Saatnya, Bicara Tentang Keluarga Kita


Ilustrasi (pexels.com)
Mari tundukan hati dan berdo’alah, 

رَبَّنَا هَبۡ لَنَا مِنۡ أَزۡوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعۡيُنٖ وَٱجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِينَ إِمَامًا ٧٤ 

"Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqon: 74

Ini do'a yang mungkin sudah akrab kita dengar, kita aminkan dan kita lantunkan melalui lisan. Do'a agar Allah memberikan kita karunia pasangan dan keturunan yang shalihin shalihat. Yang menyejukkan mata saat kita memandang mereka. Yang mendamaikan hati saat kita bertemu mereka. Yang membanggakan kita dalam rasa keimanan, ketika melihat mereka hidup dalam keimanan yang baik. 

Jangan lupa, di akhir bait do'a yang disebut oleh Allah subhaanahu wa ta'aala dalam Al-Qur'an ini, juga ada do'a untuk diri kita sendiri. Agar Allah jadikan kita pimpinan dan panutan terdepan dalam keimanan. “Jadikan kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa...". Pemimpin pastilah orang yang memiliki kelebihan dari yang dipimpin. Jika kita memohon menjadi pemimpin orang yang bertaqwa, berarti kita seharusnya berusaha keras untuk memiliki kualitas ketaqwaan yang lebih baik. Jika kita meminta agar menjadi pemimpin orang-orang yang bertaqwa, berarti kita seharusnya berjihad untuk bisa membimbing manusia, jangan lupa termasuk keluarga, untuk menjadi orang-orang bertaqwa. Ya, kita lah para orang tua, yang dimaksud dalam do'a ini. Kita lah para orang tua yang dituju untuk menjadi lebih baik, menjadi panutan, menjadi pembimbing orang lain, jangan lupa termasuk keluarga, untuk menjadi orang-orang yang bertakwa. Dan di sinilah ujiannya, dan tantangannya. Semoga Allah mengabulkan semua pinta kita. Aamiiin. 

Inilah Takdir Hidup Kita 

Allah subhaanahu wa ta'aala telah mentakdirkan kita ada dalam sebuah perjalanan. Perjalanan yang boleh jadi tidak kita prediksikan sebelum kita ada di sana, dan mungkin juga belum pernah terbetik kata dalam do'a agar kita berada di sana. Tapi Allah memberikan jalan kepada kita untuk ada di antara rentang perjalanan ini. Dan kita sebisa mungkin takkan keluar dari perjalanan ini. Kita berjalan, berhenti, bergerak, dan diam, di jalan itu. Kita berpikir, berkorban, berteman, bersahabat, bersaudara, belajar, berjuang, di jalan itu. Kita, disatukan dalam sebuah amanah yang menjelmakan tanggung jawab dalam hati dan pikiran kita. 

Di sinilah bermula, diawali dengan sebuah tanggung jawab. Tanggung jawab kepada agama, kepada ummat, kepada dakwah, kepada kemanusiaan. Maka kadar ruuhul mas'uuliyah atau ruh tanggung jawab itulah yang menentukan bagaimana kerja-kerja kita di jalan ini. Tingkatan ruuhul mas'uuliyah atau ruh tanggung jawab itulah yang akan seiring sejalan dengan kebertahanan kita untuk tetap ada dijalan ini. 

Bagi orang yang tak memiliki ruh tanggung jawab seperti ini, kita adalah makhluk Allah yang tak menikmati kehidupan. Berpeluh melebihi umumnya orang. Berletih melewati kebanyakan orang. Berada di antara amanah yang mungkin tak cenderung meringan. Tapi justru bertambah banyak, berliku, dan tidak ringan. Berpikir merancang agenda kebaikan dari waktu ke waktu. Mengevaluasi pelaksanaan agenda itu, dari waktu ke waktu. Melaksanakan ragam upaya perbaikan baik untuk diri sendiri dan umat yang begitu banyak dan luas, dengan tingkat problematikanya yang semakin tidak mudah untuk diatasi. 

Individu yang baik harus berlanjut pada bangunan keluarga yang baik juga. Sebab dari sanalah akan terbina masyarakat yang baik. Ummat yang kuat, yang memiliki hubungan keyakinan kuat dengan Penguasa alam semesta, Allah subhaanahu wata'aala. Masyarakat yang kokoh dengan keimanannya, sehingga tak mudah digoyang dan digempur oleh kekuatan perusak yang selalu ingin melemahkan dan menghancurkannya. Ya. Membangun keluarga muslim lah jawabannya. 

Kini, boleh jadi, diantara kita tak sedikit yang melintasi lautan tahun demi tahun dalam biduk rumah tangga yang lama kita impikan itu. Kita ingin mempunyai keluarga langit yang memancarkan cahaya bagi masyarakat. Kita ingin memiliki generasi yang menjadi gelombang kebaikan bagi ummat dan bangsa. Membina tunas-tunas muda yang akan menjadi pohon-pohon besar yang menaungi banyak ke shalihan dan ketaatan yang menyebar dimasyarakat. 

