Tsiqah Kepada Qiyadah, Pilar Utama Soliditas Sebuah Jamaah

Ilustrasi
TSIQAH KEPADA QIYADAH, PILAR UTAMA SOLIDITAS SEBUAH JAMA'AH

Definisi Tsiqah

Untuk mendapatkan definisi yang tepat dan aplikatif tentang makna tsiqah, ada baiknya kita nukilkan penjelasan Hasan Al-Banna rahimahullah tentang pengertian tsiqah.

Beliau berkata, ”Yang saya maksud dengan Tsiqah (kepercayaan) adalah rasa puasnya seorang tentara atas komandannya, dalam hal kapasitas kepemimpinannya maupun keikhlasannya, dengan kepuasan yang mendalam yang menghasilkan perasaan cinta, penghargaan, penghormatan dan ketaatan”.

Urgensi tsiqah kepada qiyadah dalam jamaah

Karena sedemikian urgennya masalah ini, Hasan Al Banna rahimahullah menjadikan tsiqah sebagai salah satu rukun dalam baiat untuk menjadi anggota jamaah Ikhwanul Muslimin. Beliau menjelaskan urgensi persoalan ini dengan ungkapan sebagai berikut:

”Pemimpin adalah bagian dari dakwah. Tidak ada dakwah tanpa kepemimpinan. Kadar kepercayaan timbal balik antara pemimpin dan yang dipimpin, menjadi penentu kekuatan sistem jamaah, kemantapan langkah-langkahnya, keberhasilan dalam mewujudkan tujuan-tujuannya, dan kemampuannya mengatasi berbagai kendala yang menghadangnya.
طاعة وقول معروف

”Maka lebih utama bagi mereka ketaatan dan perkataan yang baik” (Muhammad: 21).

Kepemimpinan memiliki hak sebagaimana orang tua dalam hubungan batin; seorang guru dalam fungsi pengajaran ilmu; seorang syaikh dalam pendidikan rohani; dan pemimpin dalam menentukan kebijakan politik secara umum bagi dakwah. Dakwah kita menghimpun nilai-nilai tersebut secara keseluruhan.

Musuh-musuh Islam menyadari sepenuhnya bahwa Islam adalah musuh terbesar. Sejarah masa silam dan realitas modern telah mengajarkan kepada mereka bahwa bila umat kita telah menemukan jalan yang benar menuju Islam, maka kekuasaan mereka terancam runtuh dan lenyap.

Mereka tidak takut kepada Islam yang “lunak” yang tidak memiliki kekuatan, tetapi mereka takut pada Islam dalam bentuk gerakan jihad yang mengkonsolidasikan seluruh kekuatan kaum muslimin dan menyatukan barisan mereka untuk menghadapi musuhnya.

Wahai Ikhwan, karena dakwah kalian merupakan kekuatan aqidah dan pergerakan besar melawan musuh-musuh Islam dan menggagalkan berbagai rencana lawan, maka wajar kalau mereka mengerahkan segala senjata dan kemampuan untuk menghadapi dakwah kalian. Bahkan, tidak ada satupun cara kecuali mereka manfaatkan untuk memerangi dan memberangus dakwah kalian.

Cara paling berbahaya dari musuh yang licik adalah upaya menimbulkan friksi internal di dalam dakwah, sehingga mereka dapat memenangkan pertarungan karena kekuatan dakwah melemah akibat terpecah belah. Dan hal yang paling efektif menimbulkan friksi internal dalam dakwah adalah hilangnya tsiqah (kepercayaan) antara prajurit dan pimpinan. Sebab, bila prajurit sudah tidak memiliki kepercayaan pada pimpinannya, maka makna ketaatan akan segera terguncang dalam jiwa mereka. Bila ketaatan sudah hilang, maka tidak mungkin ada eksistensi kepemimpinan dan karenanya pula tidak mungkin jamaah dapat eksis.”

Mengingat sangat pentingnya ketsiqahan terhadap program dan kebijakan qiyadah, maka musuh-musuh Islam berusaha sekuat tenaga untuk menimbulkan keraguan-keraguan pada Islam, jamaah, manhaj jamaah dan qiyadahnya.

Dan betapa banyak serangan yang dilancarkan untuk misi tersebut. Oleh karena itu, seorang multazim sebuah jamaah yang dibangun di atas manhaj yang haq jangan sampai terpengaruh oleh serangan-serangan tersebut.

