Membangun Kembali Madrasah Tarbiyah

Oleh: Muhammad Lili Nur Aulia

Islam tegak di masyarakat melalui upaya Tarbiyah yang panjang dan bertahap. Melalui fase tarbiyah itu terbentuklah masyarakat yang saling melengkapi. Bertolak dari aqidah tauhid itulah kemudian diterjemahkan dalam langkah –langkah membuat fondasi bangunan sebuah masyarakat. Inti dari tegaknya syariat adalah tertanamnya nilai-nilai Islam secara mendasar di masyarakat. Dan nilai-nilai itu takkan bisa tegak tanpa ada orang yang yakin dengan ide dan pemikiran tersebut lalu menyerukan pemikiran itu ke banyak orang. Inilah jalan dakwah dan tarbiyah. Dan karenanya, perubahan yang diinginkan, tak dilakukan dengan mengedepankan kekerasan. 

Islam tidak berdiri kecuali dengan prilaku orang-orang yang meyakini misinya. Orang-orang yang mengimani Allah dan berorientasi akhirat, dengan posisi keimanan yang begitu agung dalam hati mereka. Orang-orang yang terus berusaha untuk tunduk dan taat kepada Allah. Orang-orang yang dunia menjadi sederhana dan kecil di mata mereka. Orang-orang yang bertahan untuk tidak tergilas oleh syahwat dan nafsu. Orang-orang yang bukan suci, tapi hati selalu dibersihkan dan terlapangkan. Mereka menuju Allah dengan semangat tinggi, keinginan kuat dan tekad bulat. Didorong oleh aqidah, mereka menerjemahkan fikrah mereka di atas bumi. Mereka orang-orang yang mengatakan: 

رَبَّنَا آمَنَّا بِمَا أَنْزَلْتَ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُولَ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ 

“Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah).” (QS. Ali Imran : 53

Suatu ide, gagasan, pemikiran (fikrah) takkan nyata kecuali jika diperjuangkan dengan orang-orang yang yakin terhadap ide, gagasan dan pemikiran itu. Tiga hal yang menjadi kunci sukses menerapkan ide dan pemikiran adalah ketika fikrah tersebut ; dipersepsi secara jelas, diyakini secara mendalam, didukung kumpulan kuat para pejuang fikrah. Tanpa tiga kunci itu, semua upaya yang dilakukan bisa sia-sia, semua harapan akan gagal dan percuma. Yang ada hanya letih, lelah tapi hasilnya tak berbekas. Jiwa manusia selalu terdorong oleh tujuan yang ingin dicapai dari kerja yang dilakukan. Semakin besar dan mulia tujuan yang dinginkan, letih dan lelah mungkin tak dirasakan. Orang yang benar-benar yakin dengan tujuan amal yang dilakukan, meskipun jauh, ia takkan berhenti dari apa yang sedang dilakukan sampai ia bisa mencapainya. Mungkin saja seseorang mengalami kesulitan dan penderitaan sebelum sampai tujuan, tapi jika tujuannya mulia, ia takkan dikejutkan dengan problematika itu. Dan jika tujuannya itu adalah ridha Allah dan surga, maka Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam telah menyatakan, “Surga dikelilingi oleh sesuatu yang tidak disukai.” 

Inilah fakta yang kita pelajari dari Madrasah Tarbiyah. Orang yang tidak meyakini tujuan dan sasaran perjuangannya, takkan sampai pada tujuan yang diinginkan. Dua syarat penting dalam hal ini adalah keyakinan terhadap suatu aktifitas yang dilakukan, dan tujuan yang ingin dicapai dari aktifitas itu. Itulah yang dilakukan Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam yakin terhadap dakwah yang diperjuangkannya, dan tujuan dakwah yang pasti mendapat pertolongan Allah, meski waktunya tidak cepat. Itulah tahapan pertama dakwah kita sebelum pembentukan pribadi Muslim. Yakni, yaqzah ruuhiyyah iimaniyah, yakni mewujudkan kebangkitan ruhiyah dan keimanan. 

Sistem dan struktur organisasi pun menjadi lumpuh tanpa landasan terbentuknya pribadi Muslim yang menopang perjuangannya. Segalanya tetap harus dimulai dengan penguatan pilar bangunan itu sendiri, yang terdiri dari orang-orang beriman yang meyakini Islam dan siap berkorban untuk mewujudkan tujuannya. 

Itu sebabnya Umar bin Khattab radhiallahu anhu menekankan hal keimanan saat berwasiat pada pasukannya: 

أخوف ما أخاف عليكم الذنوب فإن ذنوب الجيش أخوف من عدوه 

“Yang paling aku takutkan atas kalian adalah dosa-dosa yang kalian lakukan. Sesungguhnya dosa-dosa pasukan itu lebih aku takutkan daripada musuh. “ 

Abu Darda radhiallahu anhu mengatakan hal senada dengan Umar bin Khattab radhiallahu anhu: 

أيها الناس, عمل صالح قبل الغزو فإنما تقاتلون بأعمالكم 

“Wahai manusia... ingatlah, amal shalih sebelum kalian berperang. Sesungguhnya kalian berperang tergantung dengan amal-amal kalian.” 

Begitupun Fudhail bin Iyadh radhiallahu anhu menegaskan, 

عليكم بالتوبة فإنها ترد عنكم ما لا ترده السيوف 

“Kalian harus bertaubat. Sebab taubat itu akan mampu membentengi dirimu dari sesuatu yang tidak bisa dihadang oleh pedang sekalipun.” 

Kebangkitan ruhiyah (ya qzhah ruuhiyyah). Itu titik tolak kita. Mari tengok dan evaluasi kembali langkah-langkah kita di belakang. Untuk kembali melangkah dengan “Bismillaahirrahmaanirrahiim ...”