Kita dan Ruh Dakwah yang Kembali

Ilustrasi
Keimanan selalu melahirkan harapan. Keimanan tak memberi celah sedih kecewa yang menghentikan gerak dan melemahkan amal. Keimanan menumbuh suburkan semangat. Kebalikan dari sikap-sikap itu, adalah milik kekufuran, ketidakimanan, ketidakislaman. Ketika itu, Nabiyullah Yaqub alaihissalam melihat ada keputusasaan dalam rona wajah dan prilaku putra-putranya setelah tak berhasil menemukan saudara mereka, Yusuf alaihissalam

Semangat, spirit, selalu positif dalam melihat permasalahan, tetap melihat ada celah harapan di balik semua kesulitan. Para penyeru dakwah sangat memerlukan ruh dan spirit ini. Hari-hari ini, kita mungkin tengah merasakan dan menyaksikan ada inhizaam nafs (kekalahan mental) karena melihat peristiwa dan situasi yang semakin tidak sejalan dengan cita-cita dan nilai perjuangan dakwah yang selama ini diusung. Di saat-saat seperti ini, kita penting untuk sama-sama mengambil pencerahan dari firman Allah SWT, 

أَوَ مَن كَانَ مَيۡتٗا فَأَحۡيَيۡنَٰهُ وَجَعَلۡنَا لَهُۥ نُورٗا يَمۡشِي بِهِۦ فِي فِي ٱلنَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُۥ فِي ٱلظُّلُمَٰتِ لَيۡسَ بِخَارِجٖ مِّنۡهَاۚ 

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya?..” (QS. Al-An’am: 122) 

Juga Firman Allah SWT, 

أَفَمَن شَرَحَ ٱللَّهُ صَدۡرَهُۥ لِلۡإِسۡلَٰمِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٖ مِّن رَّبِّهِۦۚ فَوَيۡلٞ لِّلۡقَٰسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكۡرِ ٱللَّهِۚ 

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah.” (QS. Az-Zumar: 22) 

Apakah kita merasakan perjuangan dakwah ini sedang melemah dan tengah diuji dan kita tetap ada di atas jalan ini? Apakah kita merasa cita-cita yang selama ini dibangun menjadi hampir tak berarti atau bahkan kita kalah dalam memperjuangkan prinsip-prinsip kebaikan yang kita perjuangkan? Atau apakah kita merasa telah melakukan dan menempuh jalan yang keliru dalam jalan dakwah ini? Apakah kita merasa bahwa waktu terlalu lama kita lewati dan tak ada perbaikan ke arah kondisi seperti yang kita harapkan, lalu dakwah tak juga kunjung mencapai sasarannya? Apakah kita merasa bahwa dakwah begitu dikepung dan dibelenggu sehingga menjadi tumpul dan tak berhasil mencapai target perjuangannya? Apakah kita terbiasa melakukan banyak agenda dakwah namun itu dilakukan secara rutinitas belaka layaknya seorang pegawai dalam perusahaan? 

Masih banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang mungkin bisa diangkat. Pertanyaan yang menyingkapkan bahwa para pejuang dakwah sedang mengalami kekalahan mental, kurangnya spirit perjuangan di atas jalan dakwah. Dan itu artinya, kita sangat perlu untuk mengembalikan semangat itu kembali dalam barisan dakwah ini. Persis seperti yang diwasiatkan oleh para ulama dakwah, 

“Kalian adalah ruh baru yang mengalir di hati ummat ini, lalu menghidupkannya dengan Al Qur’an . Cahaya baru yang menyinari dan menyingkap kegelapan materi dengan ma’rifatullah. Dan suara yang menyerukan kembali pada seruan Rasulullah shallalahu alaihi wa sallam.” 

Prinsip itu yang pernah membina kita bersama para guru dakwah di atas jalan dakwah ini. Semangat itu yang dahulunya mendorong kita bersama-sama untuk terjun dalam beragam amal dakwah dan mengorbankan banyak kepentingan di jalan ini, demi satu tujuan, tegaknya dakwah dan menebarkan banyak kebaikan bagi masyarakat yang kita cintai ini. 

Kehilangan spirit. Ketika keimanan melemah dalam hati, dan kita tidak memiliki pemahaman yang mendalam lagi kepada dakwah lalu berpaling sedikit demi sedikit dari kerja-kerja dakwah yang harusnya berkelanjutan. 

