Ruh Dakwah dan Takwin Rijaal


Ilustrasi

Dakwah dan tarbiyah adalah upaya pembentukan (takwin) para rijaal dan salah satu model perjuangan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. 

Bersama para rijaal yang kuat dan teguh, sebagai hasil dakwah dan tarbiyah, umat Islam berjuang menyebarkan dakwah dan mengatasi berbagai ujian dan rintangan yang dahsyat. 

وَكَأَيِّن مِّن نَّبِيّٖ قَٰتَلَ مَعَهُۥ رِبِّيُّونَ كَثِيرٞ فَمَا وَهَنُواْ لِمَآ أَصَابَهُمۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَمَا ضَعُفُواْ وَمَا ٱسۡتَكَانُواْۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلصَّٰبِرِينَ 

“Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali-Imran: 146) 

Para rijaal dakwah harus terus tumbuh. Mereka yang menyebarkan dakwah dari zaman ke zaman, melintasi gurun sahara yang tidak bertuan, gunung dan samudera nan luas, menyeberangi negara-negara yang jauh, mencapai benua benua baru sehingga Islam tersebar ke seluruh dunia. Ayat di atas menunjukkan secara kuantitas, jumlah para rijaal dakwah seharusnya mencapai kategori “banyak”. Dan kategori tersebut sangat tergantung dengan beban dan tanggung jawab dakwah yang akan dipikul. 

Perjalanan dakwah ibarat kehidupan. Ia harus tetap hidup secara dinamis dan stabil. Mempertahankan kehidupan dakwah yang demikian, harus ditempuh dengan menjaga kehidupan para penggeraknya. Kehidupan dakwah jauh lebih panjang dari kehidupan para pendukungnya. Karenanya, harus ada strategi untuk memanjangkan perjalanan dakwah dengan memanjangkan kehidupan para pendukungnya, melalui proses pembinaan atau pembentukan generasi. Di sanalah diperlukan ruh dakwah. 

Musibah bagi dakwah dan ummat Islam adalah jika kita lemah dalam usaha-usaha pembentukan rijaal. Roda dakwah menjadi lambat berputar atau bahkan berhenti sama sekali karena penggerak rodanya kehilangan tenaga, hampa dari ruh dakwah yang seharusnya ada. Keseimbangan antara pengembangan pengambilan rijaal dengan peningkatan kualitas adalah keseimbangan yang harus diperhatikan. 

Dalam dimensi ini, dakwah berorientasi membentuk rijaal dakwah yang bersedia memikul dan meneruskan misi dakwah. Pembentukan rijaal (takwiin ar-rijaal) adalah sebuah agenda penting yang mutlak memerlukan kesiapan tenaga murabbi yang akan melahirkan rijaal berkualitas sebagaimana firman Al lah SWT : 

إِن يَكُن مِّنكُمۡ عِشۡرُونَ صَٰبِرُونَ يَغۡلِبُواْ مِاْئَتَيۡنِۚ وَإِن يَكُن مِّنكُم مِّاْئَةٞ يَغۡلِبُوٓاْ أَلۡفٗا مِّنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٞ لَّا يَفۡقَهُونَ 

“Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti.” (QS. Al-Anfal: 65) 

Begitulah Al-Qur’an memberikan kita inspirasi. Maknanya, seorang rijaal yang berkualitas, maka kapasitasnya akan dapat mengungguli sepuluh orang. Sehubungan dengan ini kita dapat melihat firman Allah SWT: 

قَالَ رَجُلَانِ مِنَ ٱلَّذِينَ يَخَافُونَ أَنۡعَمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِمَا ٱدۡخُلُواْ عَلَيۡهِمُ ٱلۡبَابَ فَإِذَا دَخَلۡتُمُوهُ فَإِنَّكُمۡ غَٰلِبُونَۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَتَوَكَّلُوٓاْ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ 

“Berkatalah dua orang diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: "Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman". (QS. Al-Maidah: 23) 

Ayat ini menjelaskan bagaimana dua orang yang telah mendapat dukungan Allah swt meyakinkan kita untuk mendapat kemenangan. Itulah sebabnya ketika Khalid bin Al Walid ra terkepung, ia meminta tambahan pasukan kepada Abu Bakar As Shiddiq sebagai khalifah Islam pada ketika itu. Namun Abu Bakar hanya mengirim seorang dari pasukannya yaitu Qa’qa’ bin Amru At Tamimi dengan mengirimkan surat yang berbunyi: 

“Sebuah pasukan tidak akan mampu dikalahkan jika di dalamnya ada orang seperti dia. Suara Qa’qa’ diantara pasukan lebih baik daripada seribu pasukan.” 

