Bahaya Wala’ Sakhshi Dalam Amal Jama'i

Ilustrasi (google image)
Oleh: Aunur Rafiq Saleh Tamhid Lc

Firman Allah:

“Dan Muhammad hanyalah seorang Rasul, sebelumnya telah berlalu beberapa rasul. Apakah jika wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa berbalik ke belakang maka ia tidak akan merugikan Allah sedikit pun, Allah akan memberi balasan kepada orang yang bersyukur”. (Ali Imran: 144)

Ayat ini diturunkan Allah untuk mengabadikan pelajaran setelah terjadinya perang Uhud. Dalam perang ini Nabi shallallaahu alaihi wa sallam diissukan terbunuh hingga membuat sebagian kaum muslimin kehilangan semangat dan meninggalkan medan perang seraya berkata, tidak ada gunanya lagi kita berperang melawan kaum musyrikin karena Nabi shallallaahu alaihi wa sallam sudah tiada.

Tetapi tidak semua kaum muslimin kehilangan semangat. Masih banyak sahabat yang bertahan dan mengingatkan kesalahan mereka, diantaranya Anas bin Nadhar yang mengingatkan mereka: “Apa yang akan kalian perbuat dengan kehidupan sepeninggal Nabi shallallaahu alaihi wa sallam? Bangkitlah lalu matilah memperjuangkan apa yang telah membuat Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam mati”. Kemudian ia menghadapi kaum musyrikin dan bertemu Saad bin Muadz lalu berkata: “Wahai Saad, duhai indahnya aroma surga. Sungguh aku mendapatinya di dekat Uhud”. Kemudian ia bertempur hingga syahid”. (Zadul Ma’ad, 3/198, 208).

Sayid Quthb mencatat salah satu pelajaran dari peristiwa dan ayat ini:

“Dakwah jauh lebih besar dan lebih kekal ketimbang dai. Karena para dai boleh datang dan pergi sedangkan dakwah tetap abadi sepanjang generasi dan abad. Para pengikut dakwah pun tetap bersambung dengan sumbernya yang pertama, yang mengutus para rasul dengan membawa dakwah ini. Dia yang Maha Suci tetap abadi menjadi tujuan orang-orang beriman. Tidak boleh seorang pun diantara mereka yang berbalik sepeninggal dai dan murtad dari hidayah Allah. Allah Maha Hidup tidak pernah mati”. (Tafsir fi Zhilalil Quran, 2/443, Robbani press).

Dr. Muhammad Ratib an-Nabulsi juga mencatat pelajaran dari peristiwa dan ayat ini di dalam tafsirnya:

“Ayat ini mengajari kita bahwa dakwah harus didasarkan pada ajaran tauhid, bukan pada individu. Jika didasarkan pada individu dengan menjadikannya pusat perhatian lalu individu tersebut mati maka dakwah ilallah akan mati bersama kematiannya. Tetapi jika didasarkan pada ajaran tauhid, sedangkan Allah Maha Hidup tidak pernah mati maka dakwah akan tetap berlangsung. Karena itu, agama kita adalah agama tauhid dan agama prinsip, bukan agama individu. Sungguh indah perkataan Abu Bakar radhiallahu anhu ketika Rasulullah  shallallaahu alaihi wa sallam wafat: “Siapa yang menyembah Muhammad maka sesungguhnya Muhamnad telah meninggal dunia. Dan siapa yang menyembah Allah maka sesungguhnya Allah Maha Hidup tidak pernah mati”. (Tafsir an-Nabulsi, 2/216)

Figuritas adalah sikap mengaitkan berlanjut-tidaknya perjuangan dakwah Islam dengan keberadaan individu atau figur tertentu, atau mengaitkan semangat-tidaknya perjuangan dakwah Islam dengan keberadaan individu atau figur tertentu. Sikap ini dilarang Allah melalui ayat-Nya di atas, bahkan terhadap figur Nabi  shallallaahu alaihi wa sallam yang ma’shum sekalipun, apalagi terhadap figur selain Nabi yang tidak ma’shum. Karena semangat dakwah harus dibangun di atas nilai-nilai dakwah, bukan di atas keberadaan individu atau figur tertentu. Karena individu atau figur pasti berakhir keberadaannya sedangkan dakwah tidak boleh berhenti sampai kapan pun.

Di dalam dakwah Nabi Isa alaihi salam masalah figuritas juga diingatkan melalui pertanyaan Nabi Isa alaihi salam kepada para pengikut setianya (hawariyun) dan jawaban mereka. Firman Allah:

“Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israil) berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawari (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah, dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri”. (Ali Imran: 52)

Seharusnya jawaban yang normal dari pertanyaan, “siapakah yang menjadi penolongku?”, adalah: “Kamilah penolong-penolongmu”. Tetapi hal ini tidak dikatakan oleh para pengikut setia Nabi Isa alaihi salam, untuk menyampaikan pelajaran: Sekalipun mereka menjadi pengikut setia Nabi Isa alaihi salam tetapi mereka tidak terjebak dalam figuritas dalam dakwah.