Ketika dunia lebih kita utamakan dari akhirat dalam prioritas. Ketika terjadi tarik menarik antara kepentingan pribadi dan kepentingan dakwah, lalu kita serahkan dan tunduk pada keinginan kita pribadi. Ketika kita dilumpuhkan oleh penyakit yang mematikan “kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dunia yang begitu mendominasi, dan kebanggaan masing-masing kepada pendapatnya”…. 

Kefika itu terjadi, berarti kita kehilangan ruh dakwah.... 

Ketika keberadaan kita di masjid makin sedikit. Ketika kita kurang memperhatikan keutamaan shaf pertama di dalam masjid. Ketika kita malas melakukan shalat nawafil, puasa sunnah, witir, dan keberadan kita berkurang di shalat subuh berjamaah di masjid. 

Ketika kita tidak mengandalkan wazhifah (dzikir) pagi dan sore. Ketika kita membacanya dalam suasana kering dan tanpa kesadaran dzikir. Ketika kita melalaikan kewajiban tilawah Al Qur’an minimal satu hari satu juz... 

Ketika orang-orang zalim berhasil memecahkan semangat kita atau memandulkan kita. Ketika kita tunduk dan mengikuti isu-isu yang tak jelas tentang dakwah ini, tentang fikrah ini, tentang pemimpin dakwah ini. Ketika kita seperti menyerahkan, membiarkan dan bahkan membenarkan mereka memberitakan banyak hal tentang kekurangan dan kelemahan shaf dakwah dan para pemimpinnya. 

Ketika kita jatuh terpeleset dan lalu terperosok ke lembah yang mereka inginkan. Ketika kita mengangkat tangan tanda menyerah dan menerima skenario yang mereka ciptakan. Ketika terjadi gab antara ucapan dan perbuatan kita. Ketika bertolak belakang antara realitas yang kita alami dan kewajiban yang harus kita lakukan. 

Ketika kita banyak berbicara tentang keuntungan materil dalam dakwah ini. Ketika “aku” mendominasi “kita” dalam barisan dakwah ini. Ketika perhatian kita banyak tertarik pada urusan syahwat, lebih tunduk pada dunia dan kenikmatan dunia. Ketika dunia menjadi lebih kita perhatikan dan menjadi pucuk ilmu kita. Ketika di antara kita ada yang mirip dengan firman Allah SWT “minkum man yuriidu dunia”.... dan di antara kalian ada yang menghendaki dunia. 

Ketika itu terjadi, berarti kita kehilangan ruh dakwah.... 

Ketika kita begitu kuat melekat pada bumi dan begitu berat ruh terangkat ke langit. Ketika azimah dan tekad kita berubah menjadi wahan yang membayangkan kecintaan pada dunia dan ketakutan pada kematian. Ketika obsesi terbesar kita adalah bagaimana mencapai sebab-sebab kehidupan yang nyaman hanya untuk keluarga dan anak-anak, kemudian berdampak pada dakwah yang hanya berjalan dalam rutinitas tanpa ruh. 

Ketika kita berulangkali mencari kesempatan untuk menghindar dari agenda dakwah. Ketika kita kikir harta terhadap dakwah, kikir waktu, kikir pemikiran, kikir harta, kikir berkorban, terhadap dakwah. 

Ketika itu terjadi, berarti kita kehilangan ruh dakwah ini.... 

Dan kehilangan itu memberi dampak sangat luas pada individu maupun organisasi dakwah : 

Bertambahnya jumlah pengangguran dakwah (al-bathalah ad-da’wiyah). Sedikitnya orang yang mau memikul perjuangan dakwah. Sedikitnya orang yang berpandangan ingin menyelamatkan diri, dan ummatnya dari keburukan. Banyaknya orang yang memantau dan mengkritisi saudaranya yang mungkin terpeleset dan salah. Banyaknya para pengkritik yang menyakitkan. Berubahnya seorang saudara aktifis dalam dakwah, dari sebelumnya yang menjadikan dakwah sebagai obsesinya menjadi seperti karyawan yang hanya menjalani tugas tanpa ruh. Menunggu waktu usai dari bekerja dan begitu gembira bila datang waktu cuti atau libur. Lalu bersedih bila ada tugas yang dianggap memberatkan. 

