Air Mata Murabbi

Ilustrasi
Mari kita mulai pembicaraan kita tentang “Air Mata Murabbi” (Dumuu’ul Murabbi)" dari kalimat-kalimat yang dituliskan Syeikh Ahmad Ar Rashid, dalam kitab berjudul - Al-Masaar.

Ya, beliaulah yang memunculkan istilah ini dalam bukunya. Ia menulis dengan penuh kedalaman rasa melihat pentas perjuangan dakwah saat ini. Ia mengaku sebenarnya berat mengungkapkannya, namun ia juga merasa harus menyampaikannya. Mari kita simak ungkapan beliau :

Ikhwah, kalimat yang ditulis ini mungkin tak nyaman untuk didengarkan. Tapi ini adalah fakta. Kalimat ini kami ambil dalam konteks ini dari ucapan tulus seorang ulama Sofyan Ats-Sauri rahimahullah. Suatu hari Sofyan terlihat berduka. Seseorang bertanya, “Apa yang membuatmu berduka?”. Ia menjawab: “Kami telah menjadi tempat dagang bagi para pencari dunia. Salah seorang dari mereka bersama kami untuk kami tarbiyah dan kami bina. Namun, setelah ia menjadi tahu, lalu ia jadi pekerja.”

Syeikh Ahmad Ar-Rasyid menanggapi perkataan Sofyan Ats-Sauri itu :

"Sungguh, ini fakta yang menyakitkan, tapi ini adalah fakta dalam kehidupan kebanyakan aktifis dakwah. Di mana dakwah telah mengajarkan kefasihan dan ketrampilan banyak hal kepada mereka, sehingga mereka mendapatkan banyak peluang bagus. Namun, ketika mereka memperoleh dan mengambil peluang itu, mereka pun futur dari dakwah.

"Atau, dakwah telah membuka untuk para pejuangnya itu peluang studi untuk melanjutkan ke pasca sarjana. Banyak ikhwah yang membantu melalui berbagai pihak di pemerintahan untuknya agar mendapatkan peluang studi di luar negeri atau peluang pertukaran pelajar. Mungkin juga ada ikhwah lain itu telah membantunya dengan harta, lalu, ada juga ikhwah yang terlebih dahulu ada di luar negeri mendampinginya selama berada di luar negeri, membentenginya agar terlindung dari berbagai godaan. Namun, begitu sang akh lulus dan kembali ke tanah air, ia menjadi futur dari aktifitas dakwah dan berfikir mencari alasan untuk tidak terlibat dalam aktifitas dakwah".

“Itulah yang disebutkan bahwa dakwah telah menjadi tempat berjualan bagi para pencari dunia. Ada rentang waktu ia mewajibkan dirinya dalam dakwah, tapi kemudian setelah menjadi pejabat tinggi, atau misalnya dosen spesialis atau pakar tertentu, ia lalu meninggalkan dakwah. Menyendiri membangun masa depannya sendiri.”

Di akhir makalahnya, Syeikh Ahmad Ar-Rasyid mengatakan, “Karena itu, bulatkan tekad untuk tetap setia kepada dakwah yang berkah ini. Jadikanlah ijazah perguruan tinggi di bidang apapun, dan di jabatan apapun yang diperoleh, adalah untuk pengabdian pada dakwah. Jika tidak, maka urusannya seperti perkataan sebagian salafus-salih: “Sesungguhnya, sedikit sekali orang yang ingin mendapatkan jabatan dan popularitas, ketika ia memperolehnya, lalu ia dapat keluar dengan selamat dari fitnahnya.”

Sampai di situ uraian Syeikh Ahmad Ar-Rasyid. Dan itulah salah satu moment air mata murabbi menitik.

Bagaimana ada sejumlah orang yang hidup dalam dekapan dakwah, berkembang dengan sokongan dakwah, meniti banyak kewajiban dengan bantuan dan dukungan dakwah, terpelihara dengan baik oleh lingkungan dakwah, tapi setelah semuanya telah diperoleh, ia meninggalkan dakwah dan membangun masa depan pribadinya sendiri dan keluarganya.

Mungkin ada pula kontribusinya kepada ummat dan dakwah, tapi masih terlalu jauh dari apa yang seharusnya. Mereka bak ungkapan “kacang lupa kulitnya”, karena meninggalkan semua hal yang telah menjadikannya besar, untuk kemudian mencari kepentingan untuk skup yang kecil dari tanggung jawab besar yang harusnya ia pikulkan dalam dakwah.

Air mata Murabbi menitik bukan karena kecewa karena merasa sia-sia memberikan pengajaran, pendidikan, pembinaan hingga objek dakwahnya benar-benar menjadi orang yang mumpuni. Tapi lebih disebabkan karena perjalanan dakwah yang sebenarnya membutuhkan seperti orang-orang yang dipersiapkan untuk memikul tugasnya di dalam perjuangan.

Al Qur’an menyinggung hal ini dalam Surat At Taubah ayat 24: “Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasulnya dan (dari) berjihad di Jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”

Ketika tarikan duniawi begitu kuat hingga melucuti komitmen sebagian pejuang dakwah yang telah dibina. Ketika itulah, air mata murabbi menitik.

Air mata seorang murabbi. Air mata mereka yang mendedikasikan hidupnya untuk dakwah. Baginya, air mata tak selalu berarti duka. Ia bisa menjadi bukti kebersihan hati, ketulusan dan totalitas. Bukankah tangisan atau al-bukaa’ menghiasi lembar-lembar kehidupan orang-orang shalih, para pejuang, bahkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Dalam titik-titik air mata mereka itulah, terpantul keimanan mereka dalam melaksanakan perintah Allah dan memperjuangkan agama-Nya. Air mata murabbi juga tak selalu berwujud titik atau tetes air dari mata. Hati yang menggelegak oleh perasaan yang tak lagi bisa disalurkan dua buah mata.

