diwujudkan di dunia nyata. Jutaan kaum muslimin, tidak hanya di Jakarta, tapi di berbagai tempat hadir dalam aksi-aksi pembelaan terhadap kehormatan agama yang dilecehkan, dan puncaknya aksi damai 212. Ini jelas membuat musuh ketar-ketir meski di back up kekuasaan sekalipun. Apalagi setelah (waktu itu) ustadz KH. Tengku Zulkarnain (wasekjen MUI) menyampaikan ‘ocehan’ nya: ”Wahai para penjilat dan penjual agama! Berhentilah menghina kami umat Islam. Nanti jika kami teriakkan JIHAD AKBAR, kalian musnah!”

Oleh sebab itu, jangan anggap remeh meski sekedar ‘mengoceh’ di dunia maya untuk membela Islam. Asalkan ocehannya tidak hoax dan tidak provokatif memecah belah NKRI. Mengocehlah untuk membela Islam karena itu perintah Allah. Sungguh Allah akan menolong orang yang membela-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (QS. al-Hajj: 40).

Dengan "mengoceh", bisa jadi inilah yang membuat mereka berpikir ulang untuk menyerang kita.

Mengocehlah dan jangan diam demi membela Islam.

Mengocehlah tanpa takut dan tanpa henti!