“Hawariyun” menurut ulama tafsir adalah para pengikut setia yang paling ikhlas dan militan. Sekalipun demikian mereka tidak terjebak dalam figuritas dan wala’ sakhshi, karena disamping punya militansi yang kuat mereka juga punya pemahaman yang benar dan mendalam tentang dakwah.

Figuritas ini dilarang Allah karena menyimpan sejumlah kelemahan dan bahaya bagi dakwah, diantaranya:

1. Runtuhnya semangat perjuangan dakwah bersamaan dengan meninggalnya sang figur, sebagaimana terjadi di perang Uhud. Sekalipun peristiwa yang terjadi di perang Uhud punya tujuan tarbiyah tersendiri, diantaranya menyiapkan mental para sahabat bila nantinya Nabi shallallaahu alaihi wa sallam benar-benar wafat, karena pesona kepribadian Nabi shallallaahu alaihi wa sallam yang sangat kuat dan tanpa cacat. Bahkan ketika Nabi shallallaahu alaihi wa sallam benar-benar wafat, pengaruh figuritas itu masih sedikit terasa, bahkan dialami oleh Umar bin Khaththab radhiallahu anhu, pribadi yang sangat kokoh, tetapi karena kualitas tarbiyah para sahabat yang sangat baik maka fenomena buruk itu tidak berlangsung lama setelah diingatkan dan disadarkan oleh perkataan Abu Bakar radhiallahu anhu yang sangat fenomenal tersebut.

2. Nabi shallallaahu alaihi wa sallam dijamin ma’shum oleh Allah sehingga tidak memiliki cacat kepribadian sama sekali, tetapi selain Nabi tidak memiliki jaminan itu. Karena itu, bila cacat-cacat kepribadian ini muncul di tengah perjalanan maka akan meruntuhkan semangat dakwah para pengagum sang figur tersebut, karena biasanya orang-orang yang terlalu mengagumi seseorang itu tidak bisa menerima adanya cacat kepribadian sama sekali. Kecuali mungkin di kalangan masyarakat awam yang bisa dibuatkan “legenda” dan “hal-hal luar biasa” untuk menenangkan mereka.

Hal ini terjadi pada tokoh-tokoh besar sekelas syaikh Muhamnad Abuh, Jamaluddin al-Afghani dan lainnya. Sebagian pengagumnya berbalik arah menyerang figur kebanggaannya setelah terhasut tulisan-tulisan yang belum tentu pasti kebenarannya bahwa figur yang mereka tokohkan itu menjadi agen intelijen internasional. Apalagi jika issu-issu itu benar, anda bisa bayangkan apa yang akan terjadi di dalam jiwa para pengagumnya. Musuh-musuh Islam selalu berupaya menghancurkan kekuatan kaum muslimin dengan cara, diantaranya, menyerang para tokohnya.

3. Figuritas akan memunculkan wala’ syakhshi (loyalitas kepada individu) bukan kepada jamaah, sehingga rawan menimbulkan perpecahan apabila sang figur juga menikmati penokohannya dan mengelolanya untuk membangun kekuatan individu bukan untuk menguatkan jamaah. Padahal jika kekuatan dan kehebatan individu itu dibangun di dalam bingkai jamaah maka akan melahirkan kekuatan jamaah dan sekaligus menguatkan individu tanpa menghambatnya.

Tetapi sangat disayangkan, salah satu kelemahan orang-orang cerdas dan hebat itu, sebagaimana bisa kita baca dalam sejarah, seringkali tergoda untuk membangun kekuatan sendiri karena merasa punya modal kekuatan individu, apalagi jika individu tersebut memiliki kehebatan dalam narasi besar sehingga mudah “menyihir” orang-orang yang mudah kagum dengan narasi semata.

Lebih berbahaya lagi jika orang-orang yang memiliki kehebatan bernarasi itu terkena penyakit nifaq, sebagaimana pernah dikhawatirkan Nabi shallallaahu alaihi wa sallam dalam sabdanya:

“Sesungguhnya hal yang paling aku khawatirkan atas umatku adalah setiap munafiq yang sangat pandai lisannya”. (Musnad Ahmad 143)

Semoga Allah menjaga individu-individu hebat di dalam jamaah ini sehingga selalu komit dengan ajaran-ajaran Islam dan amal jama’i sehingga jamaah ini tetap solid dan bisa mengemban tugas-tugas dakwah yang sangat berat dengan sebaik-baiknya.

Sumber: Kiblat Umat