Bagaimana Mungkin, Kami Tak Mencintai Dakwah Ini?

Ilustrasi

Hati kami, terikat dengan dakwah Islam. Cinta kami berakar begitu dalam kepada dakwah. Prinsip-prinsip dakwah lebur dalam hati dan diri kami. Kenapa tidak? 

Dakwah ini adalah dakwah kebenaran yang telah menghiasi hati kami sejak awal kami tersentuh dengan nilai nilai Islam yang dibawanya. Dakwah ini mengikat hati kami dan memasukkan keyakinan dalam diri agar diperjuangkan nilai-nilainya. Dakwah dengan berbagai programnya dari waktu ke waktu, yang dilakukan secara konsisten telah menyinari pikiran kami, menyatukan rasa diantara kami, dan menghimpun kami atas dasar cinta dan persaudaraan, bahkan meningkatkan kemampuan, memperluas wawasan dan melatih kapasitas kami dalam banyak hal. 

Bagaimana mungkin kami tak mecintai dakwah ini? 

Dakwah ini yang memindahkan kami dari ruang diam dan tak berdaya, ke ruang amal, bekerja berjuang di berbagai bidang. Kami tak berhenti melakukan agenda demi agenda dakwah, hingga merubah kami dari manusia yang hidup hanya untuk memuaskan diri sendiri dan keluarga, pada pejuang dengan misi peduli dan memberikan apa yang bisa kami berikan untuk ummat ini. Kami menjadi sibuk bersama keluarga, masyarakat dan ummat dalam kebaikan. Dan semua ini memberi efek kebahagiaan dalam hati kami. 

Bagaimana mungkin kami tak mencintai dakwah ini? 

Dakwah ini yang telah menjadikan kehidupan kami lebih memiliki nilai dan arah tujuan. Kami hidup bersama dengan tujuan agung yaitu keridhaan Allah SWT, kemenangan dengan surga Allah SWT. Kami arungi kebersamaan di jalan ini melalui ragam kegiatan dan agenda yang terus menerus diarahkan untuk memenangkan Islam, dan mengukuhkan ajarannya. Kami menjadi tak peduli dengan usia, tak begitu memikirkan waktu yang kami beri untuk dakwah ini. Sungguh berbeda dengan sebagian orang yang hidup banyak membuang waktu. 

Kami merasakan dunia ini begitu luas, dari sebelumnya yang kami merasakan sempit dan kecil. Itu karena kami bekerja dan berpikir untuk orientasi kami yang memang kecil. Tapi dengan dakwah ini, kami memiliki pandangan yang luas lapang dan jauh ke depan. Kehidupan kami bukan tanpa masalah dan tanpa problematika yang mungkin rumit. Tapi dengan dakwah, hati kami menjadi tidak mudah goyah oleh urusan yang mungkin menjadikan sebagian orang goyah. Jiwa kami menjadi tak gampang diombang-ambingkan sebagaimana sebagian orang mudah diombang ambingkan oleh berbagai riak kehidupan. 

Bagaimana mungkin kami tak mencintai dakwah ini? 

Dakwah ini yang mengajarkan kami tentang bagaimana bermental pejuang yang harus berkorban. Dakwah ini yang menanamkan dalam hati dan pikiran kami, bagaimana nilai memberi, membantu dan berperan untuk ummat. Ini terjadi di antara gemuruh zaman yang penuh egoisme, dan penuh pragmatisme, individualisme, skeptisisme. Di zaman seperti ini, kami tumbuh bersama dakwah. Bergerak bersama untuk menolong orang-orang yang terzalimi. Berjuang bersama dari jarak dekat maupun jauh dengan para pejuang yang berhadapan dengan tirani. Berdiri secara berani di hadapan kezaliman dan kediktatoran. Kami meyakini “kemuliaan dakwah ini, kesucian fikrahnya, lalu kami bertekad tulus untuk hidup atau mati bersama dakwah” 

Bagaimana mungkin kami tak mencintai dakwah ini? 

Dakwah yang mengajarkan kami untuk mengajak, menyeru, merangkul, orang lain dengan kebaikan-kebaikan. Lalu upaya mengajak, menyeru, merangkul orang pada kebaikan itu, memberikan banyak keberkahan pada kami. Hati yang bertambah tenang karena keteduhan yang dibawa oleh dakwah. Prilaku kami yang lebih berhati hati dalam melakukan sesuatu yang bisa menjauhkan kami dari misi dakwah kepada Allah. Lalu, ketika kami mendekat kepada Allah satu jengkal dengan amal-amal dakwah dan ibadah, Allah mendekat kepada kami satu hasta. Ketika kami mendekat kepada Allah dengan berjalan melalui amaliyah dakwah yang tak berhenti, kami merasakan Allah mendekat kepada kami dengan berlari. Itulah efek kebaikan yang kami peroleh dari dakwah ini. 

Bagaimana mungkin kami tak mencintai dakwah ini? 

Dakwah ini mengajarkan kami bagaimana berteman, bersahabat, bersaudara, bukan karena keturunan, pangkat, jabatan, harta benda dan keduniaan lainnya. Dakwah ini yang mempertemukan kami dengan banyak saudara dari berbagai belahan bumi, berbagai daerah, berbagai suku, berbagai adat dan kebiasaan, berbagai bahasa, berbagai karakter, berbagai keilmuan, berbagai usia, berbagai kedudukan, berbagai jabatan, berbagai profesi, dan lain sebagainya. Lalu kami merasakan kebersamaan dalam dakwah ini dalam sebuah wadah perjuangan dakwah, mengajak pada kebaikan dan berupaya menegakkan kebaikan itu di atas bumi yang kami pijak. 

