Tujuan-Tujuan Tarbiyah Islamiyah

Ilustrasi
Oleh Cahayadi Takariawan

“Tarbiyah bukanlah segalanya. Tetapi segalanya tak bisa dicapai kecuali melalui tarbiyah” (Musthafa Masyhur)

Pada dasarnya Islam telah menjadikan tarbiyah (pendidikan) sebagai atensi yang dominan dalam kehidupan. Di antara bukti yang bisa diungkapkan adalah, banyaknya istilah Ar Rabb yang digunakan dalam Al Qur’an, yang menurut Ibnu Manzhur, diturunkan dari akar yang sama dengan kata tarbiyah.

Abul A’la Al Maududi menyatakan, “mendidik dan memberikan perhatian” adalah salah satu dari makna-makna implisit kata Rabb. Al Qurthubi berpendapat, kata Rabb dipakai untuk menggambarkan siapa saja yang melakukan sesuatu menurut cara yang sempurna.

Ar Razi membuat perbandingan antara Allah sebagai Murabi dan manusia sebagai murabi, menyatakan bahwa Allah sebagai Murabi -tidak seperti manusia- tahu betul segala kebutuhan yang dididikNya lantaran Dia adalah Dzat Pencipta.

“PerhatianNya tidak terbatas hanya pada sekelompok manusia; Allah memperhatikan dan mendidik seluruh makhluk dan karenanya kemudian digelari Rabbul Alamin”, lanjut Ar Razi.

Abdurrahman An Nahlawi berpendapat, ada tiga akar kata untuk istilah tarbiyah. Pertama, raba – yarbu yang maknanya bertambah dan berkembang. Kedua, rabiya – yarba sebagaimana wazan khafiya – yakhfa, yang bermakna tumbuh dan berkembang. Ketiga, rabba – yarubbu sesuai wazan madda – yamuddu, yang berarti memperbaiki, mengurusi, mengatur, menjaga dan memperhatikan.

Najib Khalid Al Amir dalam bukunya Min Asalibi Ar Rasul Fi At Tarbiyah, mengemukakan hal yang senada. Seterusnya Najib menambahkan, “Kata Ar Rabb ditujukan kepada Allah Swt yang artinya Tuhan segala sesuatu, raja dan pemiliknya, Tuhan yang ditaati, Tuhan yang memperbaiki”.

Penulis tafsir Anwarut Tanzil wa Asrarut Ta’wil, Imam Baidhawi, menyebutkan bahwa pada dasarnya kata Ar Rabb itu bermakna tarbiyah yang artinya menyampaikan sesuatu hingga mencapai kesempurnaannya setahap demi setahap. Senada dengan itu, penulis Al Mufradat, Ar Raghib Al Asfahani berpendapat bahwa Ar Rabb berarti tarbiyah yang bermakna menumbuhkan sesuatu setahap demi setahap hingga mencapai batas kesempurnaannya.

Berdasarkan makna itu, Abdurrahman Al Bani mengambil empat unsur penting dalam pendidikan. Pertama, menjaga dan memelihara fitrah obyek didik. Kedua, mengembangkan bakat dan potensi obyek didik sesuai kekhasan masing-masing. Ketiga, mengarahkan potensi dan bakat tersebut agar mencapai kebaikan dan kesempurnaan. Keempat, seluruh proses tersebut dilakukan secara bertahap.

Khalid Ahmad Asy Syantuh menyebutkan, tarbiyah merupakan sarana perombakan yang fundamental. “Sebab”, katanya, “ia mampu merombak jiwa manusia dari akar-akarnya”. Seluruh pribadi muslim harus mendapatkan sentuhan pembinaan untuk menghantarkan mereka menuju optimalisasi potensi, pengembangan kepribadian, peningkatan kapasitas diri menuju batas-batas kebaikan dan kesempurnaan dalam ukuran kemanusiaan.

Untuk lebih memahami hakikat tarbiyah yang lebih kongkrit dan aplikatif, Dr. Ali Abdul Halim Mahmud memaknai tarbiyah sebagai cara ideal dalam berinteraksi dengan fitrah manusia, baik secara langsung (kata-kata) maupun secara tidak langsung (keteladanan dan sarana-sarana lain) untuk memproses perubahan dalam diri manusia menuju kondisi yang lebih baik.

Segala sisi yang memungkinkan hasil tarbiyah menjadi lebih baik, perlu mendapat perhatian dari para da’i. Sebagaimana dikemukakan oleh Muhammad Quthb bahwa metodologi Islam dalam melakukan tarbiyah adalah dengan melakukan pendekatan yang menyeluruh terhadap wujud manusia, sehingga tidak ada yang tertinggal dan terabaikan sedikitpun, baik jasmani maupun ruhani, baik kehidupannya secara fisik maupun kehidupan secara mental, serta segala kegiatannya di bumi ini.

Bukan model pendidikan yang akan mematikan potensi dan memandulkan bakat manusia –yang jika pada wacana kritik pendidikan kapitalistik sering digambarkan oleh Paolo Freire sebagai proses dehumanisasi.

Muhammad Quthb menggambarkan proses tarbiyah dalam Islam seperti menggesek biola, “Ia menganalisa fitrah manusia itu secara cermat, lalu menggesek seluruh senar dan seluruh nada yang dimiliki oleh senar-senar itu, kemudian menggubahnya menjadi suara yang merdu”.

