Kompetisi, Registrasi

Ilustrasi
Oleh Salim A. Fillah

Di sudut-sudut ego yang tajam, manusia merasakan keasyikan dalam tantangan dan persaingan. Dan hidup ini memang kompetisi. Ia berjalan dalam batas antara kehidupan dan kematian. Di antara dua titik itu, berlaku sebuah fungsi waktu, untuk menguji optimalisasi potensi, siapa di antara kita yang terbaik dalam karya.

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang terbaik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2)

Dan hidup ini memang kompetisi. Ia berjalan di seluruh penjuru bumi. Tanpa ada batas kecuali keterjangkauan. Di sana ada fungsi tangensial untuk mengelola segala sumberdaya nikmat menjadi kemanfaatan paling puncak. Lagi-lagi, untuk sebuah uji, siapa di antara kita akan terbaik dalam karya.

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik amalnya.” (QS. Al-Kahfi: 7)

Alangkah besar ambisi ‘Umar, untuk mengungguli Abu Bakar dalam amal dan pengorbanan. Seorang wanita tua pernah menolak jaminan kebutuhan darinya dengan mengatakan, “Sudah ada yang menjamin kebutuhanku...”. Dalam pengintaian ‘Umar di keesokan harinya, ia lihat sosok kurus Abu Bakar mengendap memikul karung berisi hajat hidup si nenek.

Dalam perang Tabuk, seruan jihad harta disambut ‘Umar dengan segera. Saat Rosululloh bertanya berapa yang ia tinggalkan untuk keluarga, ‘Umar mengatakan dengan bangga, “Sebanyak yang aku serahkan pada Alloh dan RosulNya”.
Tapi betapa ia tercenung saat pertanyaan yang sama ditujukan pada rivalnya. Dengan gemilang Abu Bakar menjawab, “Cukuplah Alloh dan RosulNya yang aku tinggalkan untuk keluargaku!”

Menjadikan Abu Bakar sebagai kompetitor amal memang harus membuat ‘Umar bergumam, “Mulai hari ini aku sadar, tampaknya aku tak akan pernah bisa mengalahkan Abu Bakar!” Tetapi kita harus tersenyum... Karena mereka telah menjadi contoh tentang urgensi sebuah kompetisi dalam amal dan pengorbanan, bahkan tentang perlunya sebuah iri hati.

“Tidak ada iri hati kecuali dalam dua perkara. (Yaitu) orang yang diberi harta oleh Alloh lalu dia belanjakan pada sasaran yang benar. Dan orang yang dikaruniai ilmu dan kebijaksanaan lalu dia mengamalkan dan mengajarkannya.” (HR. Al-Bukhori)

Kita yang hidup di hari ini, tak hanya akan menjalin kompetisi di antara kita sendiri. Kita punya kompetitor-kompetitor yang telah mendahului. ‘Ibroh dan teladan dari kisah pengorbanan pendahulu ummat ini menjadi tantangan penyemangat bagi seorang mukmin yang menunggu-nunggu untuk memenuhi janji syahadahnya.

“Di antara orang-orang mu’min itu ada yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Alloh. Maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tiada merubah janjinya!” (QS. Al-Ahzab: 23)

Motivasi Islami generasi belakangan selalu menyentuh semua sisi kompetisi. Adakalanya bisa memenangkan kompetisi dalam hal pahala yang mereka peroleh. Tapi generasi awal menjadi penabung pahala yang tiada henti karena keteladanan yang telah mereka bingkai. Keteladanan itu menjadi ikutan berharga bagi penerusnya di perputaran zaman.

