Akrab tapi Tak Menginspirasi

Ilustrasi
Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Tak setiap keakraban dengan orangtua menjadikan anak memiliki rasa hormat dan keterikatan hati yang sangat kuat. Sering bertemu, bahkan menikmati waktu senggang bersama, tidak dengan sendirinya menjadikan anak tergugah oleh keyakinan orangtua. Benci sih tidak, tetapi anak tidak menyerap apa yang menjadi sikap, pendirian dan idealisme orangtua. Bukan karena orangtuanya tidak baik, bahkan boleh jadi orangtuanya sangat baik, tetapi kedua orangtua tidak secara sengaja menanamkan prinsip hidup (principles for living) dan keyakinan. Orangtua juga tidak mendorong anak mengambil keputusan hidup secara mandiri.

Ada perbedaan yang kadang tampak tipis, tetapi sebenarnya berbeda jauh antara memberi kepercayaan kepada anak untuk mengambil keputusan hidup secara mandiri dengan membiarkan anak mengambil keputusan dalam berbagai urusan hidup, bahkan hingga yang sangat penting. Orangtua yang memanfaatkan waktunya bersama anak untuk menanamkan prinsip hidup, keyakinan yang kokoh beriring dua hal, yakni membangun hubungan yang sangat dekat (bukan sekedar akrab) antara anak dan keluarga (bukan hanya dengan kedua orangtua) serta menumbuhkan sikap hormat kepada kedua orangtua, akan mendorong anak untuk menuju masa dewasa tanpa perlu mengalami krisis di masa-masa peralihan.

Bukankah masa remaja merupakan masa yang penuh gejolak? Tidak. Ada remaja yang dipenuhi gejolak, krisis identitas tak henti-henti mendera bahkan hingga masa yang seharusnya sudah dewasa seutuhnya. Tetapi ada remaja yang tidak perlu mengalami krisis identitas, tak merasakan keguncangan keyakinan. Justru di masa-masa ini anak semakin kuat idealismenya terhadap apa yang diyakini dan diimaninya.

Apakah idealisme itu? Keyakinan sangat kuat yang melahirkan dorongan untuk mewujudkan apa yang menjadi keyakinannya.

Keyakinan. Bukan sekedar pengetahuan, meskipun sangat luas. Ini menunjukkan bahwa yang diperlukan oleh orangtua adalah menanamkan keyakinan. Bukan sekedar mengajarkan pemahaman tentang keyakinan. Jalan yang memudahkan orangtua menanamkan keyakinan adalah kedekatan emosi antara anak dan orangtua. Tak sekedar akrab. Bukan berarti akrab tak penting. Sangat penting, bahkan. Tanpa keakraban, anak cenderung tak memiliki rindu pada orangtua. Jauh tak dinanti, dekat tak membahagiakan hati. Bukan berarti yang sangat jarang bertemu pasti tak ada kedekatan hati. Tetapi sekedar sering bertemu tidak dengan sendirinya membentuk ikatan batin yang kuat.

Maka jangan heran jika orangtua sering mengajak anak jalan-jalan atau makan di luar, tetapi anak tetap tidak menjadikan orangtua sebagai sosok panutan yang didengar kata-katanya. Di satu sisi anak senang bersama orangtua dan ingin menghargai sehingga mereka pun ingin membuat masalah dengan orangtua. Tetapi dalam berbagai hal, anak-anak itu dapat mengalami pertentangan dengan orangtua. Mereka berselisih jalan, berbeda pandangan dan berbenturan sikap.

Anak-anak seperti inilah yang ketika memasuki usia remaja akan cenderung mengalami krisis identitas. Komitmen mereka lemah atau tidak memiliki komitmen sama sekali. Mereka dapat termotivasi untuk meraih sukses, tetapi kerap beriring dengan kegalauan yang tinggi. Inilah anak-anak yang rawan.

Lalu apa yang diperlukan keakraban kita menumbuhkan kedekatan emosi dengan anak? Apa yang kita perhatikan agar saat-saat bersama bersama menjadi waktu yang senantiasa dinanti penuh rindu? Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan. Pertama, menjadikan waktu kita bersama mereka sebagai waktu yang berkualitas. Apa ukurannya? Ketergugahan anak (engagement) di saat ia bersama orangtua, melakukan kegiatan bersama. Bukan sekedar terlibat aktif (involvement). Apalagi hanya turut bersama-sama, duduk bersama-sama atau pun sama-sama makan di kegiatan yang disebut makan bersama.

Cukup? Tidak. Remaja yang di tidak mengalami krisis semenjak awal masa masa remaja hingga memasuki masa dewasa, erat kaitannya dengan pengalaman dibesarkan oleh orangtua yang mengarahkan anak secara sadar tentang prinsip-prinsip hidup (principles for living) dan keyakinan. Artinya, orangtua sengaja menciptakan kesempatan untuk berbincang dengan nyaman dan hangat mengenai hal-hal penting dalam hidup. Ini bisa melalui suasana santai, tetapi orangtua secara sengaja dan sepenuh sadar menanamkan prinsip hidup maupun keyakinan kepada agama ini.