Kini, kita bertanya, bagaimana kabar keluarga kita? Ditengah harapan yang tak pupus untuk melahirkan kebaikan kebaikan lebih luas, para da'i otomatis waktu, perhatian, tenaga, pikirannya banyak tersedot oleh aktifitas dakwah yang cenderung tak menyedikit? Jika dahulu, seorang da’i bisa mengalokasikan waktu, pikiran, tenaga, untuk diri sendiri dan ummat dalam agenda agenda yang sederhana dan simpel. Tapi kini, para da’i harus membagi semua yang mereka miliki, dari kebutuhan ekonomi, kepentingan keluarga, masyarakat, dan ummat dengan dimensi masalah semakin meluas. 

Fuqdaanu At-Tawaazun (Kehilangan Keseimbangan) 

Persoalan yang tidak sedikit terjadi kemudian adalah "fuqdaanu tawaazun" atau kehilangan keseimbangan. Kebutuhan dan perhatian terhadap keluarga tergeser dan terpending karena digantikan dengan kebutuhan dan perhatian ke wilayah lain. Sesekali, penggeseran ini mungkin tidak masalah. Tapi jika ini terjadi berulang dan semakin sering, dipastikan keluarga akan menjadi korbannya. Keluarga kehilangan peran seorang ayah. Anak-anak, seperti yatim meski dengan keberadaan sang ayah. 

Sebuah keluarga, ibarat burung yang terbang tinggi dengan dua sayap. Dua sayap itulah yang akan mengimbangi terbang seekor burung agar tetap stabil. Dalam satu kondisi, ada ayah yang menyerahkan pendidikan anak anaknya kepada sang ibu. Sedangkan ayah sibuk mencari nafkah dan mengembangkan dakwah di banyak sekali ruang. Apa yang terjadi? 

Pertama, akan terjadi al-jafaaal-'aathifi (kesenjangan batin). Jauh di mata jauh di hati, demikian ibaratnya. Bagaimana kondisi anak yang jarang melihat orang tuanya dalam waktu yang lama, kecuali sesekali? Mungkin saja sang ayah memang bekerja, berdakwah, siang dan malam. Tapi apakah yang dirasakan sang anak? Mereka tetap membutuhkan kondisi “kenyang" dalam hatinya sebagaimana mereka membutuhkan kenyang dalam tubuhnya. 

Kedua, khalal wa naqsh fi khibraati al awlaad atau anak mengalami kerancuan dan kurang kapasitas. Anak laki dan perempuan berbeda, sebagaimana Allah berikan kelebihan di masing-masing mereka. Apa yang bisa dan harus diperankan oleh seorang ayah sebagai laki-laki kepada anaknya, pasti berbeda dengan apa yang bisa dan harus diperankan oleh seorang ibu kepada anaknya. Peran kedua kepala rumah tangga ini yang harus bisa dirumuskan, dijalankan sedikit demi sedikit dan di evaluasi dengan baik. 

Ketiga, al-fasyalu fi al-hayah (kegagalan kehidupan). Sukses atau berhasil di dunia dan akhirat adalah harapan orang tua kepada anak-anaknya. Anak yang sukses dan berhasil dalam hidupnya di dunia, adalah bagian dari kesuksesan keluarganya. Dan karenanya, bisa jadi salah satu hasil negatif dari jarangnya ayah berinteraksi dengan anak-anaknya di rumah, adalah salah satu indikator kegagalan anak di masa depan mereka. Kegagalan tak hanya terkait kehidupan mereka terkait pekerjaan dan lingkup pergaulan di masyarakat, tetapi yang lebih besar adalah kegagalan mental dalam menjalani kehidupan. Diawali dengan lahirnya perasaan benci kepada dakwah yang dianggap penyebab ketiadaan peran ayah mereka di rumah. 

Keempat, al-isaa-atu li ad-da'wah (imej negatif untuk dakwah). Ini sudah pasti terjadi jika orang tua sangat jarang berada di rumah bersama keluarga. Karena pentingnya keluarga, maka kesuksesan dakwah para Nabi alaihimus salam juga dijadikan Allah, bersandar dari keluarga pilihan Allah seperti disebutkan dalam surat Ali Imran ayat 33 dan 34. 

إِنَّ ٱللَّهَ ٱصۡطَفَىٰٓ ءَادَمَ وَنُوحٗا وَءَالَ إِبۡرَٰهِيمَ وَءَالَ عِمۡرَٰنَ عَلَى ٱلۡعَٰلَمِينَ ٣٣ ذُرِّيَّةَۢ بَعۡضُهَا مِنۢ بَعۡضٖۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ٣٤ 

“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga 'Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (turunan) dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Ali-Imran 33-34

Keluarga kita adalah karunia. Semoga Allah limpahkan keberkahan kepada kita semua untuk bisa memelihara karunia-Nya... 


Sumber: Majalah Relung Tarbiyah, Edisi 13