Tetap Bersama Jama’ah Dakwah Hingga Akhir Hayah yang Indah

Ilustrasi
Cahayadi Takariawan

Sepanjang sejarah dakwah, selalu ada kisah-kisah heroik, namun juga selalu ada kisah tragis yang menyertainya. Hal ini sejalan dengan logika sejarah kemanusiaan pada umumnya, bahwa akan selalu ada ketegaran namun juga ada keterjatuhan.

Problem terbesar dalam pergerakan dakwah sebenarnya juga merupakan problem terbesar dalam sejarah anak manusia. Konsisten dan istiqomah dalam rentang waktu tertentu yang pendek adalah hal mudah. Namun untuk konsisten dan istiqomah dalam masa yang panjang adalah hal yang sangat berat dan tidak mudah.

Disinilah paradoks mulai terjadi. Semangat juang yang tampak menggebu pada diri seorang aktivis bukanlah jaminan konsistensi dan kontinyuitas. Bahkan orang yang tampak memiliki amal perjuangan yang memukau dan mendapat pujian berkilau, tidak ada yang bisa memberi garansi tentang konsistensi.

Dakwah dan jama’ah yang semula demikian dibela dan dicintai, bisa ditinggalkan, dicela dan dinista pada penggal waktu berikutnya. Perjuangan dan pergerakan yang semula sangat dihormati dan dijunjung tinggi, bisa dicampakkan dan dicaci maki pada masa selanjutnya.

Rasa cinta terhadap jama’ah dan dakwah yang dulu teramat besar, sekarang bisa luntur, hilang bahkan bisa berganti menjadi aroma kebencian dan dendam kesumat.

Amal Ditentukan di Bagian Akhirnya

Yang sangat ‘mengerikan’ dalam menapaki perjuangan dakwah adalah konsisten hingga akhir. Karena amal justru dinilai pada bagian akhirnya. Bukan di awalnya.

Perhatikan kisah berikut. Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi menceritakan bahwa Nabi Saw pernah melihat ada seseorang yang membunuh kaum musyrik. Ia salah satu prajurit Islam yang gagah berani. Namun Beliau Saw berkomentar, “Siapa yang ingin melihat penduduk neraka, lihatlah orang ini.”

Seseorang segera mengikutinya, hingga prajurit tadi terluka dan tidak kuat menahan sakit. Tiba-tiba ia ambil ujung pedang dan ia letakkan di dadanya, lantas ia hunjamkan hingga menembus di antara kedua lengannya.

Nabi Saw bersabda, “Sungguh ada seorang hamba yang menurut pandangan orang banyak mengamalkan perbuatan penghuni surga, namun berakhir menjadi penghuni neraka”.

“Sebaliknya ada seorang hamba yang menurut pandangan orang melakukan amalan penduduk neraka, namun berakhir dengan menjadi penghuni surga. Sungguh amalan itu dilihat dari akhirnya” (HR. Bukhari, no. 6493).

Dalam riwayat lain Nabi Saw bersabda :

وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada akhirnya”
(HR. Bukhari, no. 6607).

Yang dimaksud ‘bil khawatim’ adalah amalan yang dilakukan di bagian akhir umurnya atau akhir hidupnya.

Az-Zarqani dalam Syarh Al-Muwatha’ menyatakan bahwa amalan akhir manusia itulah yang menjadi penentu dan atas amalan itulah mereka akan dibalas.

Orang yang dulunya beramal jelek lalu berubah melakukan amal baik di akhir hidupnya, maka ia dinilai sebagai orang yang bertaubat.

Sebaliknya, orang yang dulunya penuh amal kebaikan, namun di akhir hidupnya justru melakukan amal keburukan, maka seperti bagian akhir itulah ia akan mendapat balasan.

Ibnu Rajab Al-Hambali dalam kitab Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam (1: 173) memberi catatan atas hadits Sahl bin Sa’ad di atas, bahwa dari sinilah para ulama khawatir dengan keadaan su’ul khatimah, yaitu keadaan akhir hidup yang jelek.

Dari Anas bin Malik Ra, ia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda:

“Janganlah kalian terkagum dengan amalan seseorang sampai kalian melihat amalan akhir hayatnya. Karena mungkin saja seseorang beramal pada suatu waktu dengan amalan yang shalih, yang seandainya ia mati, maka ia akan masuk surga. Akan tetapi, ia berubah dan mengamalkan perbuatan jelek.”

“Mungkin saja seseorang beramal pada suatu waktu dengan suatu amalan jelek, yang seandainya ia mati, maka akan masuk neraka. Akan tetapi, ia berubah dan beramal dengan amalan shalih. Oleh karenanya, apabila Allah menginginkan satu kebaikan kepada seorang hamba, Allah akan menunjukinya sebelum ia meninggal.”

Para sahabat bertanya,
“Apa maksud menunjuki sebelum meninggal?”

Nabi Saw menjawab, “Yaitu memberikan ia taufik untuk beramal shalih dan mati dalam keadaan seperti itu.”

Hadits diriwayatkan Imam Ahmad, 3: 120, 123, 230, 257 dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah 347-353 dari jalur dari Humaid, dari Anas bin Malik. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dalam Tahqiq Musnad Imam Ahmad mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat shahih Bukhari dan Muslim. Lihat pula Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 1334, hal yang sama dikatakan oleh Syaikh Al-Albani.

Konsisten Bersama Jama’ah Dakwah Hingga Akhir Hayah

Bagian inilah yang harus dikelola dengan sangat berhati-hati. Menggelorakan semangat perjuangan di bagian awal adalah mudah. Namun bisa konsisten hingga akhir adalah hal berat dan tidak mudah.

Fenomena “Yang Berjatuhan di Jalan Dakwah” sudah kita baca berulang kali dari kitabnya Syaikh Fathi Yakan sejak ngaji melingkar dari tahun 1980an. Namun waktu yang panjang bisa nengubah segala hal.

Karena kita tidak berjuang hanya dalam kurun waktu sesaat dan sementara saja. Bergerak dalam amal jama’i adalah sampai akhir kehidupan, yang akan dilanjutkan oleh generasi penerus kita.

Menjaga rasa cinta dalam waktu yang lama bukanlah hal mudah. Menjaga rasa percaya dalam waktu yang lama bukanlah hal sederhana. Menjaga kebersamaan dalam waktu yang panjang bukanlah hal gampang.

Maka kita harus saling menguatkan dalam perjuangan dakwah, agar bisa istiqamah sampai akhir hayah. Agar selalu bersama jama’ah hingga akhir hidup yang indah. Agar selalu berada dalam barisan amal jama’i sampai mati.

Karena amal justru dinilai di bagian akhir, bukan di awalnya.

Ya Allah, wafatkanlah kami kelak dalam kondisi mencintai dakwah, dalam kondisi istiqamah, dalam kondisi menetapi jama’ah, dalam kondisi husnul khatimah.

Aamiin.