Ia harus yakin bahwa diennya adalah dien yang haq, yang diterima Allah Ta’ala. Ia harus yakin bahwa Islam adalah manhaj yang sempurna bagi seluruh urusan dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Ia harus tetap tsiqah bahwa jamaahnya berada di jalan yang benar dan selalu memperhatikan Al-Qur’an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman salafush shalih dalam setiap langkah dan sarannya. Ia harus tetap tsiqah bahwa qiyadahnya selalu bercermin pada langkah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta para sahabatnya dan selalu tunduk pada syariat Allah dalam menangani persoalan yang muncul saat beraktivitas serta selalu memperhatikan kemaslahatan dien dan dunia.

Gambaran tsiqah kepada qiyadah

1. Dalam sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Salah satu gambaran tsiqah dalam sunnah adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah riwayat yang shahih : “Berbahagialah seorang hamba yang memegang kendali kudanya, kusut masai rambutnya, dan berdebu kakinya. Jika berjaga ia tetap berjaga. Jika bertugas di belakang ia tetap di belakang. Ketika meminta izin tidak diberi izin dan ketika memberi bantuan tidak diperkenankan.” Hadits ini mengajarkan salah satu prinsip utama dalam menumbuhkan tsiqah.

Di dalamnya, tergambar wujud tsiqah antara pemimpin dan anggota. Sang pemimpin merasakan tsiqah dengan anggotanya yang pasti akan menjalankan kewajiban yang harus dilakukannya. Dan sang anggota juga merasa tsiqah dengan sang pemimpin yang pasti menempatkannya pada posisi tertentu untuk kemaslahatan.

2. Dalam sejarah khulafaaur Rasyidin

Mungkin kita masih ingat perselisihan yang terjadi antara Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu dan Umar Radhiyallahu ‘Anhu dalam menyikapi orang-orang yang tidak mau mengeluarkan zakat. Sebagian besar sahabat berpendapat seperti pendapat Umar, yaitu tidak memerangi mereka. Meski demikian, ketika Umar mengetahui bahwa Abu Bakar bersikeras untuk memerangi mereka, maka ia mengucapkan kata-katanya yang terkenal, yang menggambarkan ketsiqahan yang sempurna, “Demi Allah, tidak ada hal lain yang aku pahami kecuali Allah telah melapangkan dada Abu Bakar untuk memerangi (mereka). Karena itu, aku tahu bahwa dialah yang benar”

Andai Umar Radhiyallahu ‘Anhu tidak memiliki ketsiqahan dan ketaatan yang sempurna, maka jiwanya akan dapat memperdayakannya. Memperdaya bahwa dialah yang merasa benar, apalagi ia telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Allah telah menjadikan al-haq (kebenaran) pada lisan dan hati Umar”.

Alangkah butuhnya kita pada sikap seperti Umar Radhiyallahu ‘Anhu, saat terjadi perbedaan pendapat di antara kita, terutama untuk ukuran model kita yang tidak mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberikan rekomendasi kepada salah seorang di antara kita, bahwa kebenaran itu ada pada lisan dan hatinya.

Parameter tsiqah kepada qiyadah

Parameter ketsiqahan seorang anggota jamaah kepada qiyadahnya dijelaskan dengan gamblang oleh Hasan Al Banna rahimahullah sebagai berikut,” Sesungguhnya tsiqah kepada qiyadah merupakan segala-galanya bagi keberhasilan dakwah. Karenanya seorang aktifis yang tulus harus mengajukan beberapa pertanyaan berikut ini kepada dirinya sendiri untuk mengetahui sejauhmana ketsiqahan dirinya kepada qiyadahnya.
  1. Sudahkah mengenal pemimpinya dan mempelajari kondisi kehidupannya?
  2. Percayakah kepada kemampuan dan keikhlasannya?
  3. Siapkah menganggap setiap perintah yang diberikan pemimpin kepadanya – tentunya selama tidak bermaksiat – sebagai instruksi yang harus dilaksanakan tanpa reserved, tanpa ragu, tanpa mengurangi dan memberi komentar dengan disertai pengutaraan nasihat dan masukan untuk mencapai kebenaran?
  4. Siapkah menganggap dirinya salah dan pemimpinya benar jika terjadi pertentangan antara sikap pemimpin dan apa yang ia ketahui dalam masalah-masalah ijtihadiyah yang tidak ada nash yang qoth’i (tegas) dalam syariat?
  5. Siapkah meletakkan seluruh kehidupannya dalam kendali dakwah? Apakah dalam pandanganya pemimpin memiliki hak untuk mentarjih (menimbang dan memutuskan yang terkuat) antara kepentingan pribadi dan kepentingan dakwah secara umum?
Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas dan semisalnya, aktifis yang tulus dapat memastikan sejauhmana tingkat ketsiqahannya kepada qiyadah. 