Ketika itu terjadi, jumlah pegawai akan semakin banyak, tapi jumlah orang yang memiliki semangat bekerja akan semakin sedikit. Perjalanan dakwah akan tertatih-tatih, meskipun skala jumlahnya banyak. Misi dakwah akan terpikul tapi secara perlahan, meskipun ada jumlah orang yang membawanya, karena tanpa ruh. Semakin banyak bicara, semakin sengit berdebat, tapi minim dalam penerapan dan kerja. Ketika itu terjadilah, amal tanpa buah, dan kesungguhan tanpa bekas. 

Pertolongan Allah tertahan datang. Target-target dakwah terhambat sampai. Proyek peradaban Islam terlambat dirasakan. Lalu, kepercayaan masyarakat terhadap dakwah menurun. Rasa kalah mental menyebar. Apatis, pasrah terhadap keadaan. Lalu meski tetap ada kesuksesan dan keberhasilan dakwah, tertutup oleh selimut apatis yang hanya memantik semangat sejenak, lalu redup kembali atau merasa cukup dengan capaian dakwah yang kecil dan formalitas sifatnya. Pragmatisme, menerima solusi sektoral dan tawaran yang hanya bersifat permukaan. 

Kita harus kembali. Mengembalikan ruh dakwah yang pernah menjauh atau pergi. Kembali kepada Al-Qur`an. Kembali kepada Sunnah. Kembali pada risalah perjuangan dakwah dan metode tarbiyah. Kembali pada langkah-langkah dakwah yang dinamis. Kembali lagi pada zaman Al-Ma’tsuurat. Kembali lagi pada Tarbiyah yang pernah indah di zaman-zaman lalu. 

Kembalinya ruh dakwah, datangnya spirit tarbiyah, tercermin pada keyakinan terhadap dakwah itu sendiri. Dakwah yang menyeru manusia kepada Islam. Dakwah yang peduli pada beban masyarakat dan ummat. Dakwah yang memunculkan rasa bersalah jika kita abai terhadap hak-hak masyarakat dan ummat. Tercermin pada kuatnya cinta pada dakwah itu sendiri, keikhlasan dan berusaha mengedepankan kepentingan dakwah. 

Dakwah adalah hati dan pikiran kita. Jika dua dimensi itu telah wujud, ia akan mampu melawan kecenderungan syahwat dan akan meleburkan kebaikan dalam diri. Ketika itu, ucapan kita, tulisan kita, rasa dan sentimen kita, adalah tentang dakwah. 

Kembalinya ruh dakwah bisa terjadi bila kita melakukan evaluasi diri, melihat kembali perjalanan di belakang, meneguhkan yang benar dari perjalanan itu, dan meraba kesalahan langkah yang telah dilakukan untuk diluruskan. Mencari mercusuar dan menara hidayah agar perahu dakwah berjalan di atas arah yang benar. Memeriksa prilaku, memperbaharui janji untuk memperbarui keimanan, membaguskan akhlak dan memperbaiki perjalanan yang ditempuh. Menjadi panutan bagi masyarakat agar membantu mereka menapaki jalan yang benar. 

Hari-hari seperti ini, kembalinya ruh dakwah menjadi kewajiban zaman yang harus menjadi fokus perhatian para Murabbi bersama para juru dakwah yang lain. Seperti ungkapan ulama dakwah, Hasan Al-Banna rahimahullah : 

“Sesungguhnya sejarah bangsa-bangsa seluruhnya adalah sejarah yang memunculkan rijaal (pejuang) unggulan yang kuat secara mental jiwa dan kehendak. Sungguh kekuatan dan kelemahan ummat ini sama dengan kapasitasnya untuk melahirkan para rijaal yang benar-benar memiliki syarat pejuang sejati. Aku yakin, didukung fakta fakta sejarah, bahwa satu orang mampu membangun ummat ini bila ia benar-benar memiliki kapasitas selaku pahlawan. Dan satu orang juga bisa menghancurkan ummat ini jika “kepahlawanan” itu digunakan untuk menghancurkan dan bukan melakukan pembinaan.“ 

Ini ruh dakwah yang ingin kita kembalikan melalui penguatan persaudaraan dan kebersamaan kita di jalan ini. Allah Maha Kuasa atas perkara-Nya. Allahu Akbar wa lil lahil hamd.

Sumber: Majalah Relung Tarbiyah, Edisi 2