Jatuhnya Benteng Baghdad

Ilustrasi
PersMuslim - Diserbu mulai 26 Januari 1258, Baghdad di masa Khalifah al-Mustha’ashim akhirnya efektif jatuh 30 hari kemudian. Beberapa sumber menyebutkan beberapa pekan sebelumnya Baghdad sudah direbut dan dikuasai; hanya saja, pembantaian memang berlangsung tak kurang 30-40 hari. 

Baghdad, sebagai pusat kekhalifahan Abbasiyah, sebenarnya memiliki benteng pertahanan dan struktur perkotaan yang terbilang istimewa. Tertata api sebagai identitas kota berperadaban maju zaman itu. Pertahanan Abbasiyah memang tak serumit benteng pertahanan kaum Assasin atau benteng Konstantinopel, yang mengandalkan bentangan alam untuk dipecahkan terlebih dulu oleh para penyerbunya. Baghdad lain, ia ditopang kekuatan militer yang canggih. Namun di sisi inilah titik kelemahan juga. 

Wazir Abbasiyah, al-’Alqami, dan ilmuwan istana, Nasiruddin al-Tusi, ternyata diam-diam jadi pemecah kekuatan dari dalam. Al-‘Alqami sudah mempreteli kekuatan militer Baghdad di masa ayahanda al-Mustha’ashim, tinggal 10 ribu pasukan saja. Jumlah ini sudah diperhitungkan bakal ditaklukan oleh sekutu diam-diam al-’Alqami: Hulagu Khan. Demikian juga al-Tusi, diriwayatkan sang ilmuwan cerdas ini menyimpan dendam karena puak syiahnya dibantai anak Khalifah. Al-Tusi juga bermisi sama dengan sang wazir: memberikan bocoran ke Hulagu.

Dengan adanya bantuan orang dalam istana Khalifah itulah, kekokohan Baghdad tinggal cerita. Meski dipertahankan mati-matian, toh akhirnya Baghdad jatuh pula. Tidak siap dengan serangan Hulagu Khan yang memang berasal dari bangsa beringas lagi berkemauan keras. 

Dari artikel Barry C. Jacobsen di laman Scout(dot)com, termuat karya seniman tentang bentuk benteng Baghdad. Akan terlihat, kokohnya benteng perlu bantuan dari “dalam” buat menerobos. Dan inilah yang diperbuat dua orang tadi. Tampaknya Hulagu berikut dua pengkhianat Khalifah “belajar” dari kisah Tiga Kerajaan sekira sepuluh berabad sebelumnya. Dari Cao Cao yang membangun benteng kokoh dan menghadirkan para pengkhianat lawan buat dirinya. Sayangnya, ia luput dari taktik pengalihan dari arah belakang dan skema memutar angin. Hulagu Khan lebih sederhana, tertutupnya benteng cukup dengan memanfaatkan perpecahan dari istana, karena memang dari puak syiah sudah ada yang menawarkan jasa untuk mendukung agresi Mongol ke Baghdad. Bantuan dari kalangan terdidik bagi bangsa yang andalkan senjata dan kebengisan. 

Sayangnya, kejadian nyaris 760 tahun itu robohkan satu asas perdaban gemilang Islam. Dan inilah yang mesti bukan untuk diratapi kita; melainkan mesti untuk dijadikan ibrah. Termasuk dalam menjawab tantangan zaman kita: sekarang dan di sini.