Tarbiyah, Jalan Kita ...

Ilustrasi
Oleh: Muhammad Lili Nur Aulia

Dahulu, Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam tidak memiliki konsep pembinaan apapun kecuali hanya Al-Qur`anul Karim. Dahulu, Rasul shallallaahu alaihi wa sallam dengan para sahabat radhiallahu anhum juga tak merasakan pendidikan melalui kampus universitas, ma’had, madrasah atau sekolah apapun, kecuali hanya melalui masjid. Dahulu, di antara murid-murid Rasul shallallaahu alaihi wa sallam adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali radhiallahu anhum dan sahabat lainnya. Mereka semua tertarbiyah di sebuah Madrasah yang bernama, masjid. 

Dari Madrasah yang penuh berkah itulah lahir sebuah peradaban Islam yang mengubah dunia. Adakah sekolah yang lebih hebat dan lebih canggih dari Madrasah itu? 

Dari mereka yang duduk dan berhimpun di atas pasir. Dari Madrasah yang beratapkan pelepah kurma. Dari masjid yang berupa bangunan sangat sederhana. Dari suasana bersahaja, hubungan hati para murid di Madrasah itu semakin kuat dan teduh. Mereka sangat menanti-nanti arahan yang akan disampaikan Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam dari petunjuk langit. Waktu bergulir, hari demi hari, bulan berganti bulan. Keimanan mereka semakin mengakar dan mendarah daging dalam hati. Mereka yakin begitu dalam terhadap apa yang dibawa Rasul Muhammad shallallahu alaihi wa sallam

Terhimpunlah hati mereka untuk tunduk penuh pada Rabb manusia. Ditanamkanlah dalam hati mereka sebuah perasaan baru hingga melalui pembinaan di Madrasah itu, terciptalah “khaira ummatin ukhrijat lin naas” , ummat terbaik yang ditampilkan untuk manusia. Lalu mereka merasa begitu termuliakan, karena iman dan Islam. 

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ 

“Dan bagi Allah kemuliaan, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang beriman.” (QS. Al Munafiquun : 8

Penampilan mereka boleh jadi tidak perlente, sebab di antara mereka pun ada yang tak beralas kaki meski tak berarti mereka semua kaum papa. Tapi yang begitu istimewa dari mereka adalah, keimanan yang mereka kuat menghujam dalam kalbu, keimanan yang tak tergoyahkan. Penanaman iman tauhid itu digambarkan dalam hadits marfu’ dari Jundub bin Abdillah radhiallahu anhu memang menjadi langkah pertama dan utama di Madrasah ini: “Dahulu ketika kami masih pemuda, kami pelajari keimanan sebelum mempelajari Al-Qur`an. Kemudian kami mempelajari Al-Qur`an dan bertambahlah keimanan kami karenanya.” 

Di Madrasah itu, mereka dibacakan ayat-ayat Allah, disinari cahaya Rabb semesta, hingga mereka yang lulus dari Madrasah itu juga menjadi cahaya bagi dunia dan seisinya. Madrasah itu melahirkan orang-orang yang lalu menjadi guru bagi dunia. Guru kemanusiaan, guru ilmu pengetahuan, guru kemuliaan bagi kekuasaan, hingga guru peradaban terbaik yang pernah ada. 

Kita mungkin bertanya, apa yang menjadi orientasi kelompok yang dibina Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam itu? Seperti apa cita-cita tertinggi mereka? Terkadang mereka berbisik karena harus merahasiakan pembicaraan. Tapi terkadang mereka tampil menyuarakan lantang kebenaran yang mereka yakini dan mereka bela. Sebenarnya apa yang mereka inginkan? 

Mereka ingin meletakkan cara berpikir baru dalam pikiran semua orang. Mereka ingin menegakkan keyakinan terhadap aqidah tauhid di atas permukaan bumi ini. Mereka ingin membangun sebuah bangunan baru bagi manusia di dunia. Mereka ingin menghubungkan manusia di bumi dengan Tuhan di langit. Merekalah lalu berseru, “Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iiin” , hanya kepada Engkaulah kami menyembah. Dan hanya kepada Engkau lah kami bermohon pertolongan. 

Jumlah mereka tidak banyak. Bahkan bisa dikatakan sedikit. Perlengkapan dan fasilitas yang mereka miliki juga jauh dari memadai. Tapi mereka memiliki cita-cita besar. Mereka mempunyai pandangan perjuangan yang tinggi dan mulia. Mereka ingin membawa petunjuk Allah melalui agama Islam untuk seluruh manusia dengan meletakkan sebuah sistem kehidupan yang baru, dan model manusia yang baru. 

Ada tiga pilar yang menjadi tonggak penting, sehingga mereka bisa mewujudkan penghambaan yang utuh kepada Allah: 

Pertama, Keimanan yang Sempurna (Al-Iimaan Al-Kaamil) 

Keimanan ini yang melucuti semua tujuan lain kecuali tujuan mencari keridhaan Allah. Mereka mendengar seruan firman Allah, mereka bergegas menuju Allah SWT melebihi dari yang lain, lalu menjadikan “Laa ilaaha illa Llaah” sebagai syiar hidup dan perjuangan mereka dalam dakwah. Mereka singkirkan dan tinggalkan semua hal yang tidak sejalan dengan syiar tauhid. 

