Setelah Ramadhan

Ilustrasi Masjid Agung Al-Azhom Tangerang
Oleh: Muhammad Jamhuri

Ramadhan nan agung telah meninggalkan kita dengan segala kenangannya. Banyak kesan hidup selama bersama dengan Ramadhan. Ada suka, ada pula duka kita lewati selama Ramadhan. Rasa suka, karena target ibadah telah kita capai. Namun rasa duka pun kita rasakan saat kesempatan mulia itu kini telah meninggalkan kita. Kita belum tahu apakah akan bertemu kembali dengan Ramadhan.

Apapun yang kita rasakan selama Ramadhan dan datangnya Idul Fitri, yang pasti, ada beberapa catatan pasca Ramadhan yang harus kita perhatikan:

Pertama, mengapa Allah swt menggunakan kata “la’allakum tattaqun” pada ayat shiyam dengan menggunakan bentuk kata kerja fi’il mudhore” (present continuis tense)? Karena menurut ilmu Nahwu (gramatikal bahasa Arab), fi’il mudhore”mengandung makna lil hadhir wal mustaqbal (untuk masa kini dan masa depan), atau dalam ungkapan ilmu Balaghoh (sastra Arab) berfungsi lil istimror wat tajaddud(kontnyuitas dan selalu baru). Hal ini berarti saat Allah swt berfirman “la’allakum tattaqun” ,maka puasa itu memberi pengaruh agar ketaqwaan kita bukan hanya pada masa Ramadhan saja, akan tetapi tetap berlangsung hingga masa depan kita.

Oleh sebab itu, jika puasa Ramadhan kita dapat menjaga keistiqomahan taqwa kita dalam kehidupan sehari-hari di hari-hari yang akan datang, maka puasa kita benar dan sesuai yang dikehendaki oleh Allah swt. Akan tetapi jika puasa kita tidak ada pengaruhnya dalam menjaga stabilitas ketakwaan kita, maka puasa Ramdahan yang telah kita lakukan tidak benar karena tidak sesuai dengan hikmah yang Allah jelaskan pada ayat shiyam di atas.

Indikator puasa kita dapat menjaga stabilitas takwa bahkan dapat meningkatkan takwa kita, dapat kita lihat dari amalan kita saat sebelum Ramadhan dan pasca Ramadhan. Sebaga contoh, jika pada saat sebelum Ramadhan kita hanya shalat fardhu berjamaah sepuluh waktu shalat dalam sepekan, maka pasca Ramadhan shalat fardhu secara berjamaah kita meningkat. Jika sebelum Ramadhan kita melaksanakan shalat dhuha hanya sekali sepekan, maka pasca Ramadhan shalat dhuha kita meningkat dari sebelumnya. Demikian pula halnya dengan tilawah, bersedekah, sqiyamullai dan amal kebaikan lainnya terjadi peningkatan pasca Ramadahan dibanding sebelum Ramadhan.

Catatan kedua, selama Ramadhan, ternyata kita mampu melakukan revolusi kebiasaan hidup kita sesuai syariah dan dapat menghidupkan amalan-amalan sunnah. Kebiasaan baik selama Ramadhan antara lain: rajin shalat fardhu berjamaaah, rajin menunggu waktu shalat, rajin bertilawah, rajin melaksankan qiyamullai, bahkan kita dapat kebiasaan bangun tidur dan aktifitas positif lainnya.

Revolusi dalam kebiasan hidup sehari-hari ini ternyata berdampak positif bagi kehidupan pribadi dan masyarakat kita. Antara lain; kita merasa dekat dengan sang Khaliq, kita semakin merasa dekat dan akrab dengan keluarga, kita lebih merasa kebersamaan dengan tetangga dan masyarakat terutama saat shalat taraweh, bahkan secara ekonomi makro kebiasan berbagi melalui sedekah, zakat, pembagian hadiah dan THR dan memberi dampak pada geliat ekonomi dan kegairahan berekonomi. Kondisi ini mendorong para produsen meningkatkan produksinya dan mendapat keuntungan yang besar selama Ramdhan, padahal mayoritas produsen adalah dari kalangan non Muslim.

Hal ini menunjukkan bahwa saat masyarakat hidup sesuai dengan syariat dan banyak mengamalkan ajaran Islam, maka semakin memberikan rahmat bagi semua orang termasuk kalangan non Muslim. Fenomena ini membuktikan kebenran firman Allah swt : “Tidaklah Kami utus engkau (Muhammad) melainkan menjadi rahmat bagi seluruh alam” (QS. Al-Anbiya: 107)

Selain itu, fenomena di atas juga memberikan rasa optimis kepada kita, bahwa syariat Islam mudah dan sanggup dilaksanakan oleh seluruh kaum muslimin dan dapat diterima oleh kalangan non muslim. Keraguan akan dapat-tidaknya syariat Islam itu ditegakkan, hanyalah timbul dari iman yang masih lemah, serta lahir dari kalangan orang yang masih picik tentang ketangguhan ajaran Islam.

Catatan Ketiga, fenomena mudik adalah fenomena pemenuhan hajat fitrah. Fitrah dapat diartikan sebagai watak bawaan atau naluri yang telah Allah letakkan kepada manusia. “(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui “ (QS. Ar-Rum: 30)

Sedangkan mudik adalah berangkat ke kampung halaman tempat dimana orangtua kita melahirkan kita, atau tempat leluhur kakek kita berasal.

Biasanya orang yang pergi mudik merasakan kepuasan setelah bertemu orang tua atau berziarah kepadanya. Kepuasan itu tidak bisa dihargai apapun. Bahkan meskipun berita kecelakaan selama mudik selalu ada, tetapi tidak mengurangi keinginan orang untuk pergi mudik

Fenomena mudik ini mirip dengan fenomena pergi haji. Orang yang datang ke Tanah Suci ingin bertemu rumah Allah (baitullah) dan merasa kepuasaan batin yang tinggi saat berada disana. Meskipun kita sering mendengar banyak jamaah haji yang wafat di sana. Akan tetapi hal itu tidak mengurangi minat jamaah haji yang ingin berangkat ke Tanah Suci.

Allah swt adalah yang menciptakan kita, sedangkan orang Tua adalah yang melahirkan kita di dunia. Oleh sebab itu Allah swt menggandengkan kewajiban berbuat baik pada kedua orang setelah perintah beribadah kepada Allah swt: FirmanNya:”Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya “ (QS. Al-Isra: 23)

Jikalau mudik dan berhaji saja kita mempersiapkan bekal, adakah perisapan bekal saat kita “mudik “selamanya ke hadapan Allah?