Apakah ada orangtua yang tidak secara sengaja menanamkan prinsip hidup? Banyak. Sangat banyak bahkan. Boleh jadi karena kurang peduli, boleh jadi pula karena menganggap contoh yang ditunjukkan oleh orangtua telah cukup. Orangtua baru menasehati anaknya panjang lebar apabila terjadi kesalahan. Itu pun beriring kemarahan. Tanpa rifq (kelembutan dan keramahan), tanpa hilm (kelembutan yang menjadikan seseorang mampu menahan diri). Ini justru membuat nasehat tidak berbekas. Apalagi jika pada saat seperti itu, orangtua pun tidak menjelaskan dengan jernih dan memadai.

Orangtua kerap merasa telah menanamkan keyakinan, atau menganggap anaknya telah memahami hal-hal yang harus dipegangi dalam hidup, padahal anak tidak merasakannya. Bahkan boleh jadi anak tidak tersentuh sama sekali oleh prinsip-prinsip yang sangat diagungkan oleh orangtua.

Sebagian orangtua merasa telah memberi sebaik-baik pendidikan dengan memberikan “contoh nyata” kepada anak. Padahal teladan bukan hanya soal apa yang kita tunjukkan. Teladan juga berkait dengan apa yang dilihat dan dirasakan oleh anak sebagai hal penting bagi orangtua. Ia melihat orangtua senantiasa memperjuangkan sekaligus ia sering mendengar (hear) maupun mendengarkan (listen) dari orangtua mengenai hal tersebut. Orangtua meluangkan waktu bagi anaknya untuk menjelaskan dan menanamkan. Menjelaskan itu berhubungan dengan pemahaman, sementara menanamkan itu lebih mendasar lagi, yakni berkait dengan keyakinan.

Remaja yang mengalami krisis identitas diri sangat serius sehingga mudah terombang-ambing, mudah pula terpengaruh oleh hal-hal buruk semisal narkoba ataupun minuman keras, umumnya berasal dari latar belakang keluarga yang abai dengan penanaman keyakinan. Mereka sering berkumpul bersama, nonton TV bersama atau sama-sama duduk di ruang tengah menikmati teh sembari masing-masing sibuk dengan gadgetnya. Tetapi anak-anak itu tidak memiliki ikatan emosi yang kuat. Mereka dapat menghargai orangtua dalam sebagian urusan, tetapi bertentangan keras dalam berbagai hal lainnya. Orangtuanya boleh jadi orang yang baik, sangat baik bahkan, tetapi kebaikan itu tidak menggugah anak untuk menirunya. Ia tidak melihat orangtua sebagai sosok yang patut dibanggakan, sekurang-kurangnya dalam soal menyayangi anak.

Luangkan Waktu, Bukan Sekedar Punya Waktu

Belajar seharian di sekolah membuat anak capek. Ini tidak masalah asalkan anak tidak kelelahan secara mental. Capek itu obatnya istirahat. Atau sekedar mandi dan duduk rileks, sudah cukup untuk menghalau rasa capek. Di saat seperti itulah, kehadiran orangtua justru sangat penting. Hadir ketika anak sedang memulihkan penatnya membuat anak merasa dicintai. Perasaan inilah yang menumbuhkan rasa hormat. Sementara ketaatan akan lebih mudah muncul saat rasa hormat itu membekas kuat dalam diri anak. Di saat-saat seperti itulah kita dapat menanamkan sikap hidup dan keyakinan yang kuat melalui nasehat ringkas di sela-sela bincang dengan mereka. Jadi, bukan menghujani mereka dengan nasehat yang anak tahu kapan nasehat itu akan berhenti.

Jika orangtua memberikan umpan balik kepada anak terkait kegiatannya di sekolah atau apa yang menjadi sikapnya, anak merasa dihargai. Anak termotivasi, meskipun orangtua tampaknya tidak memberikan motivasi. Merasa didengarkan itu membangkitkan motivasi.

Sebaliknya jika orangtua tidak berbicara kepada anak kecuali saat anak berbuat kesalahan saja, atau ketika orangtua memerlukan bantuan semisal diambilkan air minum, maka dapat merasa sekolah full day sebagai tempat pembuangan. Jika ini terjadi, anak mungkin bergembira di sekolah, tetapi tidak menikmati kegiatan belajar. Anak hanya menikmati cara guru yang atraktif saat menerangkan. Cueknya orangtua juga dapat membuat kehilangan gairah belajar sehingga anak mudah mengalami kelelahan. Ini bukan karena beratnya beban belajar di sekolah, tetapi karena kurangnya dorongan.


***

Ketika malam terasa sudah sangat larut meski belum lama Isya', sementara anak-anak asyik bikin kue di dapur. 😊