Menikah adalah Bab Menerima Pasangan Seutuhnya

Ilustrasi
Oleh: Cahayadi Takariawan

Menikah adalah proses menerima sisi kelemahan dan kekurangan pasangan yang belum anda temukan di saat masa perkenalan --- Majdi Manshur Sayyid Asy-Syuri : Tuhfatul 'Arusaini.

Apa yang anda bayangkan tentang pernikahan? Ternyata menikah bukan saja soal kebahagiaan dan bulan madu yang mengasyikkan. Namun menikah juga menyangkut kekecewaan dan ketegangan yang harus dilewati bersama sepanjang kehidupan berumah tangga.

Sebagian dari anda, ada yang melewati hubungan khusus sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah dengannya. Sebagian yang lain memilih cara ta'aruf untuk menghindari pacaran dan hubungan yang tidak sesuai syar'i. Namun, dengan cara apapun anda mengawali proses pernikahan, setelah menikah anda harus bersedia untuk menerima pasangan hidup seutuhnya.

Bukan hanya kebaikannya, bukan hanya kelebihannya, bukan hanya kecantikan atau ketampanannya, bukan hanya kekayaan dan fasilitasnya, bukan hanya posisi dan jabatannya, bukan hanya semua yang menyenangkan darinya. Anda juga harus bisa beradaptasi dan menerima semua yang menjadi kekurangannya, kelemahan, kegagalan, sisi-sisi buruk dan negatif yang pasti ada pada pasangan anda.

Hal ini sangat berguna untuk menjadi pertimbangan bagi anda para lajang yang akan menentukan dan memutuskan calon pendamping hidup. Sejak awal anda harus menyadari beberapa titik penting sekaligus krusial dalam pernikahan berikut ini:

Bab Menemukan Teman dalam Suka dan Duka

Adalah mudah mencari teman untuk bersenang-senang, namun tidak mudah mencari teman untuk menjalani kesulitan. Maka jangan terpedaya oleh sikap mesra dan manja calon pasangan anda di saat sebelum menikah, lantaran mendapatkan berbagai kebaikan dari anda. Belum teruji dan belum diketahui bagaimana sikapnya di saat harus melewati badai dan guncangan dalam perjalanan kehidupan pernikahan nantinya. Maka saat berproses mencari calon pendamping hidup, anda harus mempertimbangkan masak-masak kedewasaan dirinya, kepribadiannya, dan berbagai sisi karakternya. Jangan terjebak casing dan penampilan yang memukau semata-mata.

Bab Menerima Ketidaksempurnaannya

Sediakan ruang yang cukup memadai dalam diri anda, bahwa siapapun yang akan anda pilih menjadi pendamping hidup, dalam dirinya selalu ada kekurangan, kelemahan, dan berbagai sisi negatif lainnya sebagai manusia. Sisi-sisi keukarangan dan kelemahan tersebut mungkin belum tampak dan belum anda lihat di saat ta'aruf atau menjalani hubungan sebelum menikah. Namun semua akan mengemuka ---selapis demi selapis--- setelah anda menjalani kehidupan pernikahan bersamanya. Maka anda harus bersedia menerima ketidaksempurnaannya, karena anda pun tidak sempurna.

Menikah untuk Tujuan Mulia

Tujuan menikah bukan hanya untuk bersenang-senang. Menikah adalah ibadah, dan bagian dari ketaatan hamba kepada Allah, serta meneladani sunnah Rasul Saw. Ada sangat banyak tujuan mulia dalam pernikahan, yang tidak bisa didapatkan kecuali hanya dengan menikah.

Maka, apabila suatu ketika dalam kehidupan berumah tangga nanti anda menjumpai hal yang tidak menyenangkan, ingatlah bahwa tujuan berumah tangga memang tidak hanya untuk bersenang-senang. Wajar jika ada bagian-bagian yang tidak menyenangkan dan tidak sesuai harapan. Bersabarlah dengan problematika kehidupan berumah tangga yang pasti akan datang.

Bab Kesiapan Beradaptasi

Kehidupan pernikahan, sejak awal hingga waktu-waktu selanjutnya, harus selalu menyediakan ruang untuk beradaptasi dengan pasangan. Anda dan dia adalah dua pribadi yang unik, yang berbeda, yang memiliki sifat, karakter, latar belakang, kebiasaan, kecenderungan, kesukaan, ketidaksukaan yang tidak selalu sama, bahkan mungkin sangat banyak perbedaan.

Anda dan dia mempunyai standar nilai, pemahaman, pemikiran, pandangan, yang juga tidak selalu sama persis. Di situlah anda harus selalu berusaha beradaptasi dengannya, hingga mencapai titik kondisi yang nyaman dan diterima bagi anda berdua. Kesiapan beradaptasi harus anda miliki di sepanjang waktu kehidupan berumah tangga, bukan hanya di awalnya saja.

Bab Menerima Dia Seutuhnya

Maka terimalah ngoroknya, terimalah kebiasaan dekil yang tidak anda sukai, terimalah lambat responnya, terima bau-bauan dan bunyi-bunyian yang berasal dari tubuhnya. Anda tidak bisa memilih-milih, karena semua menjadi satu dalam dirinya. Kecuali jika dia mengajak anda melakukan perbuatan dosa dan maksiat, maka anda tidak boleh mengikutinya.

Peristiwa menerima seutuhnya adalah bagian dari proses yang panjang, yang bisa menghabiskan waktu lama, bahkan sangat lama, dalam kehidupan berumah tangga. Anda harus bersabar dengan proses penerimaan yang mungkin tidak akan bisa berjalan instan. Sampai pada titik penerimaan yang utuh, mencintai pasangan anda apa adanya. Menerima bahwa dia memang tidak sempurna, dan oleh karena itu anda mencintainya.

Berproses Bersama Menuju Kondisi Lebih Baik

Tentu saja anda dan dia harus selalu berproses bersama menuju kondisi yang lebih baik, dari waktu ke waktu. Jangan letih menemani pasangan untuk berproses menuju kondisi yang lebih baik. Jangan putus asa dan berhenti berproses karena kita tidak akan pernah sampai kepada kebaikan yang sempurna tanpa cela.

Jika ada sifat dan karakter yang tidak menyenangkan dan mengganggu pasangan, anda harus siap untuk mengubahnya. Jika ada kebiasaan yang yang tidak menyenangkan dan mengganggu pasangan, anda harus siap untuk mengubahnya. Mungkin tidak akan sampai perubahan 100 %, namun usaha anda bersama pasangan untuk bersama-sama berproses lebih utama.

Demikianlah memahami hakikat pernikahan. Jika anda mengerti beberapa titik krusial tersebut, dan anda telah menyiapkan diri untuk menerima itu semua, insyaallah akan memudahkan bagi anda berdua untuk bisa menikmati semua dinamika hidup berumah tangga.