Begitu pula ketika Amru bin Al Ash radhiallahu anhu meminta tambahan bantuan pasukan kepada Amirul Mu’minin Umar bin Al Khattab radhiallahu anhu saat menaklukkan Mesir. Umar ketika itu hanya mengirim empat orang pasukan terbaiknya dengan mengirimkan surat yang berbunyi: “Aku bantu engkau dengan empat ribu orang pasukan. Satu orang mewakili seribu pasukan. Mereka adalah Zubair bin Al Awwam, Miqdad bin Amr, Ubadah bin Shamit dan Maslamah bin Makhlad.” 

Seorang rijaal yang lemah kualitasnya sebenarnya tetap dapat mengalahkan musuh, namun dengan perbandingan berbeda, yakni satu banding dua sebagaimana firman Alah swt : 

ٱلۡـَٰٔنَ خَفَّفَ ٱللَّهُ عَنكُمۡ وَعَلِمَ أَنَّ فِيكُمۡ ضَعۡفٗاۚ فَإِن يَكُن مِّنكُم مِّاْئَةٞ صَابِرَةٞ يَغۡلِبُواْ مِاْئَتَيۡنِۚ وَإِن يَكُن مِّنكُمۡ أَلۡفٞ يَغۡلِبُوٓاْ أَلۡفَيۡنِ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ 

“Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 66) 

Proses pembentukan rijaal untuk memikul dakwah bersifat selektif. Proses ini dalam perjalanan dakwah bukan asing sebab Allah SWT juga memilih Nabi dan Rasul untuk menyampaikan dakwah ini. 

۞إِنَّ ٱللَّهَ ٱصۡطَفَىٰٓ ءَادَمَ وَنُوحٗا وَءَالَ إِبۡرَٰهِيمَ وَءَالَ عِمۡرَٰنَ عَلَى ٱلۡعَٰلَمِينَ 

“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga Imran melebihi segala umat”. (QS Ali Imran : 33) 

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pun dalam perjalanan dakwahnya tidak hanya sibuk berinteraksi dengan masyarakat yang luas, tapi juga fokus memperbanyak batu bata sebagai landasan dakwahnya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berdakwah dengan cara yang seimbang antara pembentukan sumber daya manusia dan pengembangan dakwah. 

Dari metode pembentukan rijaal itu, lahirlah tokoh-tokoh Sahabat radhiallahu anhum. Proses pembentukan rijaal dilakukan dengan pemantauan intensif dengan memperhatikan berbagai kriteria, sehingga menghasilkan generasi unik yang mampu memberi jawaban terhadap tuntutan dakwah yang sedang atau yang akan dihadapi. Apa yang dilakukan pada saat itu sesuai untuk dijadikan rujukan. Bahwa pengembangan gerakan dakwah harus diseimbangkan dengan penguatan asas pendukungnya, memperkuat sisi kualitas maupun kuanti tasnya. 

Mengenai hal ini, Ustadz Musthafa Masyhur mengatakan bahwa , “Penjagaan keseimbangan antara rekrutmen dan pem bentukan rijaal dilakukan untuk menyelar askan hasil rekrutmen dakwah dan kemampuan proses pembentukan (takwin). Ini bertujuan agar tahap pembentukan tidak mengalami penurunan disebabkan ban yaknya hasil rekrutmen yang tidak mampu ditangani proses pembentukannya.” 

Semoga Allah swt memberi kekuatan kepada kita agar agenda pembentukan rijaal atau pengukuhan landasan utama gerakan dakwah terus berlangsung hingga Allah swt mentakdirkan kita semua menjadi pendukung utama yang mengembalikan agama ini pada sejarah kejayaannya.



Sumber: Majalah Relung Tarbiyah, Edisi 2