Tadabbur Surat Al-Kahfi (2): Gelombang Fitnah Al Maal Penghadang Dakwah

Kita lanjutkan kajian tarbawiyah dalam surat Al-Kahfi. Sekarang kita akan mengulas kisah kedua, dari empat kisah yang ada di dalam surat ini, yaitu kisah pemilik dua kebun (shahibul jannatain). 

Seperti dijelaskan pada bagian pertama, kisah-kisah ini seluruhnya menggambarkan ragam fitnah yang dihadapi kaum beriman yang kemudian disambung dengan ayat yang menerangkan cara perlindungan (thuruq al wiqayah) dari fitnah yang ada dalam kisah tersebut. 

وَٱضۡرِبۡ لَهُم مَّثَلٗا رَّجُلَيۡنِ جَعَلۡنَا لِأَحَدِهِمَا جَنَّتَيۡنِ مِنۡ أَعۡنَٰبٖ وَحَفَفۡنَٰهُمَا بِنَخۡلٖ وَجَعَلۡنَا بَيۡنَهُمَا زَرۡعٗا 

“Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang" (QS. Al-Kahfi: 32) 

Fitnah yang terjadi dalam kisah shahibul jannatain ini adalah fitnah harta (fitnah al maal). Fitnah kenikmatan dan kemewahan dunia. Kisah ini seperti diuraikan oleh Ustadz Sayyid Quthb rahimahullah, memberi contoh sangat baik tentang nilai-nilai palsu dan nilai-nilai asli yang akan tetap bertahan dimuka bumi. Kisah ini memaparkan dua contoh sangat jelas antara jiwa yang merasa bangga dengan perhiasan dunia dan jiwa yang merasa termuliakan dengan Allah SWT. Dan kedua hal ini adalah contoh sifat yang dimiliki sekelompok manusia. Shahibul jannatain adalah contoh bagi seorang kaya berhampar harta dan kenikmatan, tapi lupa bahwa ada kekuatan Maha Besar yang membatasi kemampuan manusia dan kehidupan manusia. Ia menganggap harta itu semua kekal, abadi dan tak punah oleh kekuatan apapun. Sedangkan di sisi lain juga menceritakan tentang orang beriman yang merasa termuliakan dengan keimanannya, mengingat Rabbnya, dan memandang kenikmatan itu hanya petunjuk adanya Sang Pemberi nikmat yaitu Allah yang mewajibkannya untuk memuji Allah SWT, dan tidak menentang-NYA. 

Setelah menerangkan tentang ayat ayat kisah dan menerangkan sifat tentang Kenikmatan dan sifat shaahibul jannatain, dijelaskanlah bagaimana shaahibul janna­ tain menerima kenikmatan dari Allah SWT. Perhatikanlah firman-firman Allah SWT berikut: 

وَكَانَ لَهُۥ ثَمَرٞ فَقَالَ لِصَٰحِبِهِۦ وَهُوَ يُحَاوِرُهُۥٓ أَنَا۠ أَكۡثَرُ مِنكَ مَالٗا وَأَعَزُّ نَفَرٗا 

“dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang mukmin) ketika bercakap-cakap dengan dia: "Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat"”. (QS. Al-Kahfi: 34) 

Salah satu pemilik kebun ini berjalan kepada rekannya dengan sombong dan pongah. Ia melupakan Allah SWT dan mengabaikan diri untuk bersyukur kepada Allah SWT atas semua pemberian-Nya. Ia mengira bahwa kebun-kebun yang penuh buah itu takkan pernah mati selamanya. Ia mengingkari terjadinya kiamat. Logikanya menyebutkan bahwa pemilik kebun kebun indah di dunia, berhak juga mendapat ke muliaan diakhirat. 

وَدَخَلَ جَنَّتَهُۥ وَهُوَ ظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ قَالَ مَآ أَظُنُّ أَن تَبِيدَ هَٰذِهِۦٓ أَبَدٗا 

“Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata: "Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya,” (QS. Al-Kahfi: 35) 

Inilah bentuk kepongahan yang memberi khayalan pada pelakunya sebagai pemilik kedudukan, jabatan, kekayaan dan kemewahan. Mereka menganggap bahwa nilai yang mereka dapatkan di dunia yang tak kekal ini akan tetap terpelihara untuk mereka hingga berjumpa Tuhan. Karenanya mereka terus menyampaikan pada banyak orang bahwa mereka mempunyai tempat khusus dilangit. 