“Sesungguhnya setelah masa kalian akan ada hari-hari kesabaran. Kesabaran waktu itu seperti orang yang menggenggam bara. Bagi orang-orang yang beramal pada hari-hari itu mendapat pahala senilai lima puluh orang yang beramal seperti amalnya dan masih ditambah lagi dengan yang lain. Seseorang bertanya, “Ya Rosululloh, pahala lima puluh orang dari mereka?” Beliau bersabda, “Bahkan pahala lima puluh orang dari kalian.” (HR. Abu Dawud)

Seagung-agung kompetisi yang pernah ada di muka bumi adalah kompetisi berkorban. Berkorbanlah untuk mendapatkan ridho Alloh, ampunanNya dan surgaNya yang begitu indah tak tergapai angan!

“Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Robb kalian dan kepada surga yang luasnya adalah langit dan bumi, disediakan bagi orang yang bertakwa. Orang-orang yang berinfaq baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang menahan marahnya, dan yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Alloh menyukai orang-orang yang berbuat baik.”(QS. Ali ‘Imron: 133-134)

Waktu menghabiskan sebuah kurma yang sudah ada di mulut terasa begitu lama bagi ‘Umair ibn Al-Hammam untuk menyambut seruan kompetisi. Inilah perasaan seorang pemenang. Ia memuntahkan kurma itu dan mengatakan, “Aku mencium wanginya surga dari balik bukit ini.” Medan Badar dan Uhud menjadi saksi betapa banyak kompetisi agung ini terjadi. Bahkan di antara ayah yang pincang dan anak yang terlalu belia, sampai salah satunya berkata, “Kalau saja bukan surga tujuan kita, tentu aku akan mengalah pada Ayah...”

“Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam kenikmatan yang besar. Mereka duduk di atas dipan-dipan sambil memandang. Dapat kau ketahui dari wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan, Mereka diberi minum dari khomr murni yang dilak tempatnya, laknya adalah kesturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al-Muthoffifiin: 22-26)

Kompetisi itu, begitu menarik. Tetapi mengapa masih saja ada yang belum mendaftar? Bayangkanlah engkau, wahai Tuan, suatu ketika menjadi panitia suatu lomba lari. Peserta telah terdaftar dan masing-masing telah bernomor punggung dan bertanda dada. Start! Dan semua berlari. Lalu di sana ada seorang berpakaian rapi. Ia ikut berlari. Dari start hingga finish. Tanpa mendaftar. Tak ada nomor punggung. Tak ada tanda peserta di dada. Dan ia menang! Benar, ia menang! Lalu meminta hadiah. Adakah engkau, wahai Tuan, akan memberi?

Ya. Terserah engkau. Tetapi mereka yang mendaftar menjadi sulit menerima keputusanmu. Tetapi terserah engkau. Sebagaimana dalam kompetisi kehidupan yang berjalan di alur waktu dan terpentas di atas bumi, terserah Sang Penguasa, yang dalam firmanNya telah berkata:

“Dan orang-orang kafir, amal-amal mereka laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tapi bila didatanginya, tak ada yang ia temukan.” (QS. An-Nur: 39)

Hidup ini kompetisi. Dan syahadat itulah yang telah menegaskan karunia hidayah bagi kita, adalah tanda keikutsertaan yang diberikan Sang Penguasa. Maka ada manusia bodoh yang harus kita tunjukkan jalan, karena mereka bersemangat berlomba tanpa mendaftar, tanpa tanda syahadat di dadanya. Dan kita pun kadang menjadi manusia bodoh lain yang harus ditegur, karena meski sudah mendaftat terkadang lebih suka duduk-duduk di garis start, merasa cukup dengan status keislaman itu. Islam, adalah iman dan amal sholih. Islam adalah mendaftar dan berlari dengan kekuatan penuh!

Jika engkau telah mendaftar dengan ikrar syahadatmu, berlarilah menuju Alloh, saudaraku. Hingga seperti Musa dalam larinya, kita akan terengah berkata, “Itulah mereka sedang menyusuli aku. Dan aku bersegera kepadaMu, ya Robbi, agar Engkau ridho kepadaku.” (QS. Thoha: 84)


Kredit: “Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim”; Salim A. Fillah; Pro-U Media