Harus Ada "Kelahiran" Baru

Ilustrasi
Semua aspek yang harus dipenuhi dalam proses tarbiyah, penting. Tapi semua aspek tarbiyah harus dimulai dari permulaan yang benar, yaitu Tarbiyatu Ar-ruuh, mentarbiyah jiwa.

Harus ada “kelahiran yang bersifat baru” sehingga semua aspek individu pendukung dakwah lebih dahulu diperbaiki, baru kemudian usaha agar perbaikan terus dilakukan. 

Dikisahkan Isa Alaihis Salam mengatakan kepada para pendukungnya yang disebut al-hawariyyun: “ Kalian takkan bisa menembus kerajaan langit, sampai kalian mengalami kelahiran dua kali.” Kata-kata ini dijelaskan oleh Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah : “Sesungguhnya jika orang tak mengalami kelahiran jiwa dan hatinya, berarti ia masih dalam plasenta, tidak terlepas dari kegelapan tabiat dirinya, hawa nafsunya dan segala ambisinya. Orang itu masih seperti janin di dalam perut ibunya, yang belum melihat dunia dan seisinya. Ia seharusnya terlepas dari plasenta jiwa dan tiga kegelapan ; kegelapan jiwa, kegelapan tabiat dan kegelapan hawa nafsu, itulah ke lahiran kedua yang seharusnya.” 

Ada dua jenis hati dalam kelahiran ini. Pertama, hati yang belum dilahirkan ibarat masih berupa janin yang ada dalam perut syahwat, kejahilan dan kesesatan. Kedua, hati yang telah lahir ke alam tauhid dan ma’rifah, yang telah terlepas dari kegelapan hawa nafsu dan telah kuat bersama Allah SWT. Merasakan kenikmatan cahaya tauhid, menolak takluk oleh kecintaan dan kerinduan kecuali pada sumber kebahagiaan. Kelahiran hati, itulah yang membedakan antara kita dan generasi sahabat radhiallahu anhum sebagamana disebutkan dalam sebuah atsar : 

“Sungguh mereka tidak mengungguli kalian karena banyak shalat dan puasa, tapi mereka mengugguli kalian dengan sesuatu yang menetap kuat di dalam hati.” 

Tidak akan menjadi baik akhir ummat ini kecuali dengan sesuatu yang menjadikan baik pada awal ummat ini. Setiap kali keyakinan dalam hati melemah, akan semakin tinggi jiwa terkontaminasi dengan penyakit hati. Demikian juga yang terjadi pada sebuah organisasi atau pergerakan. Turunnya ruhiyah para anggota dan para pimpinan dalam organisasi, semakin membuka peluang menyebarnya penyakit ketidakpedulian, kesenjangan, menurunnya semangat dan menghilangnya rasa memiliki terhadap Islam dan semua hal yang harus dijaga dari ummat Islam. 

Kondisi keshalihan yang ada dalam hati, adalah kilauan ruh yang akan memancarkan cahaya dan menyinari siapa saja yang ada di sekitar pemiliknya. Inilah yang dikatakan oleh Ibnul Jauzi rahimahullah : “Siapa yang baik di kala sendiri, hatinya akan menebar kebaikan kepada yang ada di sekitarnya. Sungguh yang menjadi penilaian adalah di kala sendiri, dan keshalihan zahir tidak ada artinya bila dibarengi kerusakan batin.” 

Pengaruh yang memancar pada orang lain, itulah tujuan mulia yang dikehendaki oleh dakwah. Dan itu tidak bisa didapatkan kecuali dengan mihrab, tempat kita bersama Allah, tidak bersama siapapun. Kekuatan di aspek ruhy akan menjadikan kita selalu waspada dan sadar terhadap situasi, sebab segala kebiasaan bisa berubah menjadi ibadah bila kita melihat dan melakukannya dalam mizan Allah SWT. Kebalikannya orang lalai yang justru ibadahnya berubah menjadi kebiasaan yang tidak mendatangkan sesuatu, dan tanpa ruh. Itu yang dikatakan oleh Al-Imam An-Nawawi : 

“Kebiasaan orang yang sadar (ahlul yaqzhah) adalah ibadah. Dan ibadahnya orang yang lalai (ahlul ghaflah) adalah kebiasaan.” 

Karena itulah, kepekaan seseorang jika mengalami kekurangan dalam menunaikan hak Allah, dan hak Islam, hak umat Islam, hak dakwah, hak gerakan dakwah, akan berfungsi cepat, terprogram dan memunculkan peringatan waspada jika kita mengalami penurunan dalam hal keimanan, sejak kita ada di awal penyimpangan, ada pengingat yang segera menyadarkan. 

Mandulnya kepekaan adalah saat mengalami kondisi kurang dalam ibadah, adalah kondisi awal lemahnya keimanan, akhlak dan lainnya. Seseorang tidak terkena musibah mandulnya kepekaan, kecuali ketika terjadi kekeringan ruhiyah yang disebabkan menumpuknya penyebab yang menjadikan dinding hatinya menjadi gersang. Andai tak segera mendapat petunjuk Allah, segera tersadar dan tidak segera mengikat diri kembali pada Allah, akan banyak sekali kondisi buruk yang terjadi. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Aku masuk kepada Allah melalui seluruh pintu ketaatan. Ternyata kulihat semua pintu itu telah penuh sesak sehingga aku tak mungkin lagi memasukinya. Sampai aku masuk pada pintu kehinaan dan kefaqiran kepada Allah, itulah pintu terdekat kepada Allah dan pintu paling luas. Tak ada yang berdesakan di situ dan tak ada yang menjadi penghalang. Tidak lain hal itulah yang kulakukan, sehingga aku meletakkan kakiku di depan pintu itu, lalu Allah SWT “mengambil” tanganku dan “memasukkan” ku kepada-Nya.”

Sumber: Majalah Relung Tarbiyah Edisi 2