“Di samping itu ia juga menggesek senar-senar secara menyeluruh, bukan satu demi satu yang akan menimbulkan suara sumbang dan tak serasi. Tidak pula menggeseknya hanya sebagian dan mengabaikan bagian yang lain, yang menyebabkan irama tidak sempurna, dan tidak mengungkapkan irama yang indah sampai ke tingkat gubahan yang paling mengesankan”.

“Islam tidak hanya memberi konsumsi yang tepat pada setiap segi kemanusiaan, tetapi juga memberi takaran pada setiap bagian dengan tepat, tidak lebih dan tidak kurang. Setelah masing-masing menerima bagiannya secara tepat dengan takaran yang tepat pula, manusia bekerja dengan rajin, produktif dan aktif sepanjang hidupnya”, demikian ditulis oleh Muhammad Quthb mengenai proses tarbiyah Islamiyah.

Tujuan-tujuan Tarbiyah Islamiyah

Tujuan tertinggi dari proses tarbiyah, menurut Omar Mohammad Al Toumy Al Syaibany, bisa dirumuskan dengan beberapa rumusan berikut: perwujudan diri, persiapan untuk kewarganegaraan yang baik, pertumbuhan yang menyeluruh dan terpadu, serta persiapan untuk kehidupan dunia dan akhirat.

Dengan demikian, proses tarbiyah tengah menyiapkan anggotanya mencapai tujuan tertinggi tersebut, atau dalam bahasa Muhammad Quthb diistilahkan dengan ungkapan ringkas, “manusia yang baik”, sebagaimana ungkapan Al Qur’an:

“Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kalian adalah yang paling bertaqwa” (Al Hujurat: 13).

Tujuan Global

Secara global tujuan Tarbiyah Islamiyah, sebagaimana dituliskan Dr. Ali Abdul Halim Mahmud, adalah, “Menciptakan keadaan yang kondusif bagi manusia untuk hidup di dunia secara lurus dan baik, serta hidup di akhirat dengan naungan ridha dan pahala Allah swt”. Sedangkan rumusan tujuan rincinya adalah sebagai berikut:

1. Ibadah kepada Allah semata

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada Aku” (Adz Dzariyat: 56).

2. Tegaknya misi kekhalifahan di muka bumi

“Sesungguhnya Aku jadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi” (Al Baqarah: 30).

3. Saling kenal mengenal sesama manusia

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal” (Al Hujurat: 13)

4. Kepemimpinan

“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal shalih, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan mernjadi aman sentosa” (An Nur:55)

5. Komitmen dengan syari’at

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syari’at (peraturan) dan urusan (agama) itu, maka itulah syari’at itu” (Al Jatsiyah: 18)

“Hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan oleh Allah dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka. Berhati-hatilah kamu terhadap mereka supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan oleh Allah kepadamu” (Al Maidah: 49).

Tujuan Institusional

Selain dikenal tujuan global tarbiyah Islamiyah, ada pula tujuan institusional tarbiyah. Yang dimaksud dengan tujuan institusional adalah tujuan tarbiyah Islamiyah yang telah dilembagakan dalam konteks keorganisasian formal.

Secara garis besar ada dua, yaitu : Pertama, Tujuan Permanen (Al Ahdaf Ats Tsabitah), yakni upaya penerapan dan pencapaian tujuan Tarbiyah Islamiyah secara umum. Kedua, Tujuan Kontekstual (Al Ahdaf Al Mutaghayirah), yaitu upaya antisipasi berbagai nilai dan arus yang mewarnai masyarakat.

Yang dimaksud dengan tujuan-tujuan permanen (Al Ahdaf Ats Tsabitah) tarbiyah adalah tujuan yang relatif tetap dalam perjalanan kehidupan gerakan dakwah, terdiri dari:

1. Upaya mewujudkan tujuan-tujuan Tarbiyah Islamiyah, dari dataran konsep ke dataran realitas

a. Memberdayakan sumber daya manusia untuk dapat mengabdi kepada Allah
b. Menjalankan misi kekhalifahan di muka bumi dan membantu manusia untuk memahami tujuan ini
c. Menunaikan kewajiban ta’aruf antar kaum muslimin di suatu negeri, dan untuk selanjutnya di berbagai tanah air Islam
d. Bekerja untuk meraih kepemimpinan dengan pijakan nilai-nilai Rabbaniyah

2. Membantu sumber daya manusia -dengan berbagai perangkat- untuk merealisasikan tujuan-tujuan Tarbiyah Islamiyah

Adapun yang dimaksud dengan tujuan kontekstual (al ahdaf al mutaghayirah) adalah tujuan tarbiyah yang bersifat transformatif, menyesuaikan dengan kebutuhan, kondisi, situasi serta berbagai arus tantangan zaman yang terus berkembang. Secara global, tujuan kontekstual tarbiyah dirumuskan sebagai: upaya menghadapi perubahan arus nilai secara ilmiyah dan tepat sesuai ajaran Islam.

Banyak arus nilai yang harus dihadapi dengan landasan syari’at. Tarbiyah harus mampu memberikan sikap dan jawaban yang bijak dan tepat menghadapi berbagai macam arus tersebut. Sebagai contoh adalah arus pemikiran dan budaya, yang merembes melalui berbagai media massa dewasa ini.

Termasuk arus sistem nilai sosial, ekonomi dan politik, seperti Demokrasi, Komunisme, Sosialisme, Feminisme, Zionisme, ataupun Kapitalisme. Sebagaimana juga gerakan pemurtadan melalui Kristenisasi, atau pencemaran kemurnian Islam melalui berbagai gerakan dan teologi yang menyimpang dari Islam.

Sumber: ruangtarbiyah.com