Taklimat buat Para Pengkhianat

Ilustrasi
PersMuslim - Indah dalam gelimang pujian, duhai para penelikung sahabat. Berjaya dengan lawan meski harus melupakan kebaikan saudara sekeyakinan. Sayang duhai sayang, khianat itu tak indah di ujung hayat. Tanyalah pada Cai Mao dan Zhang Yun.

Dalam epos Tiga Kerajaan versi tafsiran John Woo di Red Cliff, dua laksamana asal Shu yang menyeberang ke Cao Cao itu ditebas sang jenderal besar lawan. Jenderal yang diidamkan untuk disetiai dengan bayangan hidup penuh kejayaan. Lain lagi Jiang Gan, ia harus meregang nyawa dalam jamuan tuak beracun. Cao Cao tak mau lagi dikhianati kedua kali oleh para pengkhianat atas kubu lawannya: Sun Quan-Liu Bei.

Derita khianat sungguh tak nyaman. Memejam malam pun mata enggan berkawan. Maka wajar bila Hulagu Khan pada 26 Februari 1258 selepas membantai Khalifah Abbasiyah terakhir dalam sejarah, al-Mustha'shim, segera mengeksekusi Wayir Khalifah. Dialah al-Alqami. Alqami berkhianat pada Khalifah bersama ilmuwan al-Thusi. Berbeda dengan Thusi yang dipakai jasanya oleh Hulagu, tidak demikian dengan Alqami.

Satu riwayat dari Ibn Katsir, ia meninggal tanpa dipenuhi kehormatan oleh Hulagu. Padahal, jasa Alqami terbilang amat besar: membocorkan rahasia, dan mengurangi pasukan Abbasiyah sebelum agresi Mongol, menyebabkan jatuhnya Baghdad dan pembasmian muslimin secara mengerikan.

Riwayat lain, versi Muhyiddin al-Khayyat, Alqami justru dibantai Hulagu tak lama setelah Khalifah Mustha'shim dan keluarganya dibunuh tanpa sisa. Bahkan Alqami menurut versi ini dibantai lebih bengis. Demikian ditulis ulang budayawan Abdul Hadi W. M. (2000) dalam "Islam: cakrawala estetik dan budaya" (halaman 257). Yang menarik adalah kata-kata Hulagu pada Alqami.

"Kamu pantas mendapat hukuman berat karena berkhianat kepada orang yang telah memberimu kedudukan istimewa!" Ujar Hulagu kepada Alqami, sebelum eksekusi maut.

Pembaca budiman, sungguh patik berkeberatan soal taklimat takmir-takmir masjid yang menolak menshlati muslimin yang menyokong penista agama dalam kasus di Jakarta. Sebab patik tak tak tahu akankah ada yang mengshalatkan mayat yang dicap berkhianat. Ini memang soal tak semata politik. Mungkin ada kesal yang amat Adang akibat ulah penguasa jalang yanh dibela muslim teranggap pengkhianat itu.

Hanya saja patik juga tak berhak melarang taklimat itu. Mereka mestilah sudah bernalar dan berpikir panjang. Termasuk kewajiban kifayah pada saudara seagama yang dicap khianat. Seturut taklimat senada, ada baiknya ada dakwah mengajak mereka yang berlaku semacam Jiang Gan. Ia lugu dan lapar belaka. Mau tukarkan aqidah dengan suara politik. Harap bedakan dengan pelaku akut ancam Alqami yang khianatnya membuat kekhilafahan runtuh.

Sembari berkeras tegas, sentuh mereka buat kita dekati. Agar ujung kematian mereka tak berarti kesunyatan. Kesepian berkawan para bedebah pemulut got. Mereka mungkin seperti Jiang Gan. Mau tobat meski nyaris telat. Di akhir hayat sesal hadir. Maka, jangan samakan dengan pemilik khianat sekelas Alqami.

Ini suara patik. Kalau kisanak punya suara hati lain, tak mengapa. Yang jelas: kita ganyang para kaum Alqami dari khazanah apa pun.