Tsiqah harus bersifat mutabaadilah

Tsiqah itu harus bersifat timbal balik antara anggota dan qiyadah. Tsiqah itu tidak terjadi dengan sendirinya, maka perlu adab qoid terhadap anggota. Hasan Al Banna rahimahullah menyebut hal ini dengan tsiqah mutabaadilah.

Buah tsiqah timbal balik ini bagi anggota adalah ketaatan. Patuh dan taat terhadap pemimpin, selama tidak memerintahkan kepada perbuatan dosa adalah konsekuensi logis dalam berjamaah. Sementara buah tsiqah timbal balik bagi qoid adalah ketenangan dan keyakinan bahwa sebuah amanah iqomatuddin bisa berjalan dengan baik. Sebagaimana perhatian dan pengertian pemimpin terhadap keadaan anggotanya menjadi kewajiban sang pemimpin.

Hal – hal yang perlu dilakukan untuk memperkuat tsiqah kepada qiyadah

Berikut ini adalah sebagian hal yang diharapkan bisa menjadi media untuk membangun tsiqah mutabaadilah antara anggota dan qiyadah dalam sebuah jamaah.

a. Yang perlu dilakukan para anggota.

1. Mendahulukan husnuzhan dan menjauhi suuzhan.

Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al Hujuraat: 12

١٢. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضاً أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتاً فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

12. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

Imam Ja’far Ash Shodiq rahimahullah mengatakan,” “Jika engkau menjumpai sesuatu yang tidak engkau sukai dari perbuatan saudaramu, maka carilah satu, atau bahkan sampai tujuh puluh alasan, untuk membenarkan perbuatan saudaramu itu. Jika engkau masih belum mendapatkannya, maka katakanlah, “Semoga ia mempunyai alasan tertentu (kenapa berbuat demikian) yang aku tidak mengetahuinya.‘ ”

2. Bersikap disiplin dalam mengikuti program jamaah

3. Bersikap disiplin dalam mengikuti berbagai aturan dan prosedur yang telah disepakati dalam organisasi.

4. Teliti dalam menerima informasi, berita, isu dan semisalnya (konfirmasi dan klarifikasi).

Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al hujuraat: 6,

٦. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْماً بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

Kemudian dalam surat An Nisaa’: 83,

٨٣. وَإِذَا جَاءهُمْ أَمْرٌ مِّنَ الأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُواْ بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُوْلِي الأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلاَ فَضْلُ اللّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لاَتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلاَّ قَلِيلاً

83. dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).

5. Tidak menyebarluaskan kekurangan dan kelemahan qiyadahnya dan sebisa mungkin menutupinya. Dan bila mampu untuk memberikan pelurusan dan nasehat hendaklah dengan cara dan adab yang baik.

6. Menguatkan tingkat ‘adalah (kredibilitas) dan menjauhi hal-hal yang merusak ‘adalah dan sumber-sumber fitnah.

7. Senantiasa mendoakan para qiyadah dalam jamaah agar diberi keikhlasan, kesabaran, keistiqomahan, ‘afiyah, kemampuan dan berbagai kemudahan dalam menjalankan tugas-tugas kepemimpinanya, serta dijauhkan dari segala bentuk fitnah dan musibah.

b. Yang perlu dilakukan oleh qiyadah
  1. Bersikap husnudhhan kepada anggota tanpa meninggalkan kontrol dan menjauhi suudhan serta menuduh tanpa bukti.
  2. Terus meningkatkan tingkat ‘adalah (kredibilitas) dan menjauhi berbagai hal yang merusak ‘adalah dan sumber-sumber fitnah.
  3. Berusaha beradab dengan adab syar’i seorang pemimpin dalam menjalankan tugas kepemimpinanya semaksimal kemampuanya.
  4. Konsisten dengan berbagai aturan dan kebijakan yang telah ditetapkan agar tidak menimbulkan kebingungan.
  5. Bersikap disiplin dalam menjalankan komunikasi, edukasi, informasi dan motivasi (KIEM) serta senantiasa berusaha untuk terus memperbaiki mekanisme KIEM agar semakin lancar, efektif dan efisien.
  6. Tidak lupa untuk senantiasa mendoakan para anggota agar diberi taufik oleh Allah Ta’ala agar menjadi aggota jamaah dan pembantu yang baik dalam menjalankan tugas-tugas iqomatuddin.
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya. Apabila ada kebenaran maka itu karena rahmat dan fadhilah dari Allah Taala semata dan bila ada kesalahan dan penyimpangan maka itu dari penulis dan dari setan. Allah dan rasul-Nya berlepas diri darinya.

Berbagai sumber