Sedangkan temannya yang miskin, yang tak mempunyai harta berlimpah, tidak mempunyai banyak orang, tidak mempunyai kebun-kebun, tak ada buah-buahan, merasa termuliakan dengan apa yang ia yakini dalam aqidah dan keimanannya kepada Allah SWT. Allah SWT yang ia sembah. Menolak semua yang menipu, kesombongan yang palsu. Ia menyadari bagaimana proses kehidupannya sehingga ia harus hidup dengan kebaikan dan harus memenuhi hak Sang Pemberi nikmat. Perhatikanlah bagaimana Al-Qur’an melukiskan kedalaman iman dan keyakinan salah satu dari pemilik kebun ini: 

قَالَ لَهُۥ صَاحِبُهُۥ وَهُوَ يُحَاوِرُهُۥٓ أَكَفَرۡتَ بِٱلَّذِي خَلَقَكَ مِن تُرَابٖ ثُمَّ مِن نُّطۡفَةٖ ثُمَّ سَوَّىٰكَ رَجُلٗا ٣٧ لَّٰكِنَّا۠ هُوَ ٱللَّهُ رَبِّي وَلَآ أُشۡرِكُ بِرَبِّيٓ أَحَدٗا ٣٨ وَلَوۡلَآ إِذۡ دَخَلۡتَ جَنَّتَكَ قُلۡتَ مَا شَآءَ ٱللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِٱللَّهِۚ إِن تَرَنِ أَنَا۠ أَقَلَّ مِنكَ مَالٗا وَوَلَدٗا ٣٩ فَعَسَىٰ رَبِّيٓ أَن يُؤۡتِيَنِ خَيۡرٗا مِّن جَنَّتِكَ وَيُرۡسِلَ عَلَيۡهَا حُسۡبَانٗا مِّنَ ٱلسَّمَآءِ فَتُصۡبِحَ صَعِيدٗا زَلَقًا ٤٠ 

“Kawannya (yang mukmin) berkata kepadanya -- sedang dia bercakap-cakap dengannya: "Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna? Tetapi aku (percaya bahwa): Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku. Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu "maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan, maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik dari pada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu; hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin;” (QS. Al-Kahfi: 37-40) 

Bagaimana perenungan Sayyid Quthb dalam Fii Zhilaalil Qur’an tentang ayat ini? 

“Demikianlah kemuliaan iman dalam diri seorang mukmin bangkit. Tak peduli dengan harta tak peduli dengan pendukung. Tak ada basa-basi dengan kekayaan dan kesombongan. Tak mengkaburkan kebenaran, tidak kompromi dalam hal menyatakan yang haq. Seperti itulah perasaan dalam jiwa seorang Mukmin, bahwa ia lebih mulia saat berhadapan dengan kedudukan dan harta. Dan bahwa seluruh hamparan kekayaan dalam kehidupan ini adalah milik Allah SWT. Keutamaan Allah itu sangatlah mulia, karenanya seorang mukmin memburu keutamaan Allah SWT. Balasan dan siksa Allah itu pasti terjadi menimpa orang orang yang lalai dan sombong.“ 

Kemudian penutup kisah ini adalah firman Allah SWT : 

وَأُحِيطَ بِثَمَرِهِۦ فَأَصۡبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيۡهِ عَلَىٰ مَآ أَنفَقَ فِيهَا وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا وَيَقُولُ يَٰلَيۡتَنِي لَمۡ أُشۡرِكۡ بِرَبِّيٓ أَحَدٗا  

“Dan harta kekayaannya dibinasakan; lalu ia membulak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata: "Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku".” (QS. Al-Kahfi: 42) 

Ini adalah paparan yang konferehensif tentang akhir kisah ini. Semuanya dihancurkan dari berbagai arah. Tak ada yang terselamatkan dari kenikmatan dunia, kebun-kebun anggur menjadi kosong dari keindahannya. Pemilik kebun itu membalik tangannya menyesal, diterpa kesedihan karena harta bendanya hilang. Pikirannya dipenuhi kesia-siaan apa yang sudah ia lakukan selama ini. Ia menyesal menyekutukan Allah SWT. Ia mengakui sekarang bahwa Allah SWT Sang Maha Kuasa atas segalanya. Meskipun dalam kisah ini tidak disebutkan bahwa ia menyatakan kesyirikan kepada Allah, tapi rasa bangganya, rasa kemuliaannya, rasa kesombongannya yang bersifat duniawi dan tidak sejalan dengan nilai keimanan, adalah sejatinya sebuah kemusyrikan. Ia menyesal dan memohon perlindungan kepada Allah SWT setelah semuanya terjadi. 

Tempatkanlah Allah SWT sebagai satu-satunya Tuhan yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada kekuatan dan tidak ada daya kecuali dari Allah SWT. Tidak ada pertolongan kecuali pertolongan Allah. TIdak ada balasan kebaikan kecuali Allah SWT yang membalas. 