Mereka bukan tak mendengar gemerlap kehidupan Persia dan Romawi ketika itu. Mereka juga bukan buta dengan sejumlah kemajuan yang ada di peradaban dunia saat itu. Tapi mereka tidak tertarik oleh materi yang menjadi gaya hidup peradaban tersebut. Mereka tak menjadi silau dengan kemajuan ilmu pengetahuan yang terjadi di kerajaan dan negara-negara ketika itu. Persia, meski mengalami kemajuan dalam hal materi dan pengetahuan, tapi lulusan Madrasah bersama Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam itu, memandang negeri Persia dalam kesesatan lantaran mereka menyembah syahwat dan nafsu. Sedangkan Romawi yang didiami tokoh Ahli Kitab ketika itu juga mengalami kesesatan karena menjadikan rahib dan pemuka agama sebagai tuhan selain Allah. Semua yang terjadi di muka bumi ketika itu, ada dalam rotasi kesesatan karena tidak mengambil hidayah Allah dan tidak tersinari cahaya Allah. Begitulah cara pandang terhadap peradaban yang ada di sekeliling mereka. Begitulah inti pengajaran yang disampaikan Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam melalui Madrasah tarbiyah. 

Mereka diajarkan dan ditanamkan keyakinan bahwa mereka ada di atas kebenaran. Sebab mereka telah berlepas dari paganisme, menolak penyembahan nafsu dan syahwat. Mereka arahkan semuanya hanya kepada Allah saja. Mereka tidak tunduk tidak menyembah kecuali Allah. Mereka tidak bersandar dan mengandalkan apapun kecuali Allah. Mereka tidak meminta kepada siapapun kecuali kepada Allah. Mereka tidak merasakan nikmat untuk berdekatan kecuali kedekatan dengan Allah. Ketika merasakan sakit, mereka tidak begitu merasakannya kecuali mereka merasa kondisi itu karena dosa yang menjauhkan mereka dari Allah. Inilah di antara perasaan yang kemudian menghimpun hati para sahabat ketika itu. Setelah mereka tahu bahwa bumi itu diwariskan oleh Allah kepada siapapun hamba-Nya yang dikehendaki-Nya, dan bahwa semua urusan akan diberikan kepada orang-orang yang bertakwa, terhapuslah sudah semua perbedaan yang bisa memecah kesatuan mereka. Hilang sudah hati yang saling menjauhi karena mereka sudah tercelup dalam sebuah celupan baru, shibghah jadidah

صِبْغَةَ اللَّهِ ۖ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ صِبْغَةً 

“Shibghah Allah, dan siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada shibghah Allah.” (QS. Al Baqarah 138

Kedua : Al-Hubb al Watsiiq waj Timaa’il Quluub, wa `Tilaafil Arwaah (Cinta yang Kuat, Perhimpunan Hati dan Perpaduan Jiwa) 

Apa lagi yang membuat mereka berselisih? Harta fana dari kekayaan dunia? Perbedaan level sosial, perselisihan pendapatan, pekerjaan, status? Mereka hanya memahami “Inna akramakum inda llaah atqaakum” Sesungguhnya yang paling mulia dari kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. (QS. Al-Hujuraat : 13

Hampir tidak ada sesuatu yang bisa menjadikan mereka terpisah. Hampir tak ada yang bisa membuat barisan mereka terpecah. Merekalah yang layak mengemban nama para rijaal, manusia-manusia besar yang mengukir sejarah dengan tinta emas bagi kemanusiaan. Merekalah yang kemudian membangun peradaban yang disebut peradaban Rabbani (hadhaarah Rabbaniyah

Mereka menjadi saudara karena Allah. Hidup subur cinta antara mereka, hingga mereka mendahului saudaranya dari dirinya. Mereka membaca firman Allah : 

قُلْ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَٰنُكُمْ وَأَزْوَٰجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَٰلٌ ٱقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَٰرَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٍ فِى سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُوا۟ حَتَّىٰ يَأْتِىَ ٱللَّهُ بِأَمْرِهِۦ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْفَٰسِقِينَ 

Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (QS. At Taubah : 24

Cinta mereka adalah karena Allah. Benci mereka juga karena Allah. Apa yang mereka persembahkan, karena Allah. Kehidupan mereka tenggelam dengan cinta agung ini, dan dengan cinta itulah mereka akan “perangi” manusia. 

Ketiga : At-Tarbiyah Ala Tadhiyah (Pembinaan atas Pengorbanan) 

Mereka terbina atas pengorbanan. Hasil pembinaan itu, menjadikan mereka memberi semua yang mereka punya, hingga jiwa. Jiwa mereka adalah milik Rabb semesta. Sampai-sampai salah seorang dari mereka menolak menerima ghanimah (harta rampasan perang) yang sebenarnya sudah halal dan menjadi haknya, lalu turun lah firman Allah SWT : 

فَكُلُوا مِمَّا غَنِمْتُمْ حَلَالًا طَيِّبًا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ 

“Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Anfaal : 69

Begitulah, mereka sangat memelihara diri bahkan terhadap sesuatu yang halal. Mereka berusaha untuk wara’ terhadap yang halal sekalipun. Mereka lebih suka meninggalkannya dan menyerahkan masalah itu kepada Allah SWT. Mereka cenderung untuk menghindar dari itu semua, demi tidak adanya niatan yang terpesong dalam kerja-kerja dakwah dan jihad yang mereka lakukan. Mereka lebih memilih tak mengambil haknya, karena berhati-hati dari munculnya ketamakan dan cinta pada dunia di dalam hati. Ternyata, itulah di antara yang menyebabkan mereka tampil dari keadaan yang rendah menjadi penuh kemuliaan. Dari keterasingan yang tampil dalam kekuatan dan kesatuan. Dari ketidakmengertian kepada pemahaman atas ilmu pengetahuan yang melebihi manusia di zamannya. Mereka adalah batu bata bangunan peradaban yang berdiri dengan al-haq. Mereka menjadi petunjuk bagi kemanusiaan seluruh alam. Mereka menjadi penuntun ummat ke jalan surga. 

Semua itu mereka peroleh dari Madrasah Tarbiyah. Di atas jalan Tarbiyah lah mereka berjalan….