Bagaimana mungkin kami tak mencintai dakwah ini? 

Kami bukan Malaikat dan juga bukan makhluk Allah yang suci tanpa dosa. Sebab jika harus orang suci yang berhak mengajak kepada kebenaran dan berjuang menegakkan Islam, pastilah tidak ada yang berdakwah dan berjuang. Hanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam saja yang suci dan diampuni dosanya. Sedangkan kami semoga menjadi orang-orang yang tercerahkan oleh petunjuk Allah, lalu berusaha untuk membersihkan diri, memperbaiki diri, melawan hawa nafsu, saling berpegang tangan untuk tidak terjerumus dalam lembah kesesatan, saling menuntun untuk tetap ada dalam jalan yang mengantarkan pada kematian dijalan Allah. Lalu diantara kami, semuanya pasti mempunyai salah dan dosa. Kemudian kami berusaha membersihkan diri dan kembali ke jalan yang lebih baik dengan bantuan saudara-saudara di jalan ini. 

Bagaimana mungkin hati kami tak mencintai dakwah ini? 

Kami disini berusaha memperjuangkan kebaikan di seluruh lini kehidupan. Ini cita cita yang agung dan besar, yang tak mungkin dilakukan sendiri-sendiri dan tidak terus menerus. Kami berpikir dengan kemampuan yang ada agar kebaikan itu sedikit demi sedikit membesar, meski ada hal-hal yang harus kami korbankan. Lalu kami bermusyawarah agar menghasilkan langkah paling sesuai dilakukan dalam sikon tertentu, untuk tetap bisa memberi kebaikan kepada ummat. Di sanalah kami berijtihad, menetapkan pilihan yang paling baik dari yang baik, menentukan pilihan yang paling sedikit mudharatnya dari kemudharatan yang besar, sesuai kaidah-kaidah syariat yang kami pahami. 

Bagaimana mungkin kami tak mencintai dakwah ini? 

Kami berusaha mengenal tokoh-tokoh pejuang dakwah ini. Dari sosok agung pemimpin dakwah, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Para sahabat, para tabi’in, para tabi’ut taabi’iin, para ulama dakwah yang telah mendahului kami, yang ada di seberang negeri hingga yang ada di sini dan membersamai kami dalam perjuangan. Mereka orang-orang yang berhasil mengukir hidupnya dengan dakwah dan mengakhiri usianya dengan tetap komitmen bersama dakwah. Tak soal apakah mereka mati karena sakit atau kecelakaan dalam perjalanan. Bukan juga tanpa celah salah dan kekurangan. Namun kami mendapat kan figur-figur luar biasa dari mereka saat hidup. Kami mendapatkan contoh hebat dari para saudara dakwah yang telah meninggalkan kami. Peta hidup yang telah mereka jalani, menginspirasi kami untuk lebih dekat dalam perjuangan di jalan dakwah ini. 

Karena itu semua, hati-hati kami terjalin dan terikat dengan dakwah. Kami berkorban demi dakwah. Kami hidup dengan dan untuk dakwah. Seperti perkataan ulama dakwah, 

Demikianlah dan akan selalu demikian, dakwah Islamiyah Muhammadiyah Qur’aniyah. Tak kenal warna selain Islam yang bersih. Tak tercelup oleh apapun kecuali celupan Allah (Shibghatullah) Yang Maha Mulia dan Maha Bijaksana. Para pimpinan yang hanya bersandar kecuali kepemimpinan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Tak kenal pedoman lain kecuali Kitabullah yang akan selalu terpelihara dari kebatilan dari manapun.” 

Dengan dakwah yang seperti ini, yang menjadikan kami bangga bersandar padanya. Bekerja untuk Islam di bawah bendera dakwah. Menjadikannya ada di depan mata kami, bertahta dihati kami. Begitulah kami, dan seperti itulah kami selalu bersama dakwah. 

Pesan dakwah yang kamiingat adalah: 

“Sesungguhnya keikhlasan adalah dasar sebuah keberhasilan dan sesungguhnya ditangan Allah-lah semua urusan. Sesungguhnya para pendahulu kalian yang mulia tidak mencapai kemenangan kecuali karena kekuatan iman mereka, kesucian jiwa dan kebersihan diri, serta keikhlasan hati dan amal dari ikatan dan pikiran apa pun. Mereka menjadikan segala sesuatu sesuai dengan nilai-nilai keikhlasan tersebut, sehingga jiwa mereka menyatu dengan akidah, dan akidah mereka menyatu dengan jiwa-jiwa mereka. Merekalah sesungguhnya gagasan itu, dan gagasan itulah mereka. Jika kalian demikian maka fikirkanlah, sesungguhnya Allah mengilhamkan kepada kalian kecerdasan dan kebenaran, maka amalkanlah dan sesungguhnya Allah membantu kalian dengan kekuatan dan keberhasilan. Tapi jika di antara kalian ada yang mengidap penyakit hati, yang tujuan hidupnya berpenyakit, yang kehilangan harapan dan keinginan, yang memiliki luka masa lalu, maka keluarkanlah dia dari barisan kalian, karena sesungguhnya ia adalah penghalang turunnya rahmat, yang terkurung tanpa ada taufik (petunjuk).”

Sumber: Majalah Relung Tarbiyah Edisi 3