Mungkin, titik air mata itu tak bisa dimengerti oleh banyak orang. Tapi Sang Murabbi sangat mengerti mengapa air mata itu menitik. Tak banyak yang mengerti jika seorang murabbi begitu memperhatikan perkembangan orang-orang yang dibina dan dikadernya, hingga mungkin dalam hal-hal tertentu bisa melebihi keluarganya sendiri. Tak banyak yang memahami jika proses tarbiyah yang dilakukan seorang murabbi untuk mendidik, membina, melatih, mengontrol, menjaga, membimbing itu, dijalani dengan penuh keseriusan dan kehati-hatian, hingga mungkin dalam hal tertentu, melebihi peran kedua orang tua orang-orang yang dibinanya. Dua atau tiga jam setiap pekan di waktu tertentu sudah didedikasikan sebagai waktu untuk proses tarbiyah. Sedikit saja orang yang bisa memahami bahwa semua gerak langkah murabbi semata-mata didorong dan digerakkan oleh keikhlasannya kepada Allah, untuk mempersiapkan generasi yang bisa memikul perjuangan dakwah yang memang diperintahkan oleh Allah SWT. Dan, tanpa upah.

Maka, jenak-jenak waktu selama proses Tarbiyah berlangsung begitu berharga bagi Murabbi. Sebab di situlah ia memperoleh lahan menyemai cita-citanya mengabdi pada Allah dengan memenangkan dakwah. Di situlah ia mendapatkan ruang untuk bisa mempertanggung jawabkan misi hidupnya di hadapan Allah kelak. Di situlah ia mendapatkan tempat untuk memperbanyak amal-amal shalihnya yang akan terus mengalir keberkahan dan keridhaan Allah dalam kehidupannya di dunia, hingga akhirat.

Saat menengadahkan tangan, ia ucapkan nama saudara-saudara dakwahnya, sahabat-sahabat yang menjadi binaan dakwahnya. Mengingat wajah saudara dan sahabatnya di jalan dakwah. Melantunkan nama-namanya satu persatu. Menggambarkan kesejatian dan keletihan mereka dalam mengemban amanah dakwah. Rasa persaudaraan, rasa seperjuangan semuanya membaur dalam kehangatan rasa yang mungkin bisa menitikkan bulir air mata.

Ketika memikirkan tentang zaman al fitnah, zaman yang penuh fitnah dan cobaan bagi ummat Islam. Era yang sangat membutuhkan kesadaran, kewaspadaan, pengorbanan, totalitas, kekuatan shaff, hingga kekuatan do’a itu sendiri. Ada air mata, luka, keringat hingga darah saudara-saudara Muslim di berbagai belahan dunia. Membayangkan saudara-saudara di Palestina tanah para anbiya yang hingga saat ini lebih dari separuh abad, ada dalam cengkeraman zionis Israel. Juga, untuk saudara-saudara di Suriah, di Irak, di Yaman, di Rohingya, dan di berbagai belahan bumi lain yang mengalami hidup demikian pahit karena konflik senjata yang terus meminta korban. Ketika itulah, air mata murabbi mungkin menitik.

Dalam dakwah ini adalah dakwah Ilahiyah. Nilai-nilai yang diserukannya adalah Islam komprehensif dan integral (syaamil mutakaamil). Ajakan yang dibawanya adalah ajakan yang menyeru kembali kepada Islam sebagaimana dibawa oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Dakwah ini masuk wilayah ekonomi, sosial, politik, pendidikan, pemerintahan, sampai wilayah pribadi sekalipun.

Sebab itulah sejatinya sebuah agama, sebuah pedoman kehidupan. Itulah yang diajarkan di dalam Al-Qur’anul Karim, Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, para sahabat, dan para alim ulamanya. Dakwah yang tak rela bila Islam hanya dijadikan peran figuran, berperan hanya di tembok-tembok masjid dan hanya bernuansa sosial kemanusiaan.

Sebab Islam adalah kehidupan itu sendiri yang tak mungkin dikapling hanya dalam urusan ubudiyah yang khusus. Dakwah ini ingin Islam mengejawantah dalam seluruh kehidupan.

Sebab itulah syarat dari kesejahteraan yang bercita-cita membangun peradaban terbaik, sebagaimana telah dibuktikan dalam sejarah.

Ketika dakwah yang integral dan komprehensif ini mengalami banyak tantangan dan hambatan.

Ketika dakwah ini difitnah, dijustifikasi, dipandang, secara negatif oleh orang-orang yang tak menyukai kehadirannya.

Ketika dakwah ini menjadi sasaran makar dan konspirasi jahat di banyak tempat.

Ketika dakwah ini bahkan menjadi objek kejahatan orang-orang Muslim yang tergiur dan tergoda oleh bisikan jahat musuh-musuhnya.

Maka.... Bergemuruh keimanan dan semangat murabbi untuk melakukan sesuatu demi memenangkan dakwahnya. Sementara di sisi lain, ternyata tidak banyak yang bisa diberikan untuk dakwah.

Teringatlah para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dahulu yang disitir dalam Al-Qur’anul Karim dalam Surat At Taubah ayat 92 : “Dan tiada (pula) berdosa atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata : "Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu”. Lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan.”

Begitulah. Air mata murabbi adalah energi terpendam yang mendorong gerak untuk bisa melakukan lebih banyak lagi demi kebaikan dan kemenangan dakwah.

[Disadur dari Majalah Relung Tarbiyah Edisi 4 Tahun 1 - 2016]