Mahasiswa di Turki Pelajari Konsep Syariat Islam Aceh

PersMuslim - Seperti diberitakan atjehpost.co, Ikatan Masyarakat Aceh Turki (IKAMAT) menggelar seminar bertajuk Syariat Islam menuju Aceh bermartabat, di Istanbul, Minggu malam 23 November 2014. Kegiatan ini sebagai refleksi 12 tahun deklarasi Syariat Islam di Aceh.

Turut menghadirkan berbagai unsur yang terdiri para mahasiswa dan masyarakat khususnya Indonesia di Negeri AlFatih. Ada pula utusan lembaga dan utusan organisasi di se-antero Turki.

Sedangkan pembicara terdiri dari Perwakilan Nachlatul Ulama(NU) cabang Turki, Ilahiyat University dan perwakilan masyarakat Aceh.

Ummi Nurrahmah, Sekretaris Jenderal Pengurus IKatan Masyarakat Aceh Turki (IKAMAT), mengatakan kegiatan ini bertepatan 12 tahun pelaksanaan Syariat Islam.

"Bila mengacu pada bulan Muharram, maka ini tepat 12 tahun," ujar Ummi Nurrahmah.
 
Mayoritas peserta yang hadir dalam seminar Syariat Islam Aceh di Turki mengaku tertarik untuk mempelajari konsep Syariat Islam di Aceh. Pasalnya, pemberitaan media massa, terutama dari Eropa terhadap syariat Islam di Aceh dinilai masih cenderung negative.

“Masyarakat internasional harus melihat Aceh secara utuh, tidak parsial. Ada kerinduan mayarakat Aceh kembali ke masa kejayaan dulu dibawah syariat, tapi semangat menggebu itu kadang tidak disertai konsep yang matang, hingga masih ada kebijakan yang dipaksakan. Sementara disisi lain Aceh adalah daerah post conflict dan post disaster. Ekspektasi masyarakat Sangat besar kepada pemerintah tapi ini tidak mungkin cepat, butuh waktu,” kata Azwir Nazar, mewakili mahasiswa yang tampil dalam acara tersebut.

Kandidat doktor komunikasi yang berdomisili di Ibukota Ankara ini mengatakan dalam rentang 10 tahun ini telah ada perubahan. Termasuk ide membentuk roadmap syariat Islam, jadi bukan saja soal hukum yang menjadi konsen, tapi juga aspek lain seperti pemerintahan, ekonomi maupun pendidikan.

Sementara Syauqillah dari NU yang juga kandidat doktor ilmu politik, yang juga tampil sebagai pembicara lebih banyak menyorot Aceh dalam perspektif Politik dan dari sudut non Aceh.

Menurutnya syariat Islam di Aceh lebih kepada resolusi konflik. "Jadi dulu Aceh itu konflik, dan tsunami memaksa kedua pihak berdamai. Dan syariat Islam sebagai upaya resolusi konflik,” ujarnya.

Syauqillah juga mengingatkan bahwa faktör ekonomi dan kesehahteraan sangat penting bagi Aceh karena sudah jauh tertinggal dari daerah lain pasca perang. "Ini PR bagi teman teman Aceh dan kita semua bagaimana Syariat Islam harus mampu mensejahterakan Rakyat," ujarnya.

Sesi akhir, Muhammad Taufik memaparkan riset tentang respon mahasiswa terhadap syariat di Aceh. Umumnya mereka sangat setuju tapi banyak soalan tentang implementasi di lapangan.

“Disamping lemahnya sosialisasi pemerintah akan pelaksaan syariat terutama di luar Aceh, sehingga sering diberitakan miring dan sangat merugikan,” kata Taufik.

Ada banyak pertanyaan muncul dalam seminar berdurasi 4 jam tersebut, seperti peranan wanita dalam pelaksanaan syariat, bagaimana pelaksanaan syariat bagi non Muslim dan madzhab yang berbeda, dan penegakan hukum Islam dalam koridor hukum positif di Indonesia.