Menang Perkara di Dunia

Ilustrasi
Oleh : Solikhin Abu Izzuddin

Barangkali seseorang menang perkara di dunia karena kepiawaiannya dalam bicara, mengandalkan retorika, membolak balikkan fakta dan data, memainkan logika serta menggunakan kuasa uang atau jabatannya, namun itu takkan lama. Tunggu saja tanggal mainnya. Jangan pernah merasa bangga dimenangkan perkaranya di dunia, karena bisa jadi itu cara Allah untuk menghinakannya. Dengan cara-Nya. 

Atau pernah kepikiran untuk curang atau menyimpang? Kalau Anda mau curang, pikir-pikir dululah. Bisa jadi seseorang merasa memang berperkara di depan pengadilan karena berbagai kiat dan strategi serta trik-trik yang dimiliki untuk memenangkan perkaranya di pengadilan. Namun itu bukan jaminan kalau akhir hayatnya dia akan diselamatkan.

Mari kita renungkan kisah berikut ini terlebih dulu. Bisa jadi suatu ketika seseorang dimenangkan oleh pengadilan yang berpihak kepadanya. Namun ketahuilah, Allah lebih tahu siapa yang benar-benar menjaga kejujuran dengan siapa yang mencari pembenaran. 

Diriwayatkan Ummu Salamah ra. katanya, 

“Dua orang laki-laki berselisih tentang harta, sedang keduanya masing-masing tidak mempunyai saksi dan keterangan, selain dari pengakuan masing-masing. Seorang mengatakan, harta itu kepunyaannya dan seorang lagi mengatakan kepunyaannya pula. Lalu keduanya minta hukum (putusan) pada Rasulullah saw. dan ketika itu dalam hati keduanya memendam perasaan mementingkan diri sendiri.”

Rasulullah saw. menyampaikan sesuatu ke telinga mereka hingga menyentuh hati keduanya. Sabda beliau, 

‘Sesungguhnya aku ini seorang manusia. Kalian berselisih dan meminta keputusan padaku. Boleh jadi yang seorang lebih pintar dan lebih lancar bicaranya dari yang lain dalam memberikan alasan, lalu aku memenangkan yang pandai bicara berdasarkan apa yang aku dengar. Oleh sebab itu, kalau aku memenangkan seseorang tidak menuruti keadaan yang sebenarnya, maka janganlah diambil sedikit pun, karena itu berarti aku memberikan kepada orang yang menang itu sepotong api neraka.’

Kedua lelaki yang berperkara itu, setelah mendengar kalimat yang dalam ini, tergetarlah tali keimanan dalam hati keduanya. Tumbuhlah kesadaran khauf (takut) kepada Allah dan siksaan di hari akhirat. Akhirnya laki-laki itu sama-sama menangis dan masing-masing mengatakan pada kawannya, ‘Aku berikan kepunyaanku padamu, ambillah!’ 

Sabda Rasulullah saw., ‘Apabila kalian mau berbuat demikian, maka bagilah dan laksanakan yang sebenarnya.’ Lalu dibagilah dengan adil tiada kurang, tiada lebih.” (Iman dan Kehidupan, D.r. Yusuf Al Qaradhawi, 1987)

Kemenangan iman

Kita belajar cinta yang bekerja dengan sesungguhnya pada seorang tabi’in yang ahli ibadah bernama Salm ibn Qutaibah al-Bahil al-Bashri yang bersengketa dengan sepupunya sendiri. Salm sudah sangat geram dan hendak membawa perkara ke meja pengadilan. Namun anehnya, tetiba Salm memutuskan untuk tidak meneruskan kasusnya demi memuliakan dirinya dan menghindarkan dari keburukan yang bakal ditimpakan padanya. 

Basyir ibnu Ubaidillah bin Abi Bakrah yang sedang bepekara dengan lawannya menemuiku di ruang pengadilan. Dia bertanya, “Ada apa engkau berada di sini?” 

“Ada perseteruan antara aku dan sepupuku. Dia mengklaim bahwa seluruh isi rumahku adalah miliknya,” jawabku.

Basyir lalu berkata, “Ayahmu dulu banyak membantuku. Kini aku hendak membalasnya dengan cara membantumu. Demi Allah, aku tidak melihat sesuatu pun yang lebih menghancurkan agama, merusak sikap ksatria, menyia-nyiakan kenikmatan, dan membuat hati galau daripada perseteruan.”

Mendengar hal itu, aku segera beranjak melangkahkan kaki untuk pergi. Lantas sepupuku bertanya, “Mengapa engkau pergi?”

“Aku tidak ingin berseteru denganmu,” jawabku. Dia lalu menukas, “Berarti engkau mengakui bahwa aku benar.” 

“Bukan. Aku hanya ingin memuliakan diriku dari hal ini,” tukasku. Aku pun urung melanjutkan kasus perseteruanku itu di pengadilan.

Muliakan dirimu dengan menghindarkan diri dari persengketaan. Angkat derajatmu dengan memaafkan.

Integritas bicara: sesuaikah perkataan dengan tindakan? Selaraskah antara keyakinan, ucapan dan perbuatan? Orang beriman dididik dan ditarbiyah melalui jalan yang panjang bukan sekadar transfer ilmu namun transfer hidayah. 

Saudaraku, ukuran hidup kita yang sesungguhnya adalah kemenangan iman. Kita tahu bahwa telah ada seseorang yang tidak bersalah, dicari-cari kesalahannya kemudian diputuspaksaan agar dipenjara menjalani hukuman. Bukan karena kesalahannya namun karena dipaksa untuk bersalah.

Rasulullah sebagai pengambil keputusan yang adil di dunia, beliau menyerahkan urusan dan keputusan kepada masing-masing yang berperkara. Beliau mengarahkan hati manusia kepada khauf kepada Allah. 

Barangkali seseorang menang perkara di dunia karena kepiawaiannya dalam bicara, mengandalkan retorika, membolak balikkan fakta dan data, memainkan logika serta menggunakan kuasa uang atau jabatannya, namun itu takkan lama. Tunggu saja tanggal mainnya. 

Allahu a’lam bish shawab.