Ketika Ayah Lebih Bermafaat di Luar Rumah

Ilustrasi
Tarbiyah adalah metode untuk melakukan perubahan ke arah kebaikan, merubah dari teori menjadi sikap atau prilaku, merubah dari nilai-nilai dan norma menjadi etika yang nyata. Sikap, prilaku, realita yang mencerminkan aqidah. Sikap, prilaku, etika nyata, yang ada dalam kebiasaan, dalam tradisi, yang terus menerus ada dalam kehidupan seorang manusia. 

Tapi pernahkah kita memikirkan ternyata tidak sedikit di antara kita yang lebih memandang urgensi tarbiyah adalah untuk membangun generasi, yang bukan anak keturunannya sendiri? Mungkin asing dan tidak enak kita mendengarnya, meski faktanya tidak sedikit diantara kita para da'i saat ini yang lebih banyak memikirkan, berinteraksi, membimbing, mendidik, memantau, perkembangan peserta tarbiyah yang bukan anak biologisnya. Sebab anak-anaknya di rumah justru kurang perhatian orang tua, utamanya ayahnya. Sang ayah yang sibuk bekerja dan berdakwah itu, seperti bermanfaat untuk "anak orang" dan sangat kurang untuk anaknya sendiri. Sang suami yang begitu serius mencari nafkah dan terjun dalam aktifitas dakwah itu, seperti bermanfaat untuk keluarga di luar sana, tapi tidak banyak tahu tentang perkembangan keimanan isteri dan anak-anak. Tidak banyak waktu untuk membimbing isteri dan anak-anak yang ternyata masih belum fasih membaca Al-Qur'anul karim. Tidak memiliki sisa tenaga yang cukup untuk mengetahui dan memantau pemahamannya dalam agama. 

Begitu memprihatinkankah? 

Mari jawab pertanyaan-pertanyaan ini. Pernahkan kita berpikir bahwa agenda-agenda tarbiyah yang kita jalani untuk kelompok-kelompok tarbiyah itu berlaku dan berjalan di keluarga kita? Pernahkah kita berpikir bahwa manhaj (kurikulum) tarbiyah yang tersusun dengan ragam fase dan muwashofat (karakteristik) itu juga harusnya menjadi rujukan kita mengevaluasi perkembangan dan kondisi keluarga, istri dan anak-anak? Atau, apakah menjadi cukup sekedar menyekolahkan anak-anak di sekolah-sekolah Islam? Bagaimana juga yang ternyata sekolah tidak di sekolah agama? Tentang istri yang banyak berinteraksi dengan anak-anak, apakah kita merasakan lapang dengan melihat istri kita ikut dalam aktifitas pengajian rutin dan tidak perlu banyak mengevaluasi perkembangan dan kemampuannya? 

Pengorbanan Istri pada Da'i

Seorang da’i memang bukan manusia biasa. Terlebih saat tuntutan mencari nafkah semakin menguras waktu dan tenaga. Ditambah kewajiban memenuhi tugas dakwah yang tak pernah berhenti. Isteri dan keluarga da'i juga bukan sosok dan keluarga biasa. Mereka ibarat keluarga para ulama dan pejuang umumnya yang memang tidak bisa menikmati banyak kebersamaan dalam keluarga, sebagaimana orang lain pada umum nya. Lihatlah pengorbanan istri para ulama. Jika dibandingkan dengan pengorbanan waktu para istri ulama terdahulu maka pengorbanan waktu para istri di zaman ini sebenarnya masih jauh. 

Para ulama meninggalkan istri mereka selama berbulan-bulan dan bertahun tahun untuk menuntut ilmu, berdakwah dan berjihad. Begitu juga dengan ustadz-ustadz yang sering pergi ke berbagai daerah selama beberapa pekan. Jika hanya ditinggal beberapa jam saja dan tetap pulang pada hari itu tentu belum seberapa. Sebagai perbandingan, lihat bagaimana istri ulama besar, syaikh Muhammad bin Shalih Ibnu Utsaimin yang istrinya sempat buta huruf, tidak sempat belajar karena membantu dan mendukung suaminya. Istri beliau bertutur, "Ini mungkin tidak diketahui sebagian besar orang bahwa saya buta huruf dan tidak menerima sedikitpun pendidikan formal. Ketika saya pertama kali menikah dengan Syaikh, saya benar-benar sibuk melayaninya dan memberikannya kebenaran, lingkungan yang nyaman agar dapat menuntut ilmu dan mengajar. Setelah kami memiliki anak, saya sibuk dengan mereka, mengambil semua waktu saya untuk membesarkan mereka, disamping waktu yang saya habiskan untuk membantu dan mendukung Syaikh dalam menuntut ilmu." 

Kisah di atas bicara tentang keberkahan yang menyertai kehidupan keluarga para da'i. Sedikitnya waktu, kurangnya interaksi dengan keluarga, banyaknya tanggung jawab yang dipikul di luar rumah, jika dikembalikan pada Allah, pasti akan turun keberkahan Allah. Meski harus ada jalan keluar dari kondisi tarik menarik yang begitu kuat antara dua kewajiban ini. Jangan sampai kesibukan kerja dan berdakwah di luar membuat lupa dengan kebutuhan interaksi dengan keluarga dan dakwah dikeluarganya. Firman Allah yang pasti sering kita dengar dan ucapkan adalah, 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا 

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..” (QS. At-Taahrim:6

Ar-Razi rahimahullahu menjelaskan ayat ini mengutip perkataan Muqatil rahimahullahu, 

“Seorang muslim mendidik dirinya dan keluarganya, memerintahkan mereka kebaikan dan melarang dari keburukan". (Tafsir Ar-Rozi, Mafaatihul Ghaib) 

Apa solusinya, apakah kemudian kita mengurangi perhatian dan dakwah di luar rumah? 

Menyiasati Keseimbangan Antara Dua Kewajiban 

  • Buat jadwal khusus untuk pengajaran istri dan anak-anak karena merekalah komunitas yang pertama dan utama yang berhak mendapat pengajaran dari suami. 
  • Jika pulang majelis ilmu jelaskanlah dan ringkas ilmu yang diperoleh kepada istri dan anak-anak. Tak lama, bisa sekitar 5-10 menit, demikian juga jika setelah membaca buku. Sang istri juga harus semangat meminta dijelaskan dan menuntut ilmu dari suaminya. 
  • Menyisihkan waktu untuk mendengarkan setoran hapalan istri berupa hapalan Al-Quran atau hadits atau doa sehari-hari, karena istrilah yang lebih mendominasi waktu di rumah sehingga pengajaran ke pada anak-anak bisa semaksimal mungkin. 
  • Berdo'a dengan sungguh-sungguh agar mendapat taufiq dari Allah dalam menjalani hari-hari yang penuh dengan amanah ini dengan baik. 
  • Sering-sering berkomunikasi dengan keluarga, dengan isteri dan anak-anak, melalui alat komunikasi. Komunikasi ini penting dan menjadi pengikat dengan keluarga, sehingga isteri dan anak-anak tetap mendapat saluran kontrol dan hubungan batin dengan orang tua. 
  • Panggil semua anggota keluarga dengan sebutan yang mereka sukai. Ini mungkin sederhana tapi pengaruhnya sangat kuat untuk mengikat rasa kasih dan sayang dengan keluarga.

Sumber: Majalah Relung Tarbiyah, Edisi 13