وَلَمۡ تَكُن لَّهُۥ فِئَةٞ يَنصُرُونَهُۥ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَمَا كَانَ مُنتَصِرًا  

“Dan tidak ada bagi dia segolonganpun yang akan menolongnya selain Allah; dan sekali-kali ia tidak dapat membela dirinya.” (QS. Al-Kahfi: 43) 

Tirai kisah tentang kisah pemilik dua kebun ini ditutup sudah. Pemandangan akhirnya adalah pemilik dua kebun yang membalik tangannya, sedih muram menyesal. Kekuasaan Allah benar-benar meliputi semuanya, apalagi sekedar kemampuan manusia. Tanpa bantuan Allah SWT, fitnah harta ini bisa membungkam dan menghentikan langkah pejuang dakwah, penegak tarbiyah. 

Bagaimana Mengatasi Fitnah ini? 

Fitnah harta, fitnah syahwat, dan keindahan perhiasan dunia yang menjadi ujian di hadapan umat beriman secara umum, khususnya para pengusung dakwah. Para pengusung dakwah menghadapi fitnah ini lebih beragam dan berat. Tanpa bantuan Allah SWT, fitnah harta ini bisa membungkam dan menghentikan langkah pejuang dakwah, penegak tarbiyah. Dan di sinilah Allah SWT menjelaskan cara yang harus di lakukan untuk bisa mengatasi fitnah ini. 

وَٱضۡرِبۡ لَهُم مَّثَلَ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا كَمَآءٍ أَنزَلۡنَٰهُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ فَٱخۡتَلَطَ بِهِۦ نَبَاتُ ٱلۡأَرۡضِ فَأَصۡبَحَ هَشِيمٗا تَذۡرُوهُ ٱلرِّيَٰحُۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ مُّقۡتَدِرًا  

“Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Kahfi: 45) 

Ingat hakikat dunia, pendeknya usia dunia, dan kehinaan dunia. Kehidupan dunia ini semuanya, seperti dalam perumpamaan ini, adalah sementara dan fana. Ia seperti air yang Allah turunkan dari langit dan dalam sekejap menyuburkan tumbuh-tumbuhan di muka bumi. Tapi kemudian tumbuh-tumbuhan itu bisa menjadi kering diterbangkan oleh angin, juga dalam sekejap. Hidupkan rasa ini didalam hati sehingga menjadi benteng dan pertahanan dari gempuran fitnah harta dan nikmat dunia. 

Huruf “fa” yang menunjukkan keteraturan dalam penyebutan dalam ayat ini memberi makna kecepatan, dan keteraturan kejadian. Gambaran kehidupan dunia yang ditunjukkan dalam surat Al-Kahfi ini pendek dan ringkas, sesuai dengan situasi yang ditunjukkan di dalamnya, sebagaimana dalam kisah pemilik kedua kebun. Kedua kebun itu lenyap dalam sekejap karena keduanya adalah bagian dari kehidupan dunia. 

Setelah itu, Allah SWT menerangkan dua aspek fitnah yang umumya menipu manusia. 

ٱلۡمَالُ وَٱلۡبَنُونَ زِينَةُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ وَٱلۡبَٰقِيَٰتُ ٱلصَّٰلِحَٰتُ خَيۡرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابٗا وَخَيۡرٌ أَمَلٗا  

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. Al-Kahfi: 46) 

Harta dan keturunan adalah perhiasan kehidupan. Islam tidak melarang kita untuk menikmati perhiasan tersebut dalam batas-batas yang baik. Islam memberikan nilai yang harusnya dimiliki oleh perhiasan kehidupan itu, hanya dengan penjelasan bahwa itu tidak abadi. 

Harta dan keturunan, keduanya adalah perhiasan. Tapi ia sesungguhnya tidak memiliki nilai karena tidak abadi, dan karenanya tidak boleh menjadi rujukan pertimbangan dalam menjalani kehidupan. Nilai sejatinya hanya ada pada amal perbuatan, perkataan dan ibadah yang dilakukan. Jika umumnya manusia memiliki keinginan terkait dengan harta benda dan keturunan, dijelaskan bahwa sesungguhnya al­baaqi­ yaat ash­shaalihat (sisa yang baik)itu memberikan pahala kebaikan dan harapan yang lebih baik. 

Demikianlah dua kisah Al-Qur’an pertama dan kedua ini memberi permisalan tentang fitnah ad-diin (fitnah agama), fitnah asy-syahawat (fitnah syahwat dunia), sekaligus menjelaskan bagaimana cara mengatasinya. Inilah madrasah tarbawiyah luar biasa yang diajarkan Allah SWT melalui firman-firmanNYA dalam surat Al-Kahfi ini.

Sumber: Majalah Relung Tarbiyah, Edisi 2